KABARBURSA.COM – Minat investor terhadap instrumen utang PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) melonjak tajam di tengah dinamika pasar energi yang masih bergejolak. Dalam proses bookbuilding, permintaan terhadap obligasi dan sukuk yang ditawarkan perseroan membengkak, jauh melampaui target awal.
Tingginya minat ini mencerminkan respons pasar yang tidak biasa terhadap instrumen pendanaan emiten ini.
Total permintaan investor tercatat mencapai sekitar Rp5,46 triliun atau sekitar 6,8 kali dari target penerbitan sebesar Rp800 miliar. Permintaan terhadap obligasi konvensional mencapai Rp2,58 triliun atau 8,61 kali dari target Rp300 miliar.
Sementara itu, permintaan terhadap sukuk wakalah tercatat sebesar Rp2,88 triliun atau 5,76 kali dari target Rp500 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa minat tidak hanya terfokus pada satu instrumen, tetapi tersebar merata pada kedua skema pembiayaan yang ditawarkan.
Struktur penerbitan akhirnya ditetapkan berada pada target awal, dengan obligasi sebesar Rp300 miliar dan sukuk wakalah Rp500 miliar. Obligasi diterbitkan dalam tenor 5 tahun dengan kupon 7,95 persen dan tenor 7 tahun sebesar 8,50 persen.
Untuk sukuk wakalah menawarkan imbal hasil yang sama di tenor serupa, dengan pembayaran dilakukan secara triwulanan. Komposisi ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan pendanaan dan struktur biaya yang disesuaikan dengan kondisi pasar saat ini.
Dana hasil penerbitan akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pendanaan perusahaan, termasuk cash call dalam pengembangan aset di wilayah kerja Jabung dan Cepu, serta untuk refinancing pinjaman bank eksisting.
Dengan struktur tersebut, penggunaan dana tidak hanya diarahkan untuk ekspansi, tetapi juga untuk penguatan struktur permodalan melalui penyesuaian profil utang.
Penerbitan ini juga didukung oleh peringkat idA untuk obligasi dan idA(sy) untuk sukuk wakalah dari PEFINDO. Peringkat ini menempatkan instrumen yang diterbitkan dalam kategori layak investasi dengan tingkat risiko yang relatif terkendali, yang menjadi salah satu faktor yang mendukung tingginya minat investor dalam proses penawaran awal.
Pergerakan Saham dalam Tekanan Terbatas
Di sisi pasar saham, pergerakan RATU pada perdagangan terbaru menunjukkan tekanan yang relatif terbatas. Saham ditutup di level 5.050 atau turun tipis 0,49 persen dari posisi sebelumnya di 5.075, dengan rentang pergerakan harian antara 4.970 hingga 5.175.
Nilai transaksi tercatat sekitar Rp71 miliar dengan volume 14,12 ribu lot, mencerminkan likuiditas yang tetap terjaga di tengah sentimen positif dari sisi pendanaan.
Struktur antrean menunjukkan dinamika yang cukup aktif di kedua sisi pasar. Total antrean beli tercatat 12.713 lot dengan frekuensi 566, sementara antrean jual mencapai 17.724 lot dengan frekuensi 599.
Lapisan offer terlihat lebih tebal pada level harga di atas 5.050 hingga 5.200, sementara bid menumpuk di area 5.000 hingga 4.950, mencerminkan adanya tarik-menarik antara minat beli di bawah dan tekanan jual di atas.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa sentimen positif dari oversubscription instrumen utang belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi dorongan harga saham dalam jangka pendek.
Namun, tingginya permintaan investor terhadap obligasi dan sukuk menunjukkan adanya persepsi risiko yang terukur terhadap profil bisnis dan arus kas perseroan, terutama dalam konteks pengelolaan aset energi.
Dengan demikian, dinamika yang terjadi pada RATU memperlihatkan dua lapisan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, pasar utang menunjukkan respons yang sangat kuat terhadap instrumen yang diterbitkan.
Di sisi lainnya pergerakan saham masih bergerak dalam fase konsolidasi, mencerminkan proses penyesuaian yang berlangsung di tengah masuknya sentimen pendanaan baru tersebut.(*)