Logo
>

Alarm dari Davos, Eropa Terancam Tertinggal dari AS dan China

Para CEO global di World Economic Forum Davos memperingatkan Eropa agar segera berbenah, menyederhanakan regulasi, dan bersatu menghadapi laju industri AS dan China.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Alarm dari Davos, Eropa Terancam Tertinggal dari AS dan China
Davos membunyikan alarm untuk Eropa. Elite bisnis dunia menilai Eropa berisiko tertinggal dari AS dan China di industri masa depan. Foto: IG @worldeconomicforum.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Di tengah dinginnya Davos, peringatan yang dilontarkan para petinggi perusahaan dunia justru terasa panas. Dari industri farmasi, kecerdasan buatan, hingga pertahanan, para eksekutif yang berkumpul di World Economic Forum pekan ini menyampaikan pesan yang sama untuk Eropa: berbenah sekarang, atau bersiap kalah dari Amerika Serikat dan China.

    Masalahnya bukan hal baru. Para CEO menyebut regulasi yang berlapis, birokrasi yang lamban, hingga kegagalan Eropa memaksimalkan kekuatan pasarnya yang mencapai sekitar 450 juta orang. Kombinasi itu, kata mereka, membuat Eropa berisiko tertinggal dalam banyak industri masa depan. Jalan keluarnya, menurut para pelaku usaha, hanya satu: Eropa harus bersatu dan mengonsolidasikan sumber dayanya agar kembali kompetitif.

    “Tidak masuk akal membangun kapal korvet Italia, kapal korvet Prancis, kapal korvet Spanyol, kapal korvet Swedia, kapal korvet Jerman, dan kapal korvet Inggris,” kata CEO perusahaan pertahanan Fincantieri SpA, Pierroberto Folgiero, dalam wawancara di Davos, dikutip dari Bloomberg, Sabtu, 24 Januari 2026.

    “Kita memang perlu belanja pertahanan lebih besar, tapi yang lebih penting adalah belanja dengan lebih cerdas. Kita harus berbagi platform dan proyek,” imbuhnya.

    Tekanan terhadap Eropa kian memuncak karena perang dagang yang dipicu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ditambah persaingan yang semakin agresif dari China di berbagai sektor industri kunci Eropa. Para CEO menilai, perubahan narasi menjadi mendesak. Taruhannya bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan lapangan kerja dan kohesi sosial di kawasan tersebut.

    Forum Davos tahun ini dihadiri lebih dari 800 eksekutif dari seluruh dunia. Mereka datang dengan kegelisahan yang sama, antara lain soal mahalnya energi, perlombaan AI, rantai pasok di tengah konflik militer, serta tatanan dunia baru yang terus bergeser.

    Nada kekhawatiran juga datang dari sektor farmasi. CEO Novartis AG, Vas Narasimhan, menilai peluncuran obat inovatif di sejumlah negara Eropa terhambat, sementara Amerika Serikat justru menekan harga obat secara agresif.

    “Jika Eropa ingin menarik investasi seperti Amerika Serikat dan China saat ini, Eropa harus meningkatkan langkahnya,” kata Narasimhan.

    Ia menunjuk kemudahan berbisnis di AS, tempat perusahaannya menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun pabrik baru serta riset dan pengembangan. “Eropa harus menghargai obat-obatan kami, menghargai dampaknya bagi pasien,” katanya.

    Di sisi lain, dunia kini makin “terbagi ke dalam blok-blok geopolitik,” kata Folgiero. Menurutnya, ada kebutuhan untuk menciptakan kemandirian setinggi mungkin di dalam masing-masing blok, terutama di sektor energi dan pertahanan. “Di sektor strategis ini, rantai pasok harus menjadi lebih pendek.”

    Dalam industri obat-obatan, rantai pasok yang lebih pendek berarti Eropa harus segera memperkuat ketersediaan bahan baku utama. CEO perusahaan layanan kesehatan Jerman Fresenius SE, Michael Sen, menyebut Eropa telah mengembangkan ketergantungan yang “tidak sehat” terhadap China untuk bahan baku farmasi aktif.

    “Dalam tatanan dunia baru ini, ada risiko ‘persenjataan’ bahan baku obat,” ujarnya. “Anda berada dalam masalah besar jika terjadi kelangkaan obat-obatan kunci. Obat bisa digunakan sebagai alat kekuasaan.”

    Biaya berbisnis yang tinggi juga menjadi duri dalam daging. Harga energi yang melambung di Eropa membuat China dan Amerika Serikat unggul di sejumlah industri, seperti otomotif dan AI.

    CEO perusahaan kimia Swiss Clariant AG, Conrad Keijzer, menyebut harga gas yang mahal menekan margin industri kimia dan memaksa perusahaan menahan investasi jangka panjang, termasuk proyek keberlanjutan.

    Situasinya berbanding terbalik dengan Amerika Utara. “Bisnis di Amerika Utara semuanya berada pada posisi siap tumbuh,” kata Jan Jenisch, chairman perusahaan semen Amrize Ltd., dengan menyoroti pembangunan pusat data yang masif di AS.

    “Apa yang terjadi di pasar AS—mereka memimpin dengan perusahaan teknologi besar, memimpin sistem satelit, menjadi positif energi, dan memimpin di AI,” kata Jenisch.

    Regulasi Eropa yang seolah tak ada habisnya juga menuai kritik tajam. Kepala bisnis global Meta Platforms, Nicola Mendelsohn, menilai rezim regulasi di Eropa menyulitkan peluncuran dan adopsi produk AI baru. “Sangat jelas kaitan antara regulasi yang rumit dengan kemampuan inovasi untuk tumbuh dan berkembang,” ujarnya dalam wawancara televisi,” katanya.

    Sebagian pemimpin Eropa mulai mengakui persoalan ini. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut Eropa perlu menyederhanakan regulasi yang membebani dunia usaha. Dalam pidatonya di Davos, Macron juga mendorong preferensi terhadap produk “Made in Europe” serta menekankan urgensi pembentukan pasar modal terpadu untuk membiayai kebutuhan dunia usaha.

    Namun jalan menuju kemandirian Eropa dinilai tidak mudah. CEO perusahaan telekomunikasi Swedia Ericsson AB, Borje Ekholm, bahkan mengingatkan bahaya narasi kedaulatan yang berlebihan.

    “Narasi kedaulatan ini berbahaya,” kata Ekholm. “Saya tidak berpikir Eropa memiliki kemampuan untuk benar-benar berdaulat saat ini.”

    Pesan dari Davos kali ini terasa gamblang. Dunia sedang bergerak cepat dan Eropa tidak punya banyak waktu untuk ragu. Jika tetap terpecah dan lamban, benua itu berisiko hanya menjadi penonton dalam perlombaan industri abad ke-21.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).