KABARBURSA.COM – Di sesi perdagangan hari terakhir pekan ini, Sabtu WIB, 17 Januari 2026, Wall Street bergerak rapuh. Nasdaq dan S&P 500 bergerak sempit, sementara Dow Jones justru terjatuh. Padahal, sebagian besar saham pribadi, terutama yang bergerak di sektor AI dan semikonduktor, mengalami kenaikan signifikan.
Indeks S&P 500 serta Nasdaq naik 0,1 persen, sementara Dow Jones terpeleset di persentase yang sama. Secara teknis, jumlah saham yang turun di S&P 500 justru sedikit lebih banyak daripada yang naik. Di sini, indeks bertahan di zona hijau bukan karena kekuatan pasar, tetapi dorongan dari beberapa saham berkapitalisasi besar.
Sebut saja Nvidia, Broadcom, dan Micron. Kenaikan Micron hampir 7 persen dan lonjakan Broadcom mendekati 3 persen. Sektor ini menjadi penopang psikologis indeks, di mana kenaikan saham-saham ini membuat indeks terlihat kuat meskipun sebagian besar saham di dalamnya melemah.
Kondisi ini menyiratkan satu hal penting, bahwa reli kali ini bersifat sempit. Kekuatan pasar tidak terdistribusi secara luas, melainkan terkonsentrasi pada saham-saham bervaluasi besar. Ini adalah sinyal rapuh, di mana indeks terlihat stabil tetapi pondasinya tidak terlalu tebal.
Sektor Perbankan Abu-abu, Transportasi Melemah
Pergerakan sempit Wall Street juga terlihat di sektor perbankan. Laporan dari bank-bank regional menunjukkan hasil campuran. PNC melesat hampir 4 persen dan melampaui ekspektasi, tetapi Regional Financial justru turun 3 persen.
Pasar seperti masih mencari petunjuk, apakah tekanan margin, kualitas kredit dan perlambatan ekonomi benar-benar mulai terasa atau belum. Respons yang berbeda antarbank menegaskan bahwa investor sedang melakukan seleksi ketat.
Di sektor transportasi, J.B Hunt melemah setelah laporannya tidak terlalu meyakinkan. Ini penting, karena sektor transportasi sering dibaca sebagai indikator kesehatan ekonomi riil. Jika perusahaan logistik mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan, ini bisa menjadi sinyal bahwa permintaan mulai melunak.
Yield Obligasi Naik Lebih dari Tiga Persen
Dari sisi makro, kenaikan yield obligasi AS dan yield 10 tahun, naik ke 4,23 persen. Sementara, yield 2 tahun naik ke 3,60 persen. Pasar obligasi sepertinya juga masih menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan the Fed.
Lonjakan ini tidak besar, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya reda. Inflasi terbaru masih berada di atas target 2 persen the Fed. Pasar pun sepakat bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan akhir Januari ini. Artinya, likuiditas tidak akan menjadi lebih longgar dalam waktu dekat.
Dalam konteks ini, reli saham yang terjadi sejak awal 2026 lebih terlihat sebagai kelanjutan momentum, bukan perbaikan fundamental. Hal ini persis seperti pernyataan Doug Beath dari Wells Fargo Investment Institute, bahwa pasar mungkin masih bergerak naik, tetapi volatilitasnya sangat mungkin muncul akibat laporan keuangan dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Minyak Rebound, Emas Turun
Pasar komoditas juga menunjukkan pergerakan beragam. Harga minyak rebound setelah jatuh tajam sehari sebelumnya. Sementara emas, turun 0,6 persen meski masih naik lebih dari 5 persen sepanjang Januari ini.
Bursa Eropa melemah, sedangkan pasar Asia bergerak campuran. Lonjakan indeks Taiwan setelah kesepakatan dagang dengan AS menunjukkan bahwa pasar Asia sangat reaktif terhadap isu geopolitik dan perdagangan.(*)