KABARBURSA.COM — Perubahan iklim yang dipicu oleh perilaku manusia kembali menunjukkan wajah paling telanjangnya. Tahun 2025 resmi tercatat sebagai salah satu dari tiga tahun terpanas sepanjang sejarah pengamatan ilmiah. Panas itu tidak datang sebagai kejutan tunggal, melainkan sebagai akumulasi dari kebiasaan lama manusia yang tak kunjung berubah.
Untuk pertama kalinya, rata-rata suhu global selama tiga tahun berturut-turut menembus ambang batas 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa praindustri. Angka ini bukan sekadar statistik. Batas itu sebelumnya disepakati dalam Perjanjian Paris 2015 sebagai garis pengaman terakhir agar pemanasan global tidak berubah menjadi bencana yang sulit dikendalikan. Para ilmuwan sepakat, menjaga Bumi tetap di bawah batas itu berarti menyelamatkan nyawa dan mencegah kehancuran lingkungan berskala global.
Temuan ini disampaikan para peneliti dari World Weather Attribution dalam laporan yang dirilis Selasa waktu Eropa. Analisis tersebut lahir setelah satu tahun penuh ketika berbagai belahan dunia diguncang cuaca ekstrem yang semakin brutal, dari gelombang panas mematikan hingga badai dan banjir yang datang tanpa ampun.
Yang membuat situasinya kian mengkhawatirkan, suhu tetap melambung meski fenomena La Nina hadir. La Nina biasanya membawa efek pendinginan alami dari Samudra Pasifik dan memengaruhi cuaca global. Namun kali ini, pendinginan itu nyaris tak terasa. Para peneliti menunjuk satu biang keladi yang terus berulang, yakni pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara yang memuntahkan gas rumah kaca ke atmosfer.
“Jika kita tidak menghentikan pembakaran bahan bakar fosil dengan sangat, sangat cepat, dalam waktu dekat, akan sangat sulit mempertahankan target pembatasan pemanasan global itu,” ujar Friederike Otto, salah satu pendiri World Weather Attribution dan ilmuwan iklim dari Imperial College London, dikutip dari Associated Press, Selasa, 6 Januari 2026.
Cuaca ekstrem kini bukan lagi anomali langka. Setiap tahun, ribuan orang kehilangan nyawa dan kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar akibat dampak langsung perubahan iklim. Para ilmuwan WWA mencatat setidaknya 157 peristiwa cuaca ekstrem paling parah sepanjang 2025. Kriterianya jelas, mulai dari korban jiwa lebih dari 100 orang, dampak terhadap lebih dari separuh populasi suatu wilayah, hingga penetapan status darurat oleh pemerintah. Dari jumlah itu, 22 peristiwa dianalisis lebih dalam.
Gelombang panas menempati posisi paling mematikan. WWA menyebutnya sebagai bentuk cuaca ekstrem paling berbahaya sepanjang 2025. Beberapa gelombang panas yang diteliti bahkan disebut sepuluh kali lebih mungkin terjadi dibanding satu dekade lalu, semata-mata akibat perubahan iklim.
“Gelombang panas yang kita amati tahun ini sebenarnya sudah menjadi kejadian yang cukup umum dalam iklim saat ini, tetapi hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia. Dampaknya sangat besar,” katanya
Di belahan dunia lain, dampak itu hadir dalam wujud yang berbeda-beda. Kekeringan berkepanjangan memicu kebakaran hutan besar di Yunani dan Turki. Hujan deras dan banjir bandang di Meksiko menewaskan puluhan orang dan membuat banyak lainnya hilang. Super Typhoon Fung-wong menghantam Filipina, memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi. Sementara hujan monsun di India memicu banjir dan longsor yang meluas.
Menurut WWA, frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem yang terus meningkat mulai melampaui kemampuan jutaan orang untuk beradaptasi. Para ilmuwan menyebutnya sebagai batas adaptasi, kondisi ketika peringatan dini, waktu persiapan, dan sumber daya tidak lagi cukup untuk merespons bencana. Badai Melissa menjadi contoh nyata. Badai ini menguat terlalu cepat, membuat prakiraan dan perencanaan tak siap, lalu menghantam Jamaika, Kuba, dan Haiti hingga negara-negara pulau kecil itu kewalahan menanggung kerusakan dan kerugian.
Di tingkat global, upaya politik tak selalu berjalan seiring dengan urgensi ilmiah. Perundingan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Brasil pada November lalu berakhir tanpa rencana tegas untuk meninggalkan bahan bakar fosil. Meski ada janji tambahan pendanaan bagi negara-negara untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim, realisasinya diperkirakan masih memakan waktu panjang.
Banyak pejabat dan analis kini mengakui bahwa pemanasan global hampir pasti akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius. Namun sebagian ilmuwan tetap menyimpan harapan bahwa tren tersebut masih bisa dibalik, meski jalannya kian sempit. Masalahnya, kemajuan setiap negara berjalan timpang.
China, misalnya, bergerak cepat mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, namun di saat bersamaan masih menanamkan investasi besar di sektor batu bara. Di Eropa, cuaca ekstrem yang kian sering memicu desakan aksi iklim, meski sejumlah negara menilai kebijakan itu berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Sementara di Amerika Serikat, pemerintahan Trump justru mengarahkan kebijakan menjauh dari energi bersih dan kembali mendukung industri batu bara, minyak, dan gas.
“Cuaca geopolitik tahun ini sangat mendung. Banyak pembuat kebijakan secara terang-terangan membuat kebijakan demi kepentingan industri bahan bakar fosil, bukan untuk kepentingan masyarakat negaranya. Di saat yang sama, kita juga dibanjiri misinformasi dan disinformasi,” kata Otto.
Andrew Kruczkiewicz, peneliti senior di Columbia University Climate School yang tidak terlibat dalam riset WWA, menilai dunia kini menghadapi jenis bencana yang sebelumnya jarang terjadi. Peristiwa ekstrem semakin cepat menguat dan semakin kompleks, sehingga menuntut sistem peringatan dini yang lebih cepat serta pendekatan baru dalam respons dan pemulihan.
“Dalam skala global, memang ada kemajuan. Tapi kita harus berbuat lebih banyak,” katanya.
Cerita panas ekstrem, badai, dan banjir ini menunjukkan satu benang merah. Krisis iklim bukan ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini. Di tengah tarik-menarik kepentingan politik dan ekonomi, sains terus mengirimkan pesan yang sama, waktu terus berjalan, dan pilihan yang diambil manusia hari ini akan menentukan seberapa berat beban yang harus ditanggung generasi berikutnya.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.