Logo
>

Apa Itu Komoditas? Mengapa Ia Menggerakkan Ekonomi Global?

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Apa Itu Komoditas? Mengapa Ia Menggerakkan Ekonomi Global?
Komoditas seperti minyak, logam, dan pangan menggerakkan ekonomi global. Simak peran, risiko, dan mengapa harganya memengaruhi hidup sehari-hari. Foto: Dok, Arga Dirga

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Komoditas sering terdengar seperti istilah jauh dan teknis. Padahal, ia adalah bahan mentah yang diam-diam menggerakkan hidup sehari-hari. Tembaga, minyak mentah, gas alam, kedelai, sampai gula adalah bahan baku yang memberi makan dan energi bagi ekonomi global. Dari listrik yang menyala, kendaraan yang bergerak, hingga makanan di meja makan, semuanya bersentuhan dengan komoditas.

    Kita mungkin tak pernah turun ke ladang jagung atau berdiri di rig pengeboran minyak. Tapi sebagai konsumen, hampir tak ada yang benar-benar berada di luar pasar komoditas. Harga-harga komoditas menyusup ke kehidupan sehari-hari lewat harga BBM, tarif listrik, ongkos logistik, sampai harga bahan pangan. Ia juga menjadi salah satu instrumen investasi yang diperdagangkan setiap hari di pasar global, dengan dampak yang menjalar ke individu maupun dunia usaha.

    Karena itu, komoditas tak cuma relevan bagi investor. Pasar ini sering dibaca sebagai barometer sentimen pasar dan kesehatan ekonomi. Bahkan bagi mereka yang tidak pernah menyentuh kontrak berjangka atau ETF berbasis komoditas, pergerakan harga bahan mentah tetap layak diikuti. Ia memberi petunjuk ke mana arah ekonomi bergerak, apakah sedang ekspansi atau justru menahan napas.

    Komoditas di Sekitar Kita, dari Meja Makan hingga Pasar Global

    Bagi investor yang ingin memasukkan komoditas ke dalam portofolio, pilihannya beragam. Ada kontrak berjangka, ada exchange-traded fund atau ETF, ada pula saham-saham perusahaan yang bisnisnya langsung atau tak langsung bersentuhan dengan komoditas. Namun, mengutip Britannica Money, dunia komoditas punya logika yang berbeda dari saham dan obligasi. Cara perdagangannya lain, risikonya berbeda, dan faktor yang menggerakkan harganya sering kali datang dari luar pasar keuangan itu sendiri.

    Secara sederhana, komoditas adalah bahan mentah atau material yang belum diproses. Logam, minyak mentah, dan gas alam ditambang atau dipompa dari dalam bumi. Produk pertanian seperti jagung, kapas, kedelai, dan gandum tumbuh di ladang. Untuk kepentingan perdagangan, unit komoditas bersifat fungible. Satu gantang jagung dianggap setara dengan gantang jagung lainnya, tanpa melihat siapa yang menanam atau dari ladang mana ia berasal.

    Sebagian besar komoditas utama diperdagangkan lewat kontrak berjangka di bursa-bursa mapan seperti CME Group dan Intercontinental Exchange di Amerika Serikat. Sejarahnya bahkan bisa ditarik ke pertengahan abad ke-19, ketika para pedagang gandum berkumpul di Chicago untuk membeli dan menjual kontrak awal hasil panen. Hingga hari ini, minyak mentah masih menjadi komoditas paling aktif diperdagangkan di dunia, dengan kontrak berjangka yang mewakili miliaran barel berpindah tangan setiap hari.

    Jika dipetakan, komoditas biasanya dibagi ke dalam empat kelompok besar. Energi mencakup minyak mentah, gas alam, bensin, dan minyak pemanas yang menjadi bahan bakar transportasi dan industri global. Logam terbagi dua, logam mulia seperti emas dan perak, serta logam industri seperti tembaga dan aluminium yang dipakai dari elektronik hingga konstruksi. Pertanian mencakup jagung, gandum, kedelai, kapas, dan kopi, dengan harga yang naik-turun mengikuti musim tanam dan cuaca. Sementara peternakan meliputi sapi, babi, dan produk turunannya yang diperdagangkan di bursa berjangka dan sensitif terhadap biaya pakan serta kondisi alam.

