Logo
>

Penjualan Tumbuh Tajam, Laba Menyusut: Anak Usaha ERAA Terjepit Margin

Pendapatan Sinar Eka Selaras naik tajam, tetapi lonjakan beban operasional dan tekanan arus kas membuat laba justru turun.

Ditulis oleh Yunila Wati
Penjualan Tumbuh Tajam, Laba Menyusut: Anak Usaha ERAA Terjepit Margin
Penjualan iPhone 17 dongkrak keuangan anak usaha ERAA. (Foto: dok Erajaya Swasembada)

KABARBURSA.COM – Lonjakan penjualan belum tentu berujung pada penguatan laba, dan itulah yang tercermin dalam kinerja PT Sinar Eka Selaras Tbk, entitas usaha milik grup ERAA, sepanjang 2025. 

Di tengah ekspansi agresif yang mendorong pertumbuhan pendapatan dua digit, tekanan biaya justru membentuk arah berbeda pada profitabilitas. Data ini memperlihatkan bagaimana pertumbuhan top line berjalan tidak seiring dengan bottom line.

Sepanjang 2025, Sinar Eka Selaras membukukan penjualan sebesar Rp6,49 triliun, meningkat signifikan dari Rp4,84 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan ekspansi distribusi dan peningkatan aktivitas bisnis yang lebih luas dalam satu tahun terakhir. 

Namun, pada saat yang sama, beban pokok penjualan juga naik tajam menjadi Rp5,40 triliun dari Rp4,18 triliun.

Kondisi tersebut membuat ruang margin menjadi lebih terbatas, meskipun secara nominal laba bruto tetap meningkat menjadi Rp1,09 triliun dari Rp657,25 miliar. Peningkatan ini tidak sepenuhnya mengalir ke laba bersih karena tekanan lanjutan muncul dari sisi operasional. 

Beban penjualan dan distribusi melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp538,27 miliar dari Rp251,40 miliar.

Di sisi lain, beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp324,19 miliar dari Rp210,74 miliar. Kenaikan beban ini membatasi pertumbuhan laba usaha yang hanya naik tipis menjadi Rp241,70 miliar dibandingkan Rp230,25 miliar pada tahun sebelumnya. 

Pergerakan ini menunjukkan bahwa ekspansi bisnis diikuti oleh peningkatan biaya operasional yang cukup signifikan.

Beban Keuangan Membengkak

Tekanan juga berlanjut pada sisi non-operasional, di mana beban keuangan meningkat menjadi Rp22,82 miliar. Selain itu, kontribusi dari entitas asosiasi dan ventura bersama mencatatkan rugi sebesar Rp3,12 miliar. 

Kombinasi faktor ini mendorong laba sebelum pajak turun menjadi Rp230,69 miliar dari Rp256,87 miliar.

Pada akhirnya, laba bersih tahun berjalan tercatat sebesar Rp169,30 miliar, turun sekitar 15,9 persen dibandingkan Rp201,34 miliar pada 2024. Penurunan ini terjadi dalam kondisi pertumbuhan penjualan yang tetap tinggi, menunjukkan adanya perubahan struktur biaya yang memengaruhi hasil akhir perusahaan.

Dari sisi neraca, total aset meningkat menjadi Rp3,09 triliun dari Rp2,56 triliun. Kenaikan ini berjalan seiring dengan peningkatan liabilitas yang lebih tinggi, yaitu menjadi Rp1,32 triliun dari Rp931,43 miliar. Sementara itu, ekuitas tercatat naik menjadi Rp1,76 triliun dari Rp1,63 triliun.

Perubahan struktur ini menunjukkan adanya ekspansi yang didukung oleh peningkatan pendanaan. Namun, posisi kas dan setara kas justru turun tajam menjadi Rp164,82 miliar dari Rp540,34 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan ini berkaitan dengan tingginya aktivitas investasi dan pendanaan sepanjang periode berjalan.

Arus Kas ERAA

Dari laporan arus kas, aktivitas operasi menghasilkan Rp130,54 miliar, turun dari Rp326,27 miliar pada 2024. Aktivitas investasi mencatat arus keluar sebesar Rp245,95 miliar, yang digunakan untuk belanja aset tetap, aset hak guna, serta investasi obligasi. 

Sementara itu, arus kas pendanaan juga mencatatkan arus keluar Rp260,10 miliar, dipengaruhi oleh pembayaran dividen, liabilitas sewa, serta penurunan pinjaman.

Struktur kepemilikan saham menunjukkan dominasi PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dengan porsi 80 persen, diikuti kepemilikan publik sebesar 19,99 persen. Komposisi ini mencerminkan kendali mayoritas tetap berada di induk usaha, dengan ruang partisipasi publik yang relatif terbatas.

Di sisi lain, kinerja ERAA sebagai induk usaha menunjukkan arah yang berbeda. Berdasarkan riset MNC Sekuritas, ERAA mencatat laba bersih sekitar Rp1,2 triliun pada 2025 atau tumbuh 15,8 persen secara tahunan. 

Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan pendapatan yang mencapai Rp76,6 triliun atau naik 17,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penjualan iPhone 17 Pendorong Utama

Kinerja tersebut didukung oleh lonjakan penjualan pada kuartal IV yang mencatat peningkatan laba hampir 90 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Momentum ini terjadi pada periode akhir tahun yang menjadi fase dengan kontribusi penjualan terbesar. 

Produk seperti iPhone 17 series dan iPhone Air disebut menjadi pendorong utama, bersamaan dengan pertumbuhan penjualan aksesoris dan perangkat elektronik lain yang meningkat lebih dari 30 persen.

Perbandingan ini memperlihatkan perbedaan dinamika antara entitas anak dan induk usaha dalam periode yang sama. Di satu sisi, ERAA mencatat pertumbuhan laba yang lebih kuat dengan dukungan siklus penjualan akhir tahun. 

Di sisi lain, Sinar Eka Selaras menghadapi tekanan margin di tengah ekspansi yang lebih agresif.

Keseluruhan data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan tidak selalu berjalan seiring dengan penguatan laba, terutama ketika struktur biaya mengalami perubahan yang signifikan. Pergerakan ini menjadi bagian dari dinamika kinerja keuangan yang terjadi dalam ekosistem bisnis yang sama sepanjang 2025.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79