KABARBURSA.COM – Aksi ambil untuk atau profit-taking menggerus harga logam mulia pada perdagangan Jumat waktu setempat, 16 Januari 2026. Secara intraday, emas spot turun lebih dari 1 persen ke harga USD4.536,49 per ons, sebelum stabil di kisaran USD4.592,29. Kontrak berjangka emas AS juga turun 0,6 persen ke USD4.594,40.
Jika dilihat secara mingguan, emas memang masih membukukan kenaikan 1,9 persen. Dan penurunan kali ini bukan dipicu oleh perubahan fundamental, melainkan normalisasi usai lonjakan agresif.
Harga emas sempat menyentuh puncak sepanjang masa (ATH) di USD4.642,72 pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026, sehingga wajar jika kemudian memicu aksi ambil untuk.
Sinyal Kenaikan Mulai Pudar
Sementara itu, jika dilihat dari sentimen geopolitik yang biasanya menjadi faktor utama daya tarik emas, mulai pudar. Ketegangan di Timur Tengah mereda setelah protes Iran surut. Sementara, Presiden AS Donald Trump memilih pendekatan wait and see dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengambil peran sebagai moderator.
Namun penting dicatat, bahwa meski tekanan geopolitik mereda, pasar tidak sepenuhnya berubah menjadi risk-on. Justru yang terjadi adalah penyesuaian selektif. Permintaan struktural terhadap emas sebagai aset lindung nilai masih ada.
Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi terhadap the Fed masih mendukung emas dalam jangka menengah. Data LSEG menunjukkan pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan sepanjang paruh pertama 2026.
Bank Sentral sepertinya baru akan melakukan pemangkasan pertama sebesar 25 basis poin pada Juni. Lingkungan suku bunga yang stabil inilah yang secara historis menguntungkan emas. Inilah sebabnya, meski turun harian, emas masih mencatatkan kenaikan mingguan dan tetap berada di level yang sangat tinggi.
Pernyataan Edward Meir dari Marex bahwa emas masih berpeluang menuju USD5.000 di tahun ini, mungkin saja terjadi. Meski diselingi koreksi tajam, tren besar masih naik. Volatilitas menjadi bagian dari proses, bukan anomali.
Logam Mulia Lainnya Anjlok
Tidak hanya emas, pergerakan logam mulia lainnya juga menunjukkan tekanan kuat. Perak jatuh hampir 3 persen ke USD89,65 per ons. Padahal, sehari sebelumnya perak mencetak rekor sepanjang masa di USD93,57 per ons.
JP Morgan sempat menyoroti kombinasi risiko yang mulai menekan perak. Mulai dari melonggarnya pasokan di luar AS, arus keluar dari ETF, permintaan industry yang melemah, hingga pengetatan aturan perdagangan di China.
Ini menjadi sinyal bahaya, karena perak memang tidak hanya bergantung pada sentimen safe haven, tetapi juga pada siklus industri global.
Platina dan paladium serupa. Platina turun lebih dari 3 persen ke USD2.330,67 per ons, sementara paladium melemah 0,6 persen ke USD1.790,78.(*)