KABARBURSA.COM – Perdagangan bursa di pasar Amerika Serikat, atau Wall Street, tidak baik-baik saja. Pada Jumat waktu setempat, 23 Januari 2026, seluruh indeks bergerak rapuh. Hanya Nasdaq yang mampu mencatatkan kenaikan moderat.
Secara data, S&P 500 ditutup nyaris datar, di kisaran 6.915. Sementara Nasdaq naik sekitar 0,3 persen ke area 23.500 dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi sekitar 0,6 persen ke 49.100.
Mayoritas saham di Wall Street melemah, sementara gerak Nasdaq ditopang oleh saham-saham teknologi tertentu.
Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor, khususnya Intel. Dalam perdagangan intraday, Intel anjlok hingga 17 persen dalam satu sesi. Laporan kinerja kuartal terakhir 2025 Intel sebenarnya melampaui ekspektasi analis, tetapi pasar lebih memilih fokus pada proyeksi di kuartal pertama 2026 yang diperkirakan lebih lemah.
Yang membuatnya lemah adalah pernyataan manajemen bahwa ada keterbatasan pasokan industry dan tantangan pemenuhan permintaan chip server AI. Pernyataan ini mempertegas bahwa AI sedang diuji oleh realitas rantai pasok dan eksekusi operasional.
Kondisi ini didukung oleh data valid, di mana saham-saham teknologi AS masih diperdagangkan pada harga yang sangat tinggi. Ruang toleransi pasar terhadap panduan meleset dari ekspektasi dan menjadikan gerak sangat menyempit.
Reaksi keras terhadap Intel menunjukkan bahwa pasar tidak lagi sekadar menghargai narasi, namun menuntut visibilitas pendapatan dan margin yang konkret. Fokus investor bahkan bergeser ke laporan keuangan emiten teknologi besar untuk menguji apakah cerita AI benar-benar tersermin di laporan laba rugi.
Ancaman Tarif Trump
Ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump, masih menjadi sentimen negatif perdagangan. Tidak hanya menekan aset berisiko, dolar AS pun ikut melemah.
Meskipun ancaman tersebut kemudian ditarik setelah Trump menyebut adanya kerangka kesepakatan masa depan dengan Greenland, pasar belum sepenuhnya tenang. Dolar AS tetap melemah terhadap yen Jepang dan franc Swiss.
Pasar obligasi AS justru jauh lebih tenang. Imbal hasil Treasury 10 tahun turun tipis ke 4,23 persen. Penurunan yield ini sejalan dengan data konsumen AS dari University of Michigan, bahwa ekspektasi inflasi satu tahun ke depan turun ke 4 persen, dan menjadi yang terendah dalam setahun terakhir.
Walaupun masih jauh dari target Federal Reserve, yang sebesar 2 persen, namun ini memberi tuang bernapas bagi bank sentral.
Dari sisi konsumsi, sentimen rumah tangga AS tercatat mengalami penguatan. Sedangkan survey awal S&P global menunjukkan aktivitas bisnis masih berada di jalur ekspansi. Dua data ini menjadi penopang utama narasi bahwa mesin ekonomi AS belum melambat, meskipun tekanan masih ada.
Di sini, ekspektasi pasar terhadap rapat the Fed pekan depan relative seragam, bahwa suku bunga diperkirakan ditahan.
Emas Cetak Rekor
Di Tingkat sektoral, saham individual sangat beragam. Capital One Financial, misalnya, tertekan lebih dari 7 persen usai laporan laba yang melemah dan mengakuisisi Brex senilai USD5,15 miliar. Akuisisi ini memicu kekhawatiran soal profitabilitas jangka pendek dan integrasi bisnis.
Di sisi lain, CSX menguat meski laporan labanya di bawah ekspektasi. Pasar merespons positif proyeksi efisiensi operasional perusahaan.
Clorox menguat setelah mengumumkan akuisisi GOJO Industries, pemilik merek Purell, senilai USD2,25 miliar. Aksi ini dibaca sebagai langkah ekspansi defensif di sektor kebutuhan rumah tangga.
Beralih ke sektor komoditi, harga emas kembali mencetak rekor dan mendekati level USD5.000 per ons. Harga emas naik hampir 15 persen sejak awal tahun. Lonjakan ini mencerminkan arus lindung nilai masih kencang.
Sedangkan di pasar Asia, relatif lebih tenang terutama setelah laporan lonjakan imbal hasil obligasi Jepang di awal pekan mereda. Nikkei 225 menguat tipis setelah Bank of Jepang (BOJ) mempertahankan suku bunga acuan.
Keseluruhan pergerakan ini menunjukkan Wall Street berada dalam fase konsolidasi yang sarat kehati-hatian. Indeks utama memang tidak menunjukkan koreksi tajam, tetapi struktur perdagangannya mengindikasikan pasar yang sensitif terhadap panduan kinerja, kebijakan geopolitik, dan arah suku bunga.
Reli berbasis sentimen kini semakin sering diuji oleh data dan proyeksi fundamental, menjadikan laporan keuangan emiten besar dan komunikasi bank sentral sebagai penentu arah pasar dalam waktu dekat.(*)