Logo
>

Laba Summarecon (SMRA) Turun 44 Persen di 2025, Saham Bergerak di 326–334

Pendapatan SMRA turun menjadi Rp8,76 triliun pada 2025 dari Rp10,62 triliun tahun sebelumnya. Saham bergerak terbatas di kisaran 326–334 dengan nilai transaksi sekitar Rp4,5 miliar.

Ditulis oleh Yunila Wati
Laba Summarecon (SMRA) Turun 44 Persen di 2025, Saham Bergerak di 326–334
Pendapatan perusahaan Summarecon Agung menyusut 44 persen, seiring pelemahan tipis pada harga saham. (Foto: Dok SMRA)

KABARBURSA.COM – Kinerja keuangan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan penurunan laba bersih seiring melemahnya pendapatan perusahaan properti tersebut. 

Sementara, pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026, saham SMRA bergerak relatif terbatas di tengah publikasi laporan keuangan tahunan tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2025 dan dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp766,55 miliar. 

Realisasi tersebut turun sekitar 44,18 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp1,37 triliun.

Penurunan laba ini terjadi seiring turunnya pendapatan perusahaan sepanjang tahun lalu. SMRA mencatat pendapatan neto sebesar Rp8,76 triliun pada 2025, yang lebih rendah dibandingkan Rp10,62 triliun pada 2024.

Dari sisi struktur biaya, beban pokok penjualan dan beban langsung tercatat sebesar Rp4,36 triliun pada 2025. Angka tersebut turun dibandingkan Rp5,16 triliun pada tahun sebelumnya. Dengan demikian, laba kotor perusahaan mencapai Rp4,39 triliun, dan lebih rendah dibandingkan laba kotor Rp5,46 triliun pada 2024.

Penurunan tersebut juga tercermin pada laba usaha yang tercatat sebesar Rp2,58 triliun sepanjang 2025. Sementara pada tahun sebelumnya, laba usaha perusahaan masih berada di level Rp3,73 triliun.

Laba sebelum pajak final dan pajak penghasilan juga mengalami penurunan menjadi Rp1,62 triliun dari Rp2,46 triliun pada 2024. Setelah dikurangi beban pajak final sebesar Rp380,12 miliar serta pajak penghasilan neto Rp37,30 miliar, laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp1,20 triliun. Lagi-lagi angkanya lebih rendah dibandingkan Rp1,84 triliun pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp766,55 miliar. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai Rp1,37 triliun.

Penurunan kinerja tersebut juga tercermin pada laba per saham dasar yang tercatat sebesar Rp46,43 per saham pada 2025. Di mana pada tahun sebelumnya, laba per saham dasar perusahaan tercatat sebesar Rp83,19 per saham.

Di sisi lain, posisi neraca perusahaan menunjukkan peningkatan skala aset. Total aset SMRA pada akhir 2025 tercatat sebesar Rp38,34 triliun, meningkat dibandingkan Rp33,53 triliun pada akhir 2024.

Total liabilitas perusahaan juga meningkat menjadi Rp22,33 triliun dari Rp19,70 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, total ekuitas tercatat sebesar Rp16,00 triliun pada akhir 2025, meningkat dibandingkan Rp13,83 triliun pada akhir 2024.

Seiring dengan publikasi kinerja tersebut, pergerakan saham SMRA pada perdagangan hari ini menunjukkan fluktuasi dalam rentang yang relatif terbatas. Hingga sesi perdagangan berlangsung, saham SMRA diperdagangkan di level 330 atau turun sekitar dua poin, setara dengan 0,60 persen dibandingkan harga penutupan sebelumnya di level yang sama.

Sepanjang sesi perdagangan, saham SMRA dibuka di level 332 dan sempat bergerak mencapai level tertinggi di 334 sebelum turun hingga menyentuh level terendah di 326. Rata-rata harga transaksi tercatat di kisaran 329.

Aktivitas perdagangan pada sesi tersebut mencatat volume sekitar 137.400 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp4,5 miliar. Pergerakan ini terjadi dengan rentang batas atas auto rejection (ARA) di level 414 dan batas bawah auto rejection (ARB) di level 284.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79