Logo
>

Analis: Kisruh Politik AS Bikin Harga Emas Menggila

Ketegangan antara Presiden Trump dan Bank Sentral AS memicu ketidakpastian pasar global dan mendorong lonjakan harga emas sepanjang 2025.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Analis: Kisruh Politik AS Bikin Harga Emas Menggila
Ilustrasi kenaikan harga emas karena kondisi geopolitik. Foto: doc KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Dinamika politik internal Amerika Serikat sepanjang 2025 dinilai menjadi salah satu mesin utama volatilitas harga emas global.

    Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan otoritas bank sentral menciptakan tekanan berlapis di pasar keuangan, yang kemudian merembet ke pergerakan harga emas dunia.

    Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa lonjakan harga emas tidak bisa dilepaskan dari situasi politik Amerika Serikat yang terus memanas.

    Menurut dia, isu geopolitik global memang berperan, namun konflik kebijakan di dalam negeri AS justru memberi tekanan tambahan yang signifikan.

    “Kemudian, Amerika yang memenangkan Trump sebagai presiden. Kemudian Trump menggadang-gadang untuk perang dagang dan suku bunga rendah. Ini pun juga membuat harga emas dunia terus melonjak,” ujar Ibrahim kepada KabarBursa.com, Selasa, 30 Desember 2025.

    Ia menuturkan, tekanan politik semakin terasa ketika Trump secara terbuka mendorong penurunan suku bunga, sementara Bank Sentral Amerika masih mempertahankan kebijakan moneternya.

    Dalam situasi tersebut, kebijakan suku bunga tidak lagi berdiri sebagai faktor ekonomi semata, tetapi ikut menjadi bagian dari tarik-menarik kepentingan politik.

    “Pertama tentang masalah keinginan Trump agar Bank Sentral menurunkan suku bunga, tetapi Bank Sentral masih tetap mempertahankan suku bunga. Ya berulang-ulang, dikasih tahu oleh Trump kepada Jerome Powell, tetapi Powell sendiri merasa bahwa belum waktunya untuk menurunkan suku bunga, karena saat itu yang dijadikan alat untuk menurunkan suku bunga itu adalah inflasi,” kata Ibrahim.

    Ketegangan tersebut, lanjut dia, berlanjut dengan langkah politik lanjutan yang semakin memperkeruh situasi. Ibrahim menyebut adanya intimidasi politik hingga proses hukum yang membuat pasar global kembali bereaksi.

    “Sehingga Trump langsung melakukan intimidasi dengan melakukan pemecatan terhadap Tina Chok. Nah kemudian Tina Chok sendiri waktu itu melakukan banding di pengadilan federal dan pengadilan memenangkan Tina Chok,” ujarnya.

    Menurut Ibrahim, ketidakpastian politik di Amerika Serikat tidak berhenti pada isu bank sentral. Demonstrasi terkait imigrasi, kebuntuan anggaran, hingga penutupan sementara pemerintahan federal turut memperbesar tekanan di pasar global.

    “Apalagi dibarengi dengan shutdown yang terjadi karena pendanaan batas atas itu masih belum disetujui oleh Kongres. Terutama dari pihak Partai Demokrat,” ucapnya.

    Ia menilai, kondisi tersebut membuat harga emas bergerak sensitif terhadap setiap perkembangan politik di Amerika Serikat. Ketidakstabilan pemerintahan negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu menjadi pemicu gejolak yang berdampak lintas negara, termasuk pada pasar emas.

    “Ini yang membuat harga emas dunia melonjak tinggi,” kata Ibrahim.

    Dalam konteks ini, Ibrahim menegaskan bahwa volatilitas harga emas sepanjang 2025 lebih mencerminkan respons pasar terhadap ketidakpastian politik Amerika Serikat, bukan semata-mata karena faktor ekonomi tunggal seperti suku bunga atau inflasi.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.