KABARBURSA.COM – Di tengah penurunan kinerja operasional yang mulai terlihat pada laporan keuangan terbaru, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) justru tetap melanjutkan pembagian dividen kepada pemegang saham.
Sepanjang tahun buku 2025, GJTL mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,24 triliun, naik tipis 4,7 persen dibandingkan Rp1,18 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini tidak sepenuhnya berasal dari pertumbuhan operasional, melainkan terbentuk di tengah penurunan penjualan bersih yang turun 2 persen menjadi Rp17,66 triliun dari Rp18,03 triliun.
Tekanan lebih terlihat pada sisi profitabilitas. Laba kotor turun 8,4 persen menjadi Rp3,55 triliun dari Rp3,88 triliun, mencerminkan margin yang tergerus meskipun beban pokok penjualan relatif stabil di kisaran Rp14,11 triliun.
Beban operasional juga tidak banyak berubah, namun penurunan signifikan pada beban keuangan sebesar 33,7 persen menjadi Rp454 miliar menjadi salah satu faktor yang menahan penurunan laba lebih dalam.
Selain itu, perusahaan juga mencatatkan keuntungan selisih kurs sebesar Rp96 miliar, berbalik dari rugi Rp34,8 miliar pada tahun sebelumnya. Kombinasi penurunan beban keuangan dan keuntungan kurs ini menjadi penopang utama yang menjaga laba tetap tumbuh, meskipun tekanan pada sisi penjualan dan margin tetap terlihat.
Dari sisi neraca, perubahan struktur juga mulai terbaca. Total aset meningkat 5,4 persen menjadi Rp21,67 triliun, namun komposisinya menunjukkan pergeseran. Aset lancar justru turun 5,9 persen menjadi Rp8,79 triliun, seiring penurunan kas dan setara kas dari Rp1,04 triliun menjadi Rp925 miliar.
Sebaliknya, aset tidak lancar meningkat 14,8 persen menjadi Rp12,88 triliun, didorong oleh kenaikan aset tetap bersih yang mencapai Rp10,56 triliun. Di sisi liabilitas, total kewajiban naik tipis menjadi Rp11,21 triliun, namun terjadi lonjakan signifikan pada liabilitas jangka panjang yang meningkat 92 persen menjadi Rp5,90 triliun, terutama berasal dari utang bank jangka panjang.
Struktur ini berjalan beriringan dengan peningkatan ekuitas menjadi Rp10,46 triliun dari Rp9,46 triliun, yang sebagian besar ditopang oleh kenaikan saldo laba menjadi Rp8,15 triliun. Dengan struktur tersebut, perusahaan tetap mempertahankan kemampuan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham.
Dividen Rp50 per Saham
Untuk tahun buku 2024, GJTL menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp174,22 miliar atau setara 14,75 persen dari laba bersih. Setiap pemegang saham akan menerima Rp50 per saham, dengan estimasi yield sekitar 4,48 persen berdasarkan harga saham di level Rp1.115 per saham.
Di antara penerima dividen tersebut, nama Lo Kheng Hong menjadi salah satu yang menonjol. Investor individu ini tercatat menggenggam 191,48 juta saham GJTL per akhir Juni 2025. Dengan kepemilikan tersebut, dividen yang diterima mencapai sekitar Rp9,57 miliar.
Kepemilikan ini juga menunjukkan kesinambungan akumulasi yang dilakukan sebelumnya. Pada Mei 2025, Lo Kheng Hong menambah sekitar 2,43 juta saham, kemudian kembali membeli 595.700 saham pada Juni 2025. Rangkaian pembelian ini berlangsung menjelang periode pembagian dividen.
Di sisi pasar, pergerakan saham GJTL menunjukkan respons yang relatif positif dalam jangka pendek. Pada perdagangan terakhir, saham ditutup di level 1.085 atau menguat 4,33 persen, setelah bergerak dalam rentang intraday antara 1.040 hingga 1.090.
Volume perdagangan tercatat sebesar 121,67 ribu lot dengan nilai transaksi mencapai Rp13,1 miliar, sementara rata-rata harga berada di kisaran 1.074. Aktivitas ini menunjukkan likuiditas yang tetap terjaga, meskipun secara fundamental tekanan masih terlihat pada sisi operasional.
Ketika data kinerja, struktur keuangan, dan distribusi dividen disandingkan, terlihat bahwa GJTL berada dalam fase yang tidak sepenuhnya linear. Di satu sisi, laba masih mampu tumbuh dan dividen tetap dibagikan, namun di sisi lain tekanan pada pendapatan, margin, serta peningkatan liabilitas jangka panjang membentuk dinamika yang berjalan bersamaan di dalam struktur perusahaan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.