Logo
>

Harga Brent dan WTI Naik, Pasar Pilih Bertahan

Kenaikan Brent dan WTI lebih dipicu sentimen defensif jelang libur panjang dan risiko geopolitik, bukan lonjakan permintaan, sementara pasar mulai kembali menimbang isu kelebihan pasokan global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga Brent dan WTI Naik, Pasar Pilih Bertahan
Deretan rig pengeboran ini membentuk apa yang dikenal sebagai pengembangan kubus di Cekungan Permian. Foto: Dok. ExxonMobil.

KABARBURSA.COM – Harga Brent dan WTI di perdagangan global mengalami kenaikan. Namun, kenaikan kali ini bukan didorong oleh lonjakan permintaan, melainkan sikap pasar yang memilih bertahan agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar.

Pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat waktu setempat, 16 Januari 2026, Brent ditutup di level USD64,13 per barel, naik 0,58 persen. Sementara, WTI menguat 0,42 persen ke USD59,44.

Sentimen geopolitik tetap menjadi layar utama. Pasar yang khawatir akan kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran, menjadi penyebab utama melonjaknya harga. Ditambah kehadiran kapal induk AS USS Abraham Lincoln yang dijadwalkan masuk ke Teluk Persia pada pekan depan, memberikan nuansa waspada.

Namun, reaksinya tidak lebih kuat dibandingkan hari sebelumnya. Pada awal pekan, harga minyak sempat menembus level tertinggi dalam beberapa bulan. Hal ini dipicu protes Iran setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memberi sinyal potensi serangan militer.

Tetapi reli tersebut runtuh pada Kamis, 15 Januari 2026, dengan WTI dan Brent kehilangan lebih dari 4 persen. Pernyataan Trump yang menyebut penindakan ke Teheran mulai mereda, menjadi penyebabnya.

Fokus pasar masih berada pada Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperempat pasokan minyak global melalui jalur laut. Jika ada saja sedikit potensi gangguan di wilayah ini, secara otomatis langsung menambah premi risiko ke harga minyak.

Namun, seperti disampaikan analis Commerzbank, selama tidak ada tanda-tanda eskalasi yang berkelanjutan, focus pasar akan kembali ke isu lama, yaitu oversupply.

Minyak Venezuela dan Kelebihan Pasokan

Berbicara tentang pasokan, maka kasus Venezuela masih layak diperbincangkan. Phil Flynn dan Price Future Group menekankan bahwa ekspektasi lonjakan pasokan dari Venezuela sejauh ini memag berlu terwujud sebesar yang dikhawatirkan

Pandangan ini diperkuat oleh banyak analis, yang melihat bahwa 2026 ini berpotensi menjadi tahun dengan pasokan yang relatif longgar. Meskipun risiko geopolitik masih sering muncul, keseimbangan dasar pasar menunjukkan ketersediaan minyak masih cukup.

Selama permintaan dari China tidak meledak dan gangguan besar dalam arus fisik minyak tidak terjadi, menurut Priyanka Sachdeva dari Phillip Nova, harga minyak cenderung bergerak terbatas.

Hal ini terlihat jelas dalam proyeksi kisaran harga Brent yang ada di rentang USD57 – USD67. Rentang ini mencerminkan pasar yang tidak yakin akan skenario bullish jangka panjang, tetapi juga tidak cukup yakin untuk bertaruh pada kejatuhan tajam. 

Secara struktural, performa minyak saat ini tidak menunjukkan tren naik yang solid, melainkan fluktuasi di sekitar kisaran. Kenaikan Jumat lebih mencerminkan manuver taktis para trader ketimbang perubahan pandangan strategis. Reli semacam ini sering kali cepat memudar ketika pasar kembali buka dan likuiditas normal.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79