KABARBURSA.COM – Di tengah tekanan kinerja keuangan yang semakin dalam, saham PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) justru bergerak ke arah yang berbeda. Kerugian yang melebar sepanjang 2025 tidak menghalangi masuknya minat beli dari investor besar, yang perlahan mulai mengubah arah perhatian pasar terhadap emiten ini.
Sepanjang tahun buku 2025, CBRE mencatatkan rugi bersih sebesar Rp70,35 miliar, meningkat 36 persen dibandingkan rugi Rp51,66 miliar pada 2024. Pelebaran kerugian ini terjadi seiring dengan penurunan pendapatan menjadi Rp55,16 miliar dari Rp62,17 miliar, di tengah beban yang tetap tinggi.
Beban pokok pendapatan hanya turun tipis menjadi Rp53,65 miliar, yang membuat laba bruto anjlok tajam 74,9 persen menjadi Rp1,52 miliar.
Tekanan tidak berhenti pada level operasional. Beban lain-lain melonjak signifikan 107 persen menjadi Rp20,14 miliar, sementara beban keuangan meningkat 31,4 persen menjadi Rp19,28 miliar.
Dengan struktur tersebut, rugi usaha membengkak menjadi Rp50,42 miliar, dan rugi sebelum pajak mencapai Rp69,69 miliar sebelum akhirnya ditutup dengan rugi komprehensif Rp70,21 miliar.
Aset Naik Diiringi Utang Membengkak
Di sisi neraca, ekspansi perusahaan tercermin dari lonjakan total aset yang meningkat 501 persen menjadi Rp2,01 triliun, terutama berasal dari kenaikan aset tetap menjadi Rp1,94 triliun. Namun, peningkatan ini berjalan beriringan dengan lonjakan liabilitas yang mencapai Rp1,96 triliun atau naik 805 persen secara tahunan.
Utang jangka panjang dari pihak ketiga bahkan muncul signifikan menjadi Rp923 miliar dari posisi nihil pada tahun sebelumnya, sementara ekuitas turun 60 persen menjadi Rp46,91 miliar.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa ekspansi yang dilakukan CBRE berjalan dengan dukungan pendanaan berbasis utang yang cukup besar.
Di sisi arus kas, aktivitas pendanaan mencatatkan arus positif Rp86,93 miliar yang menopang posisi kas akhir tahun menjadi Rp14,3 miliar, naik dari Rp3,25 miliar pada 2024.
Investor Besar Tambah Kepemilikan Saham
Di tengah tekanan fundamental tersebut, pergerakan saham CBRE justru mencatatkan penguatan. Pada perdagangan 25 Maret 2026, saham ditutup naik 13 persen ke level Rp850.
Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan aksi pembelian yang dilakukan oleh investor besar Andry Hakim, yang menambah kepemilikan sekitar 2 juta saham pada 13 Maret 2026.
Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan Andry Hakim meningkat menjadi sekitar 230 juta saham atau setara 5,07 persen dari sebelumnya 5,02 persen. Pola pembelian bertahap ini mencerminkan strategi akumulasi yang kerap dilakukan investor besar dalam periode menjelang aksi korporasi.
Sentimen tersebut juga berkaitan dengan rencana right issue yang telah dirilis perusahaan, serta arah ekspansi ke sektor offshore. Dukungan dari pemain industri seperti Hilong dan Gunanusa, serta potensi proyek di blok Hidayah, menjadi bagian dari narasi yang berkembang di pasar.
Selain itu, kenaikan harga minyak global turut menjadi faktor yang ikut diperhitungkan dalam prospek bisnis ke depan.
Analisis Teknikal
Dari sisi teknikal, pergerakan saham CBRE saat ini berada dalam fase konsolidasi. Area resistance berada di level Rp930, sementara support berada di kisaran Rp740. Pergerakan harga yang cenderung sideways menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase penyesuaian, meskipun minat beli mulai terlihat muncul dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Kombinasi antara tekanan kinerja keuangan, ekspansi berbasis utang, serta munculnya akumulasi oleh investor besar membentuk dinamika yang tidak berjalan dalam satu arah.
Di satu sisi, laporan keuangan mencerminkan tekanan yang masih berlangsung, sementara di sisi lain pergerakan saham mulai menangkap sentimen yang berkembang dari aksi korporasi dan perubahan struktur bisnis yang sedang berjalan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.