Logo
>

Jejak BSI di Dubai Jadi Modal Indonesia Pimpin Ekonomi Syariah B57+

Ekspansi BSI di Dubai dinilai menjadi fondasi penting bagi ambisi Indonesia memimpin ekosistem ekonomi syariah B57+.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Jejak BSI di Dubai Jadi Modal Indonesia Pimpin Ekonomi Syariah B57+
Gedung Dubai International Financial Centre (DIFC) di Dubai, Uni Emirat Arab, yang menjadi lokasi kantor perwakilan BSI Dubai. Kehadiran BSI di salah satu pusat keuangan dan sukuk global ini dinilai menjadi pijakan awal Indonesia dalam membangun konektivitas likuiditas dan ekosistem ekonomi syariah lintas negara melalui platform B57+. Foto: Dok. BSI.

KABARBURSA.COM – Penunjukan Jakarta sebagai kantor pusat regional atau Regional Headquarters platform Business 57 Plus (B57+) untuk Asia-Pasifik bukanlah sebuah kebetulan geografis. Jauh sebelum seremoni peresmian dilakukan pada awal Februari lalu, Indonesia melalui PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) telah meletakkan batu pertama kedaulatan finansialnya di jantung ekonomi Timur Tengah. Lokasi itu tepat berada di Dubai.

Langkah strategis BSI yang telah mengantongi izin kantor cabang penuh atau full branch di Uni Emirat Arab (UEA) kini menjadi instrumen paling rasional untuk mengeksekusi misi besar B57+ dalam mengoneksikan likuiditas 57 negara anggota OKI.

Optimalisasi kantor cabang BSI di Dubai yang digagas sejak era kepemimpinan Hery Gunardi pada 2022 lalu, kini menjadi aset vital bagi kepemimpinan Anggoro Eko Cahyo dalam menyambut ekosistem B57+. Dengan lisensi penuh, BSI memiliki fleksibilitas dalam trade finance, sindikasi internasional, hingga menjadi jembatan investasi global (arranging and advising).

"Peningkatan kantor cabang ini tidak hanya memperkuat posisi BSI di Timur Tengah, tetapi juga meningkatkan kapasitas kami untuk menawarkan layanan komprehensif kepada nasabah di Dubai," ungkap manajemen BSI, dikutip dari laman bankbsi.co.id, Sabtu, 9 Mei 2026.

Dengan potensi pangsa pasar ekspor-impor mencapai USD4-5 miliar, BSI diposisikan sebagai "pemain tengah" yang menjamin arus modal dari negara-negara Teluk mendarat dengan aman di proyek-proyek strategis Indonesia, selaras dengan semangat Indonesia Incorporated.

Visi Arsjad Rasjid: Ekonomi Syariah adalah Gotong Royong

Kesiapan infrastruktur perbankan BSI ini sejalan dengan visi Arsjad Rasjid, Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia yang sekaligus Ketua Umum B57+. Bagi Arsjad, ekonomi syariah jangan berhenti pada sekadar label agama, tapi harus menjadi ekosistem inklusif yang ia sebut sebagai wujud nyata "Ekonomi Pancasila".

Dalam berbagai kesempatan, Arsjad menekankan bahwa dengan 200 juta penduduk Muslim, Indonesia memiliki modal sosial terbesar untuk menjadi pemimpin pasar halal dunia. Namun, ia juga mengingatkan potensi saja tidak cukup tanpa kolaborasi global.

"Kalau kita tidak berpartisipasi dengan diskusi internasional, nanti ketinggalan kita … Inggris saja lebih jago Syariah Financing-nya," tutur Arsjad dalam sebuah diskusi bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dikutip dari laman kadin.id.

Melalui B57+, Arsjad bisa menutup celah tersebut dengan mendorong inclusive collaboration—sebuah kerja sama yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang, serta mengintegrasikan kekuatan UMKM lokal ke dalam rantai pasok global.

Komitmen Indonesia di kancah global juga diperkuat melalui kehadiran BSI dalam forum internasional seperti COP28 di Dubai. Keterlibatan sektor keuangan syariah dalam isu perubahan iklim membuktikan bahwa visi B57+ dan BSI selaras dengan tren investasi global yang kini bergeser ke arah Green Finance.

Dukungan strategis yang sebelumnya diinisiasi oleh Kementerian BUMN, kini mendapatkan akselerasi baru seiring masuknya bank-bank pelat merah, termasuk BSI, ke dalam payung koordinasi Danantara Indonesia. Sebagai Super Holding atau Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia, Danantara memposisikan BSI bukan lagi sekadar entitas perbankan domestik, melainkan instrumen investasi strategis global.

Dalam ekosistem Danantara, peran BSI di Dubai mengalami eskalasi fungsi. BSI tidak hanya memfasilitasi ekspansi pengusaha lokal, tetapi juga menjadi ujung tombak Danantara dalam menjaring investasi skala besar dari dana abadi (Sovereign Wealth Funds) negara-negara anggota B57+, khususnya dari kawasan Teluk. Sinergi ini mempertegas bahwa BSI adalah kendaraan finansial utama Indonesia untuk mengorkestrasi likuiditas Timur Tengah masuk ke dalam proyek-proyek strategis nasional yang dikelola Danantara.

Integrasi antara infrastruktur perbankan BSI di UEA dengan visi kolaboratif B57+ di bawah pimpinan Arsjad Rasjid menandai tahap baru kehidupan ekonomi Indonesia. Jika selama ini Indonesia hanya menjadi pasar, kini melalui simpul B57+ di Jakarta, Indonesia siap bertransformasi menjadi dirigen ekonomi syariah Asia-Pasifik.

Ke depan, tantangan bagi BSI dan platform B57+ adalah memastikan bahwa "karpet merah" yang telah digelar di Dubai benar-benar mampu membawa produk-produk unggulan Indonesia mendominasi pasar global, sekaligus menjaga kedaulatan finansial bangsa di tengah ketidakpastian dunia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).