KABARBURSA.COM – Tensi geopolitik semakin panas. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengaku bahwa kekuatan laut AS sedang menuju Kawasan Timur Tengah, melonjakkan harga minyak dunia.
Pada perdagangan Jumat waktu setempat, 23 Januari 2026, harga minya global menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Secara data, kontrak Brent ditutup naik USD1,82 atau 2,8 persen ke level USD65,88 per barel. Angka ini tertinggi sejak 14 Januari 2026.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat USD1,71 atau 2,9 persen ke USD61,07 per barel. Kedua acuan tersebut sama-sama mencatatkan kenaikan mingguan di atas 2,5 persen. Data ini memperlihatkan perubahan arah sentimen setelah volatilitas tinggi sepanjang pekan.
Lonjakan harga ini terutama dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Pernyataan Trump yang kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran, termasuk ancaman terkait isu nuklir dan stabilitas domestik Iran, langsung diterjemahkan pasar sebagai peningkatan risiko geopolitik.
Situasi diperkuat oleh konfirmasi pejabat AS bahwa kapal perang, termasuk kapal induk dan destroyer berpemandu rudal, akan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Ingatan pasar masih segar pada serangan AS terhadap Iran pada Juni tahun lalu, yang kala itu juga memicu lonjakan harga minyak.
Sanksi Minyak Iran
Tekanan terhadap Iran tidak berhenti pada retorika. Departemen Keuangan AS pada Jumat mengumumkan sanksi baru terhadap sembilan kapal dan delapan perusahaan yang terlibat dalam pengangkutan minyak dan produk petroleum Iran.
Langkah ini penting karena Iran saat ini memproduksi sekitar 3,2 juta barel per hari menurut data OPEC, menjadikannya produsen minyak mentah terbesar keempat di organisasi tersebut setelah Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Iran juga merupakan pemasok signifikan bagi China, konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Dengan latar belakang ini, setiap upaya pembatasan ekspor Iran langsung menimbulkan kekhawatiran terhadap keseimbangan pasokan global.
Di luar Timur Tengah, risiko pasokan juga muncul dari Kazakhstan. Chevron menyatakan produksi di ladang minyak Tengiz belum kembali beroperasi setelah penghentian akibat kebakaran awal pekan ini. Tengiz merupakan salah satu ladang minyak terbesar di dunia dan menyumbang hampir setengah dari total produksi Kazakhstan.
JP Morgan memperkirakan ladang tersebut berpotensi tetap offline hingga akhir bulan, yang dapat menekan produksi minyak Kazakhstan ke kisaran 1 juta hingga 1,1 juta barel per hari pada Januari, jauh di bawah level normal sekitar 1,8 juta barel per hari.
Gangguan ini terjadi di saat industri minyak Kazakhstan sudah menghadapi hambatan ekspor melalui Laut Hitam akibat kerusakan infrastruktur yang dipicu serangan drone Ukraina.
Kombinasi risiko dari Iran dan Kazakhstan membuat pasar kembali memperhitungkan skenario pasokan yang lebih ketat dalam jangka pendek. Ini menjelaskan mengapa reli minyak kali ini relatif kuat meskipun tidak disertai lonjakan permintaan global yang signifikan.
Pasar tampak lebih responsif terhadap potensi gangguan suplai dibandingkan faktor fundamental permintaan.
Kesepakatan Atas Greenland
Pergerakan harga minyak sepanjang pekan juga mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap sinyal kebijakan Trump. Harga sempat menguat di awal pekan setelah isu Greenland dan ketegangan geopolitik memicu sentimen risk-off, sebelum terkoreksi sekitar 2 persen pada Kamis, yaitu ketika Trump melunakkan sikapnya terhadap Eropa dan menegaskan tidak ada rencana aksi militer terkait Greenland.
Pernyataan bahwa AS, Denmark, dan NATO telah mencapai kesepakatan yang memberi “akses penuh” ke Greenland langsung meredakan sebagian ketegangan dan menekan harga minyak sementara.
Namun, penutupan pekan menunjukkan bahwa fokus pasar kini kembali ke Timur Tengah dan risiko pasokan nyata. Berbeda dengan reli berbasis sentimen tarif yang cepat menguap, tekanan terhadap Iran dan gangguan produksi Kazakhstan memiliki implikasi langsung terhadap aliran minyak fisik.
Dalam konteks ini, kenaikan harga minyak mencerminkan upaya pasar untuk memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga.
Struktur perdagangan minyak saat ini menggambarkan pasar yang rapuh dan sangat reaktif terhadap perkembangan politik. Selama tekanan terhadap Iran berlanjut dan produksi Kazakhstan belum pulih, ruang koreksi harga tampak terbatas.
Namun, volatilitas tetap tinggi, karena setiap perubahan sikap Washington atau sinyal de-eskalasi geopolitik berpotensi memicu pembalikan arah yang cepat, sebagaimana terlihat beberapa kali sepanjang pekan ini.(*)