Logo
>

Kehilangan Daya Dorong, STOXX 600 Berakhir Stagnan

Sektor mewah dan tambang menekan indeks, sementara pasar mulai mempertanyakan valuasi dan kehilangan margin of safety di tengah meredanya ketegangan geopolitik serta dimulainya musim laporan keuangan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Kehilangan Daya Dorong, STOXX 600 Berakhir Stagnan
Ilustrasi suasana bursa Eropa. Foto: AI untuk KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Pergerakan bursa Eropa pada perdagangan Jumat, 16 Januari 2026, berakhir stagnan. Indeks STOXX 600 ditutup di level 614,36. Bursa Eropa seperti kelelahan, tanpa ada daya dorong yang kuat atau kejutan besar.

Tekanan terbesar datang dari sektor barang mewah dan pertambangan. Indeks saham mewah anjlok 3,2 persen, mencatat penurunan harian terburuk sejak awal Oktober. Ini bukan sekadar koreksi biasa, melainkan refleksi dari perubahan cara investor membaca valuasi. Richemont yang terjun 5,4 persen menjadi contoh paling jelas. 

Penurunan ini dipicu oleh downgrade dari BofA Global Research, yang menilai valuasi saham sudah terlalu mahal setelah reli sebelumnya. Dalam bahasa pasar, ini adalah sinyal bahwa fase “membayar mahal untuk pertumbuhan” mulai dipertanyakan.

Hal ini sejalan dengan komentar Michael Field dari Morningstar, bahwa saham Eropa tidak lagi murah, tetapi juga belum benar-benar mahal. Masalahnya, margin of safety sudah menghilang dan ini sangat krusial.

Dalam fase awal reli, investor membeli karena valuasi menarik. Dalam fase menengah, mereka bertahan karena momentum. Namun ketika valuasi sudah penuh dan momentum mulai melambat, pasar menjadi sangat sensitif terhadap berita negatif sekecil apa pun.

Meskipun begitu, secara mingguan STOXX 600 masih mencatat kenaikan untuk pekan kelima berturut-turut, terpanjang sejak Mei 2025. Ini menunjukkan bahwa tren menengah masih positif. Namun reli ini dibangun di atas faktor-faktor yang kini mulai memudar. 

Penguatan sebelumnya ditopang oleh saham berbasis komoditas, terutama karena lonjakan harga logam mulia safe haven dan minyak mentah akibat ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dan Venezuela. 

Ketika ketegangan tersebut mulai mereda pada Jumat, saham-saham pertambangan langsung tertekan, turun 1,9 persen. Ini mengonfirmasi bahwa sebagian besar reli sebelumnya adalah reli berbasis sentimen, bukan murni berbasis fundamental.

Pola ini penting, karena reli berbasis sentimen cenderung cepat dan rapuh. Ketika narasi risiko memudar, saham yang sebelumnya diuntungkan oleh ketegangan global justru menjadi beban. Inilah yang terlihat pada Jumat: sektor yang sebelumnya menjadi mesin penggerak, kini menjadi sumber tekanan.

Saham-saham yang Bergerak Naik

Namun, pasar tidak sepenuhnya negatif. Saham pertahanan naik 1 persen, mencerminkan bahwa investor belum sepenuhnya menurunkan kewaspadaan geopolitik. Artinya, meskipun tensi mereda, risiko belum dianggap benar-benar hilang. Ini menciptakan pasar yang kontradiktif: sebagian sektor mulai dilepas, sebagian lain justru diburu.

Sektor kesehatan menjadi titik terang. Novo Nordisk melonjak 6,5 persen setelah analis menilai peluncuran awal pil penurun berat badan Wegovy menunjukkan respons yang menggembirakan. Persetujuan regulator Inggris untuk dosis lebih tinggi, serta kenaikan target harga oleh Berenberg, memperkuat sentimen positif. 

Kenaikan indeks kesehatan sebesar 0,6 persen menunjukkan bahwa pasar masih bersedia membayar mahal untuk cerita pertumbuhan yang jelas dan konkret, bukan sekadar narasi makro.

Namun secara agregat, musim laporan keuangan menjadi sumber kecemasan baru. Berdasarkan data LSEG, laba kuartal IV diperkirakan turun 4,1 persen secara tahunan, dengan sektor konsumer siklikal menjadi yang paling terpukul. 

Pergerakan saham-saham individual semakin menegaskan pasar yang selektif. HSBC turun 0,4 persen setelah mengumumkan tinjauan strategis bisnis asuransi di Singapura. Ini bukan berita buruk secara fundamental, tetapi menunjukkan bahwa bank besar sedang dalam fase restrukturisasi, bukan ekspansi.

Sebaliknya, Kongsberg Gruppen melonjak 9,5 persen setelah beberapa pialang menaikkan target harga, menegaskan bahwa saham-saham dengan eksposur geopolitik masih diminati.

Jika disimpulkan, performa bursa Eropa saat ini berada dalam fase transisi. Tren naik jangka menengah masih utuh, tetapi tenaga pendorongnya mulai melemah. Pasar tidak lagi bergerak karena undervaluation, melainkan karena momentum yang semakin tipis. Ketika momentum mulai memudar, volatilitas biasanya meningkat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79