Logo
>

Aset Safe Haven Mulai Ambil Peran, Emas dan Perak Pecah Rekor Lagi

Lonjakan perak menembus USD100 per ons dan emas mendekati USD5.000 menegaskan kembalinya logam mulia sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketegangan geopolitik dan pelemahan dolar AS.

Ditulis oleh Yunila Wati
Aset Safe Haven Mulai Ambil Peran, Emas dan Perak Pecah Rekor Lagi
Reli perak kali ini bisa menyaingi kenaikan harga emas. Foto: AI untuk KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Aset safe haven mulai mengambil perannya di tengah gejolak geopolitik tak kunjung usai. Emas dan perak, sebagai logam mulia yang selama ini menjadi ‘perlindungan’ di situasi ekonomi yang tidak menentu, kembali memecahkan rekor.

Yang paling mencolok adalah pergerakan perak. Logam mulia ini menembus level USD100 per ons untuk pertama kalinya. Pada perdagangan Jumat waktu setempat, 23 Januari 2026, perak melonjak lebih dari 5 persen ke rekor terbarunya USD101,22 per ons, setelah memulai pekan ini di bawah USD90.

Kenaikan tajam ini terdorong eskalasi permintaan asel lindung nilai, aksi beli ritel lintas kawasan, serta kekhawatiran atas pasokan logam industry di masa depan.

Ketegangan Amerika Vs Eropa

Reli perak kali ini berakar dari memburuknya hubungan Amerika Serikat dan Eropa. Namun, yang membuatnya berbeda adalah kuatnya partisipasi ritel, terutama dari China. Dari Shanghai hingga New York, lonjakan volume perak menunjukkan bahwa permintaan tidak hanya digerakkan oleh institusi, tetapi oleh investor individu yang memburu momentum dan perlindungan nilai sekaligus.

Kekhawatiran bahwa logam ini berpotensi terkena kebijakan tarif AS, menambah lapisan risiko.

Secara tahunan, reli perak semakin mencolok. Sejak awal 2026, harga perak melesat hingga 25 persen, melanjutkan tren 2025. Catatan ini menempatkan perak sebagai salah satu aset dengan performa terkuat di kelasnya, bahkan menyaingi emas.

Emas Pecah Rekor Baru

Seiring dengan perak, emas juga mencetak rekor baru dan semakin dekat dengan tonggak psikologisnya di USD5.000 per ons. Saat ini posisi emas berada di USD4.987 dan telah membukukan kenaikan hampir 14 persen sejak awal tahun, melonjak 40 persen sepanjang 2025.

Dalam lima sesi perdagangan terakhir, emas sudah menguat 7 persen dan menjadikannya pekan terbaik sejak 2020. Di pasar berjangka, kontraknya mencatatkan pekan terkuat sepanjang Sejarah.

Goldman Sachs sendiri menaikkan target harga emas menjadi USD5.400 per ons, dengan alasan meningkatnya investoasi sektor swasta dan adanya pembelian agresif oleh bank sentral.

Kenaikan harga emas juga dipicu oleh perilaku ketagangan geopolitik dan pelemahan dolar AS. Yang penting dicatat, reli ini tidak bersifat meluas di seluruh komoditas. Harga minyak mentah justru melemah sejak awal pekan.

Dengan latar belakang tersebut, perdagangan logam mulia kini memasuki fase baru. Emas dan perak tidak lagi semata-mata digerakkan oleh ekspektasi suku bunga atau inflasi, tetapi semakin dipengaruhi oleh persepsi risiko geopolitik jangka panjang dan ketidakpastian kebijakan global. 

Ujian berikutnya akan datang dari keputusan Federal Reserve pekan depan. Jika bank sentral AS mengambil sikap lebih hawkish, pasar akan menguji apakah daya tarik emas dan perak kini lebih kuat dibandingkan pengaruh kebijakan moneter yang selama ini menjadi pendorong utama.

Sejauh ini, pergerakan harga menunjukkan bahwa investor mulai memposisikan diri untuk periode ketidakpastian yang lebih panjang. Dalam paradigma ini, sulit menemukan batas resistensi alami bagi emas selain hambatan psikologis USD5.000 per ons, sementara perak telah memasuki wilayah harga yang sebelumnya dianggap tidak terbayangkan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79