Logo
>

Laba TPMA Susut 32 Persen, Saham Tertahan di 600, Apa yang Terjadi?

Pendapatan melemah, beban keuangan melonjak, struktur utang naik, sementara harga saham bergerak fluktuatif di bawah tekanan jual.

Ditulis oleh Yunila Wati
Laba TPMA Susut 32 Persen, Saham Tertahan di 600, Apa yang Terjadi?
Laba bersih TPMA turun hingga 32 persen, begitu pula dengan harga sahamnya yang tertahan di 600. (Foto: dok Trans Power Marine)

KABARBURSA.COM – Penurunan kinerja keuangan PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) sepanjang 2025 mulai tercermin sejalan dengan pergerakan sahamnya yang cenderung tertahan di kisaran 600. 

Di tengah tekanan laba yang menyusut signifikan, aktivitas perdagangan saham menunjukkan pola fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek. Data ini membuka gambaran bahwa tekanan fundamental berjalan beriringan dengan respons pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026 hingga pukul 11.23 WIB, saham TPMA tercatat di level 600 atau turun 0,83 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 605. Sepanjang sesi, harga bergerak dalam rentang 595 hingga 610, dengan tekanan jual yang terlihat sejak pembukaan di level tertinggi hari itu. 

Pergerakan ini menempatkan harga berada di bawah level pembukaan dan mencerminkan dominasi tekanan di sisi atas.

Dari sisi valuasi, TPMA diperdagangkan dengan rasio price to earnings (P/E) sebesar 5,83 kali dan kapitalisasi pasar sekitar Rp2,10 triliun. Posisi ini berada jauh di bawah level tertinggi 52 minggu di 750, dengan batas bawah di 505, yang menunjukkan ruang pergerakan yang masih lebar dalam satu tahun terakhir. 

Dividend yield yang tercatat 13,33 persen menjadi salah satu indikator distribusi kas, dengan dividen kuartalan sebesar 20 per saham.

Laba Bersih Turun 32 Persen

Penurunan harga saham berjalan seiring dengan pelemahan kinerja keuangan sepanjang 2025. Laba bersih tercatat turun 32 persen secara tahunan menjadi USD19,96 juta dari USD29,33 juta pada 2024. 

Penurunan ini terjadi dalam kondisi pendapatan yang ikut melemah dan tekanan biaya yang meningkat di berbagai pos.

Pendapatan TPMA sepanjang 2025 tercatat sebesar USD113,4 juta atau turun hampir 5 persen dibandingkan USD119,1 juta pada tahun sebelumnya. Dalam periode yang sama, beban langsung justru meningkat dari USD76,52 juta menjadi USD81,02 juta. 

Kombinasi penurunan pendapatan dan kenaikan biaya ini mempersempit ruang margin operasional perusahaan.

Laba bruto mengalami koreksi lebih dalam, turun 24 persen menjadi USD32,39 juta dari USD42,55 juta pada 2024. Penurunan ini mencerminkan tekanan langsung pada profitabilitas inti perusahaan. 

Kondisi tersebut semakin tertekan dengan kenaikan beban keuangan yang mencapai USD6,2 juta atau meningkat 44 persen dibandingkan USD4,3 juta pada tahun sebelumnya.

Dampak lanjutan terlihat pada total penghasilan komprehensif yang turun 32 persen menjadi USD19,33 juta dari USD28,59 juta. Laba per saham ikut terkoreksi menjadi USD0,0051 dari sebelumnya USD0,0082. Angka ini menunjukkan penurunan distribusi laba terhadap pemegang saham dalam satu tahun buku.

Dari sisi arus kas, aktivitas operasi masih mencatatkan kas bersih sebesar USD36,9 juta, meskipun turun 12,5 persen dari USD42,2 juta pada 2024. Penurunan ini menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan kas dari aktivitas utama mengalami tekanan sejalan dengan pelemahan kinerja laba. Sementara itu, aktivitas investasi mencatat arus keluar sebesar USD57,7 juta, lebih rendah dibandingkan USD96,9 juta pada tahun sebelumnya.

Pada sisi pendanaan, arus kas masuk tercatat sebesar USD18,6 juta, turun signifikan dibandingkan USD56,6 juta pada 2024. Perubahan ini menunjukkan adanya penyesuaian dalam strategi pembiayaan perusahaan. Pergerakan arus kas ini menggambarkan dinamika likuiditas yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari struktur neraca, total aset meningkat 15 persen menjadi USD285,7 juta dari USD247,9 juta. Namun, peningkatan ini diiringi lonjakan liabilitas sebesar 37 persen menjadi USD135,7 juta. Di sisi lain, ekuitas hanya naik tipis 0,6 persen menjadi USD149,95 juta.

Perbandingan antara pertumbuhan liabilitas dan ekuitas menunjukkan perubahan struktur permodalan dalam satu tahun terakhir. Kenaikan utang yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekuitas menjadi bagian dari dinamika keuangan yang terjadi sepanjang periode tersebut. 

Data ini memberikan gambaran utuh mengenai kondisi fundamental yang berjalan bersamaan dengan pergerakan saham di pasar.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79