KABARBURSA.COM – PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO) mengumumkan perubahan status operasional salah satu anak usahanya di Singapura, CPP Intertrade Pte Ltd, yang tengah menjalani proses penghapusan badan hukum atau striking off. Langkah ini disampaikan melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada Senin, 16 Maret 2026.
Sekretaris Perusahaan CPRO Farah Reza Praditya menyampaikan bahwa entitas tersebut telah menerima pemberitahuan pendaftaran proses striking off dari Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA) Singapura. Mekanisme ini merupakan prosedur administratif yang dilakukan untuk membubarkan perusahaan yang tidak lagi beroperasi.
Dalam proses tersebut, perusahaan akan dibubarkan apabila tidak terdapat keberatan dari pihak mana pun hingga batas waktu yang ditentukan. Batas waktu penyampaian keberatan ditetapkan hingga 15 Maret 2026.
Manajemen menyampaikan bahwa hingga 16 Maret 2026 tidak terdapat keberatan dari pihak mana pun terhadap rencana penghapusan badan hukum tersebut. Dengan demikian, proses striking off telah diterima secara hukum sesuai ketentuan yang berlaku di Singapura.
Saat ini perusahaan masih menunggu pemberitahuan final dari otoritas setempat terkait penyelesaian proses pembubaran tersebut.
Manajemen menegaskan bahwa langkah tersebut tidak berdampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangan konsolidasi perusahaan. CPP Intertrade Pte Ltd disebut belum pernah memulai kegiatan operasional sejak entitas tersebut didirikan.
Penutupan entitas ini juga disebut sebagai bagian dari upaya perusahaan dalam memastikan penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance di lingkungan usaha CPRO.
Seiring dengan pengumuman tersebut, pergerakan saham CPRO pada perdagangan Senin menunjukkan dinamika yang relatif terbatas di pasar reguler Bursa Efek Indonesia.
Hingga sesi perdagangan berlangsung, saham CPRO berada di level 53 atau turun sekitar satu poin setara 1,85 persen dibandingkan harga penutupan sebelumnya di level 54.
Sepanjang sesi perdagangan, saham CPRO dibuka di level 54 dan bergerak dalam rentang harga 52 hingga 54. Harga tertinggi tercatat di level 54 sementara harga terendah berada di level 52 dengan rata-rata harga transaksi di kisaran 53.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sekitar 669 ribu lot dengan nilai transaksi sekitar Rp3,5 miliar. Frekuensi transaksi tercatat sekitar 899 kali sepanjang sesi perdagangan.
Data antrean perdagangan menunjukkan akumulasi permintaan relatif besar berada di level harga 52 hingga 53. Pada level harga 52 tercatat antrean bid sekitar 590.466 lot, sementara pada level 53 terdapat antrean sekitar 60.864 lot.
Di sisi penawaran, lapisan offer terbesar terlihat pada level harga 54 dengan antrean sekitar 205.205 lot. Penawaran juga muncul pada level harga lebih tinggi seperti 55 hingga 57 dengan volume ratusan ribu lot.
Secara keseluruhan, total antrean bid tercatat sekitar 2.099.401 lot dengan frekuensi sekitar 899 kali. Sementara total antrean offer berada di kisaran 1.623.755 lot dengan frekuensi sekitar 929 kali.
Pergerakan tersebut terjadi dengan batas atas auto rejection (ARA) di level 72 serta batas bawah auto rejection (ARB) di level 50 pada perdagangan saham CPRO di Bursa Efek Indonesia.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.