Logo
>

Amran: Hilirisasi Kelapa bisa Capai Rp5.000 Triliun

Potensi hilirisasi kelapa Rp5.000 triliun disebut Menteri Pertanian Amran Sulaiman sebagai kunci nilai tambah, dorong ekspor olahan dan kurangi ketergantungan bahan mentah.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Amran: Hilirisasi Kelapa bisa Capai Rp5.000 Triliun
Amran menyebut potensi hilirisasi kelapa Rp5.000 triliun. RI dinilai perlu hentikan ekspor bahan mentah dan dorong industri pengolahan domestik. Foto: IG @a.amran_sulaiman

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pemerintah mendorong hilirisasi komoditas perkebunan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut kelapa dan gambir dapat menjadi motor lompatan nilai tambah hingga ribuan triliun rupiah. Namun di balik proyeksi besar itu, struktur industri dalam negeri dinilai masih menghadapi pekerjaan rumah panjang karena ekspor kedua komoditas tersebut didominasi bahan mentah.

    Amran memaparkan, Indonesia saat ini menguasai sekitar 80 persen produksi gambir dunia dan memiliki sumber daya kelapa melimpah. Jika diolah menjadi produk turunan, nilainya disebut dapat melonjak berkali-lipat dibandingkan ekspor bahan baku.

    "Ini coconut milk, itu ada pergeseran pangan di China, itu dari susu sapi, kambing, bergeser ke susu yang dari kelapa. Ini nilainya itu bisa potensi 5.000 triliun,” ujar Amran dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.

    Ia menambahkan, hasil riset sejumlah akademisi menunjukkan potensi ekonomi dari hilirisasi kelapa dapat menembus ribuan triliun rupiah. Gambir, yang selama ini lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah, juga disebut memiliki prospek serupa jika masuk ke industri turunan seperti farmasi, kosmetik, hingga bahan pangan.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memaparkan slide potensi hilirisasi kelapa dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat, 13 Februari 2026. Dalam paparannya, Amran mencontohkan pengembangan pabrik kelapa terpadu di Maluku Utara yang dinilai mampu meningkatkan nilai tambah produk turunan seperti air kelapa dan VCO, dibandingkan ekspor bahan mentah. Foto: Alpin Pulungan/KabarBursa


    "Nah ini sesuai penelitian para pakar, gambir itu bisa sampai ribuan triliun. Tapi bahan baku kita ekspor. Ini yang ke depan kita hilirisasi,” kata Amran.

    Menurut Amran, hilirisasi komoditas perkebunan bukan hanya soal peningkatan ekspor, tetapi juga penciptaan lapangan kerja dan penguatan struktur ekonomi nasional. Ia memperkirakan pengembangan industri turunan kelapa dan gambir dapat menyerap hingga jutaan tenaga kerja. “Hilirisasi ini bisa membuka lapangan kerja sekitar 5 juta orang dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

    Kementerian Pertanian menilai strategi tersebut sejalan dengan agenda swasembada pangan dan penguatan industri berbasis sumber daya domestik. Hilirisasi juga disebut menjadi salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah yang selama ini rentan terhadap fluktuasi harga global.

    Meski potensinya besar, menurut Amran, data Kementeriannya menunjukkan nilai tambah dari komoditas perkebunan Indonesia masih relatif terbatas. Ekspor kelapa dan turunannya, misalnya, sebagian besar masih berupa produk setengah jadi atau bahan baku.

    Namun, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa struktur ekspor kelapa Indonesia sebenarnya tidak tunggal dalam bentuk bahan mentah. Dalam pencatatan perdagangan luar negeri, komoditas ini terbagi dalam beberapa kelompok produk, mulai dari kelapa utuh, kopra, minyak kelapa, bungkil, hingga berbagai produk turunan seperti kelapa parut kering dan santan olahan. Pembedaan tersebut tercermin dalam klasifikasi kode HS yang memisahkan antara komoditas primer dan produk hasil pengolahan.

    Meski demikian, volume ekspor kelapa bulat masih tercatat besar dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022 misalnya, ekspor kelapa utuh mencapai sekitar 1,28 juta ton, relatif stabil dibandingkan 2021 dan 2020 yang berada di kisaran 1,18 juta ton. Bahkan pada dua bulan pertama 2025 saja, pengiriman ke pasar luar negeri telah menembus lebih dari 181 ribu ton. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap bahan baku mentah masih kuat, sekaligus menandakan sebagian rantai nilai komoditas kelapa Indonesia masih berada pada tahap awal.

    Kondisi itu membuat rantai nilai industri lebih banyak dinikmati negara pengolah. Produk turunan bernilai tinggi seperti bahan baku industri makanan, kosmetik, hingga farmasi justru diimpor kembali dengan harga lebih mahal. Struktur serupa terjadi pada gambir. Komoditas ini selama bertahun-tahun menjadi bahan baku ekspor tanpa pengembangan industri hilir yang signifikan di dalam negeri.

    Transformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk olahan membutuhkan investasi besar dan kesiapan teknologi. Pengembangan kawasan industri berbasis komoditas, kepastian pasokan bahan baku, serta integrasi dengan pasar global menjadi faktor kunci. Selain itu, hilirisasi juga menuntut konsolidasi petani dalam skala ekonomi yang memadai agar mampu memasok kebutuhan industri secara berkelanjutan.

    Amran mengakui hilirisasi tidak bisa dilakukan secara instan dan membutuhkan dukungan lintas sektor. “Ini bukan hanya urusan pertanian. Ini ekosistem industri, perdagangan, investasi, semua harus bergerak bersama,” ujarnya.

    Di sisi lain, perubahan pola konsumsi global dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk masuk ke pasar produk olahan berbasis komoditas tropis. Produk turunan kelapa seperti santan, coconut milk, hingga virgin coconut oil (VCO) mengalami peningkatan permintaan di sejumlah negara. Jika mampu membangun industri pengolahan yang kuat, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pemain utama dalam rantai nilai global.

    "Kalau ini kita lakukan, pertumbuhan ekonomi 8 persen itu bukan mimpi,” kata Amran.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).