Logo
>

Laba INTP Melonjak, Mesin Bisnis Inti Justru Melemah

Laba bersih INTP melampaui ekspektasi berkat divestasi, namun pendapatan dan margin tertekan seiring penurunan volume penjualan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Laba INTP Melonjak, Mesin Bisnis Inti Justru Melemah
Laba bersih INTP memang tercatat naik. namun tekanan operasional membuat pendapatan perusahaan turun hingga 8 persen. (Foto: dok Indocement Tunggal Prakarsa)

KABARBURSA.COM – Kinerja PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sepanjang 2025 menghadirkan dua lapisan cerita yang bergerak berlawanan arah antara laporan laba bersih dan kondisi operasional di lapangan. 

Di permukaan, angka laba terlihat kuat dan bahkan melampaui ekspektasi pasar, namun ketika dibedah lebih dalam, sumber pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya berasal dari aktivitas inti.

Pada kuartal IV 2025, INTP mencatat laba bersih sebesar Rp1,18 triliun, melonjak 25 persen secara tahunan dan 109 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Lonjakan ini mendorong total laba bersih sepanjang 2025 mencapai Rp2,24 triliun, naik 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui konsensus yang berada di kisaran Rp1,78 triliun.

Namun peningkatan tersebut tidak berdiri dari kinerja operasional yang menguat. Sumber utama lonjakan laba berasal dari pos pendapatan lain-lain yang melonjak signifikan menjadi Rp656 miliar pada kuartal IV, dibandingkan hanya Rp8 miliar pada kuartal sebelumnya. 

Angka ini berkaitan dengan divestasi 60 persen saham PT Mortar Prakarsa Utama senilai Rp670 miliar, yang memberikan kontribusi besar terhadap laba bersih periode tersebut.

Ketika komponen non-operasional ini dikeluarkan, gambaran kinerja berubah cukup drastis. Laba bersih yang disesuaikan diperkirakan hanya berada di kisaran Rp1,6 triliun sepanjang 2025, turun sekitar 21 persen secara tahunan dan berada di bawah ekspektasi pasar. 

Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan laba yang terlihat secara headline tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan bisnis inti.

Tekanan Operasional dan Profitabilitas

Tekanan operasional terlihat jelas pada sisi pendapatan dan margin. Pendapatan INTP pada kuartal IV tercatat Rp4,81 triliun, turun 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, pendapatan turun 4 persen menjadi Rp17,73 triliun, sejalan dengan penurunan volume penjualan yang juga turun 4 persen.

Dari sisi profitabilitas, tekanan terlihat pada margin yang mengalami penurunan. Margin laba usaha turun menjadi 15,4 persen pada kuartal IV dari sebelumnya 18,6 persen, sementara secara tahunan turun menjadi 11,8 persen dari 12,6 persen. Penurunan ini mencerminkan melemahnya operating leverage di tengah volume yang tidak tumbuh.

Meski demikian, terdapat perbaikan secara kuartalan yang mulai terlihat. Laba usaha pada kuartal IV naik 5 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi Rp741 miliar, dengan margin yang sedikit membaik dari 14,5 persen menjadi 15,4 persen. 

Pergerakan ini menunjukkan adanya stabilisasi jangka pendek, meskipun secara tahunan tren masih berada dalam tekanan.

Di sisi biaya, beban pokok penjualan turun seiring penurunan volume, namun tidak cukup untuk menjaga margin tetap stabil. ASP tercatat turun tipis sekitar 2 persen, sementara biaya per ton relatif datar, sehingga ruang ekspansi margin menjadi terbatas.

Pergerakan Saham INTP

Masuk ke pergerakan saham, respons pasar terhadap kombinasi data ini terlihat cenderung negatif dalam jangka pendek. Pada perdagangan terakhir, saham INTP ditutup di level 5.125, turun 3,76 persen atau terkoreksi 200 poin dari penutupan sebelumnya di 5.325. 

Harga sempat dibuka di 5.300 dan tidak mampu bergerak lebih tinggi, dengan level tertinggi tetap di area pembukaan sebelum tekanan jual muncul hingga menyentuh level terendah di 5.125.

Struktur orderbook memperlihatkan tekanan jual yang cukup dominan di sisi atas. Antrian offer terlihat berlapis dari 5.150 hingga 5.375, sementara sisi bid cenderung lebih tipis dan bertahap turun hingga 4.960. 

Total antraan bid tercatat sekitar 9.190 lot dibandingkan dengan offer sekitar 4.281 lot, namun distribusi harga menunjukkan tekanan di area resistance masih cukup kuat.

Frekuensi transaksi yang mencapai 490 kali dengan nilai transaksi sekitar Rp5,1 miliar menunjukkan aktivitas yang cukup aktif, namun belum mencerminkan adanya akumulasi besar yang mampu menahan tekanan harga. 

Rata-rata harga transaksi di 5.163 juga berada di atas harga penutupan, menandakan tekanan jual lebih dominan menjelang akhir sesi.

Dengan kombinasi kinerja keuangan dan pergerakan saham tersebut, INTP saat ini berada dalam fase di mana pasar mulai membedakan antara kualitas laba dan sumbernya. Lonjakan laba bersih memang tercatat secara kuat, tetapi tekanan pada sisi operasional tetap menjadi faktor yang diperhitungkan dalam pembentukan harga saham di pasar.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79