Logo
>

Apa Arti Pidato Prabowo soal Danantara di Davos bagi Investor Global?

Pidato Prabowo di WEF Davos menempatkan Danantara sebagai simbol baru diplomasi investasi Indonesia, namun pasar global menanti bukti lewat angka dan transaksi nyata.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Apa Arti Pidato Prabowo soal Danantara di Davos bagi Investor Global?
Pidato Prabowo di WEF Davos soal Danantara dibaca investor global sebagai sinyal ambisi besar. Pasar kini menunggu bukti lewat kinerja dan transaksi. Foto: IG @danantara.indonesia

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Pidato Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di panggung World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, bukan sekadar seremoni diplomatik. Disampaikan di hadapan para pemimpin negara, CEO global, dan pengelola dana raksasa dunia, pernyataan Prabowo tentang Danantara memuat pesan bahwa Indonesia ingin berbicara sebagai mitra setara dalam arsitektur investasi global.

    Berbicara pada Kamis, 22 Januari 2026, Prabowo secara terbuka menempatkan Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai instrumen utama yang mengubah posisi Indonesia di forum internasional. Bagi investor global, pernyataan ini penting bukan karena retorikanya, melainkan karena klaim posisi yang disampaikan secara terbuka di pusat pertemuan elite ekonomi dunia.

    “Dengan Danantara, saya dapat berdiri di hadapan Anda sebagai mitra yang setara,” kata Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden.

    Kalimat ini menjadi penanda arah. Indonesia tidak lagi ingin dipersepsikan semata sebagai tujuan penempatan modal, tetapi sebagai partner yang ikut menanamkan modal dan berbagi risiko.

    Dalam pidatonya, Prabowo menjelaskan makna simbolik Danantara sebagai energi penggerak masa depan Indonesia dengan kekayaan USD1 triliun. Bagi investor global, narasi ini penting karena mengaitkan visi politik dengan instrumen ekonomi yang konkret.

    “Dengan Danantara, Indonesia kini mampu menjadi mitra Anda. Kita akan berinvestasi bersama dan tumbuh bersama Anda. Danantara didirikan untuk membiayai dan membiayai bersama industri masa depan,” ujar Prabowo.

    Pernyataan ini menempatkan Danantara sebagai platform co-investment, bukan sekadar dana pasif. Artinya, Indonesia ingin duduk di sisi yang sama dengan investor global dalam proyek strategis, dari industri masa depan hingga transformasi ekonomi.

    Prabowo juga menegaskan ambisi untuk mengoptimalkan industri nasional secara signifikan. Industri masa depan, menurutnya, harus dijalankan dengan kehati-hatian, tata kelola yang kuat, dan orientasi jangka panjang—pesan yang lazim didengar investor global, namun kini diucapkan langsung oleh kepala negara Indonesia.

    Bagi pasar global, salah satu bagian paling krusial dari pidato Prabowo adalah komitmen terhadap tata kelola dan efisiensi. Ia menekankan Danantara dibangun dengan pengawasan yang kuat dan tanggung jawab institusional. “Itulah mengapa kami membangun Danantara dengan pengawasan yang kuat dan tanggung jawab institusional. Dan kami berusaha menemukan eksekutif terbaik untuk memimpin Danantara,” ucap Prabowo.

    Pernyataan ini kemudian diperkuat dengan rencana rasionalisasi besar-besaran terhadap badan usaha milik negara. Prabowo menyebut Danantara saat ini mengelola 1.044 perusahaan milik negara, jumlah yang dinilainya terlalu besar dan sarat inefisiensi.

    “Kami akan mengurangi jumlahnya menjadi sekitar, paling banyak 300. Kami akan melakukan rasionalisasi. Kami akan menyingkirkan inefisiensi. Kami menginginkan tata kelola dan manajemen terbaik sesuai standar internasional,” lanjutnya.

    Bagi investor global, pesan ini jelas: Indonesia ingin menyederhanakan struktur, memangkas beban, dan mendekatkan praktik BUMN ke standar korporasi internasional—sebuah agenda yang selama ini sering dijanjikan, namun jarang disampaikan sejelas ini di forum global.

    Salah satu bagian paling progresif dari pidato Prabowo adalah soal sumber daya manusia. Ia secara terbuka menyatakan telah memberi izin kepada Danantara untuk merekrut talenta terbaik dunia, termasuk warga negara asing, guna memimpin perusahaan-perusahaan di bawah pengelolaannya.

    “Saya telah mengizinkan Danantara untuk merekrut ekspatriat, warga negara asing, untuk memimpin perusahaan-perusahaan ini. Kami menginginkan otak dan pikiran terbaik di dunia,” kata Prabowo.

    Bagi investor global, pernyataan ini bukan detail kecil. Ini adalah sinyal Indonesia siap membuka diri terhadap praktik manajemen global dan tidak menutup diri atas nama nasionalisme sempit, isu yang kerap menjadi kekhawatiran investor asing.

    WEF Davos 2026 dihadiri puluhan kepala negara dan sekitar 1.000 CEO perusahaan global. Dalam konteks ini, pidato Prabowo berfungsi sebagai etalase awal bagi Danantara di mata dunia. Namun, bagi investor global, pidato hanyalah langkah pertama.

