KABARBURSA.COM – Pergerakan harga emas pada perdagangan Kamis pagi WIB, menunjukkan bahwa pasar sedang berada dalam fase penyeimbangan setelah reli yang sangat afresif dalam beberapa pekan terakhir.
Harga emas anjlok lebih dari 1 persen, lantaran pelaku pasar mulai mengunci keuntungan (profit taking).
Reli emas memang sungguh luar biasa. Level harga di atas USD4.400 mencerminkan akumulasi sentiment yang sangat kuat sejak akhir tahun kemarin. Reli itu merupakan kombinasi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS, ketegangan geopolitik global, hingga permintaan institusional yang solid khususnya dari pasar Asia.
Saat harga mencapai area psikologis dan dianggap mahal, aksi ambil untung tidak bisa dihindarikan. Itulah mengapa secara intraday emas spot anjlok hingga menyentuh USD4.422 per ons.
Faktor Penahan Pelemahan Emas
Beruntung, ada beberapa katalis yang menahan pelemahan emas terlalu dalam. Pertama soal data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Penurunan jumlah lowongan kerja yang lebih dalam dari data November 2025, ditambah perlambatan pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta versi ADP pada Desember, memperkuat narasi bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum.
Konteks ini menjadi sinyal kuat terhadap arah kebijakan Federal Reserve selanjutnya. Pasar mulai memproyeksikan total pemangkasan suku bunga sekitar 61 basis poin di sepanjang 2026.
Ekspektasi inilah yang menjaga emas tetap atraktif, meskipun sedang terkoreksi. Emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga daya tariknya meningkat, terutama Ketika suku bunga riil diperkirakan turun.
Lapisan lain yang membuat perdagangan emas tetap bergairah tentunya faktor geopolitik. Ya, penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, serta rencana AS untuk memurnikan dan menjual minyak mentah Venezuela, juga konfirmasi pembicaraan terkait akuisisi Grennland, menambah ketidakpastian global.
Dalam kondisi normal, eskalasi geopolitik seperti ini menjadi bahan bakar kenaikan emas. Namun, karena harga sudah lebih dulu melonjak, efeknya kali ini lebih berperan sebagai penopang, agar koreksi tidak berkembang menjadi penurunan tajam.
Penahan lainnya datang dari permintaan structural. Data pembelian emas oleh bank sentral China menjadi sinyal penting.
Perpanjangan pembelian hingga bulan ke-14 berturut-turut menunjukkan bahwa reli emas sebelumnya bukan sekadar spekulatif, melainkan didukung oleh permintaan jangka panjang. Pasar global membacanya sebagai sinyak bahwa emas tetap diposisikan sebagai aset strategis dalam diversifikasi cadangan.
Logam Mulia Lain Ikut Melemah
Pelemahan harga emas kali ini diikuti oleh logam mulia lainnya. Penruunan tajam pada perak, platinum, dan palladium menunjukkan bahwa koreksi kali ini juga dipengaruhi oleh faktor likuiditas dan sensitivitas terhadap sentiment risiko.
Perak terkena tekanan lebih dalam karena kekhawatiran permintaan industri. Peringatan HSBC dan Goldman Sachs mengenai tipisnya persediaan perak, menegaskan bahwa volatilitas masih akan menjadi penekan utama.
Secara keseluruhan, perdagangan emas saat ini berada pada fase konsolidasi usai reli ekstrem. Ada aksi ambil untung yang sehat dan bukan runtuhnya kepercayaan pasar. Selama ekspektasi pemangkasan suku bunga tetap terjaga, ketidakpastian geopolitik belum mereda, dan permintaan terus berlanjut, emas masih memiliki fondasi yang kuat untuk terus naik.(*)