    Yang akan dibaca selanjutnya adalah tindak lanjutnya apakah klaim kemitraan setara diterjemahkan menjadi kesepakatan konkret, apakah rasionalisasi BUMN benar-benar berjalan, dan apakah tata kelola Danantara mampu memenuhi ekspektasi pasar global.

    Membaca Danantara di Balik USD1 Triliun

    Pernyataan Prabowo di Davos soal Danantara sebagai dana kekayaan negara bernilai USD1 triliun memang terdengar besar. Namun, bagi investor global yang terbiasa membaca laporan keuangan dan neraca, angka itu tidak berdiri sendiri. Ia perlu ditarik ke tanah, apa yang dimaksud USD1 triliun dan di mana posisi Danantara saat ini?

    Sejumlah sumber internasional dan data resmi menunjukkan bahwa USD1 triliun bukan angka yang otomatis tersedia, melainkan target jangka panjang. Danantara sendiri diluncurkan pada 24 Februari 2025 dengan modal awal proyek sekitar USD20 miliar, yang dipakai untuk proyek-proyek strategis nasional. Angka ini menjadi starting point, bukan garis akhir.

    Seiring waktu, nilai Danantara membesar bukan karena suntikan dana segar semata, melainkan melalui konsolidasi aset-aset BUMN besar ke dalam satu platform pengelolaan investasi negara. Dari proses inilah muncul estimasi bahwa aset Danantara kini berada di kisaran USD900 miliar atau sekitar Rp15,2 kuadriliun. Artinya, jarak ke target USD1 triliun relatif tipis, tetapi secara metodologi, yang satu adalah target, yang lain adalah nilai kelolaan aktual.

    Penting dicatat, Danantara bukan dana baru yang tiba-tiba “punya uang” ratusan miliar dolar. Ia dibentuk sebagai wadah pengelola investasi strategis dari aset negara yang sudah eksis. Di dalam portofolionya masuk kepemilikan atas BUMN-BUMN besar, mulai dari Bank Mandiri, BNI, BRI, hingga Pertamina, PLN, dan Telkom Indonesia, serta entitas strategis lain.

    Ketika aset-aset ini dikonsolidasikan, skala Danantara otomatis melonjak. Inilah yang membuat nilainya langsung masuk kategori raksasa global. Namun, bagi pasar, konsolidasi juga berarti tantangan, bagaimana aset yang beragam ini dikelola, dioptimalkan, dan diputar sebagai portofolio investasi yang produktif, bukan sekadar daftar kepemilikan.

    Dengan estimasi aset sekitar USD983 miliar, Danantara kini berada di peringkat keenam sovereign wealth fund (SWF) terbesar di dunia. Ia duduk di bawah raksasa lama seperti Government Pension Fund Global Norwegia (sekitar USD1,74 triliun) dan dua dana besar China, tetapi menyalip banyak SWF mapan lain.

    Posisi ini penting secara simbolik dan strategis. Di Davos, klaim “mitra setara” yang disampaikan Prabowo tidak berdiri di ruang hampa. Secara ukuran, Danantara memang sudah masuk klub besar. Tantangannya bukan lagi soal skala, melainkan kredibilitas pengelolaan dan rekam jejak investasi.

    Ke Mana Uang Akan Bergerak?

    Pasar global juga mencermati apa yang akan dilakukan Danantara setelah debutnya di WEF. Untuk 2026, Danantara disebut berencana menempatkan hingga USD14 miliar modal baru, terutama bersumber dari dividen BUMN dan sebagian dari pasar publik Indonesia. Sekitar setengah dana tersebut diarahkan ke pasar domestik, sementara sisanya dipertimbangkan masuk ke China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.

    Arah ini memberi sinyal bahwa Danantara tidak akan sepenuhnya home bias, tetapi juga tidak menjadi investor global tanpa jangkar nasional. Pola ini mendekati pendekatan SWF mapan, yakni menjaga kepentingan domestik, sambil mencari diversifikasi dan imbal hasil global.

    Di sisi pembiayaan, Danantara sudah mulai aktif. Penerbitan Patriot Bonds—termasuk sekitar USD3,6 miliar pada tahap awal—menunjukkan upaya membangun akses ke pasar keuangan global. Langkah lanjutan di pasar obligasi internasional juga tengah disiapkan, sebuah sinyal bahwa Danantara ingin diuji oleh mekanisme pasar, bukan hanya mengandalkan legitimasi politik.

    Dari sisi kemitraan, Danantara telah menjalin kerja sama dengan sejumlah sovereign wealth fund lain, misalnya dengan Qatar Investment Authority senilai USD4 miliar. Meski belum ada MoU besar yang diumumkan secara headline di Davos, pertemuan dengan investor institusional dan SWF lain difokuskan pada kolaborasi yang terukur dan transparan.

    Dengan angka-angka ini, Danantara kini berdiri di persimpangan penting. Skala asetnya sudah global. Ambisi politiknya jelas. Namun, bagi pasar internasional, fase berikutnya adalah yang paling menentukan, apakah Danantara mampu mengubah konsolidasi aset menjadi nilai tambah dan pidato menjadi transaksi nyata?(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).