    Pelaku pasar komoditas juga terbagi dua. Ada hedger atau pelaku usaha yang benar-benar memproduksi, mengolah, atau mendistribusikan komoditas. Mereka adalah perusahaan minyak dan gas, penambang, petani, hingga pengolah hasil ternak. Mereka masuk pasar untuk melindungi diri dari fluktuasi harga yang bisa menggerus laba. Di sisi lain ada spekulan, mulai dari bank, hedge fund, hingga individu yang memperdagangkan komoditas untuk mencari keuntungan dari naik-turunnya harga. Meski kerap dicap oportunis, spekulan berperan menjaga likuiditas dan efisiensi harga di pasar.

    Peran bursa berjangka menjadi krusial di sini. Seperti bursa saham, bursa komoditas menyediakan tempat terpusat dan teratur bagi pembeli dan penjual. Kontrak yang diperdagangkan bersifat standar. Dua pihak sepakat atas jumlah komoditas, harga, dan tanggal penyerahan di masa depan. Satu kontrak minyak mentah, misalnya, merepresentasikan 1.000 barel minyak West Texas Intermediate atau WTI. Meski secara teori bisa diserahkan secara fisik, hampir semua kontrak ditutup sebelum jatuh tempo. Tak ada investor ritel yang benar-benar berharap truk gandum berhenti di depan rumahnya.

    Cuaca, Geopolitik, dan Tarif, Mesin Penggerak Harga Komoditas

    Harga komoditas digerakkan oleh banyak faktor, dan sebagian besar sulit diprediksi. Cuaca dan geopolitik menjadi dua pemicu utama. Kekeringan atau banjir bisa memangkas hasil panen. Gelombang dingin menaikkan permintaan bahan bakar pemanas. Badai bisa menghentikan produksi dan pengiriman minyak. Karena itu, pelaku pasar komoditas selalu memantau prakiraan cuaca dan perkembangan global.

    Sejarah terbaru memberi contoh nyata. Pada 2022, rantai pasok global terguncang oleh invasi Rusia ke Ukraina, tepat saat dunia keluar dari pandemi. Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun, dan dampaknya merambat ke bensin serta solar. Kebijakan perdagangan pemerintah juga sering mengubah peta pasar. Pada 2018, Presiden Donald Trump mengenakan tarif tinggi pada baja dan aluminium, memicu lonjakan harga dan merusak rantai pasok yang sudah mapan. Ketika China membalas dengan tarif pada kedelai Amerika Serikat, harga kedelai anjlok hampir 20 persen dan arus perdagangan global bergeser.

    Dalam periode pemerintahan berikutnya, tarif pada mineral kritis dari China diperluas. Harga logam baterai seperti litium dan kobalt terdorong naik, sementara pembeli global mulai mencari pemasok alternatif ke Australia, Chile, dan Kanada. Entah karena cuaca, perang, atau kebijakan dagang, pasar komoditas cenderung bereaksi cepat, dan sering kali tajam, terhadap perubahan pasokan dan permintaan.

    Bagi investor individu, cara masuk ke pasar komoditas pun beragam. Kontrak berjangka memungkinkan investor membeli atau menjual komoditas di masa depan dengan harga tertentu. Opsi atas kontrak berjangka memberi hak, bukan kewajiban, untuk melakukan transaksi tersebut. ETF menawarkan cara yang lebih sederhana, diperdagangkan seperti saham dan bisa melacak satu komoditas, sekumpulan komoditas, atau indeks tertentu. Ada pula saham perusahaan publik yang bisnisnya langsung terkait dengan komoditas, seperti perusahaan tambang atau eksplorasi minyak, maupun yang terhubung secara tidak langsung, seperti produsen alat pertanian.

    Dari sisi portofolio, komoditas sering disebut sebagai investasi alternatif. Ia dianggap memiliki korelasi rendah dengan saham dan obligasi. Ketika pasar saham bergerak ekstrem, aset alternatif kadang bergerak berlawanan, atau setidaknya tidak sedalam saham. Inilah yang membuat komoditas kerap dipakai untuk diversifikasi.

    Namun, di balik potensi itu, risikonya juga besar. Pasar komoditas dikenal dengan pergerakan harga yang tajam dan cepat, jauh lebih volatil dibanding saham indeks besar. Harga-harga komoditas bergerak dalam siklus panjang, mengikuti ekspansi dan kontraksi ekonomi global. Tapi seperti semua siklus, ia bisa berakhir mendadak. Sifatnya yang cepat dan bergejolak membuat komoditas tidak cocok untuk semua investor.

    Di titik inilah komoditas menuntut sikap sadar risiko. Ia bisa menjadi penopang portofolio, tapi juga bisa menjadi sumber guncangan. Bagi yang mau memahaminya, komoditas bukan sekadar angka di layar. Ia adalah cermin dari cuaca, politik, kebijakan, dan denyut ekonomi dunia yang saling bersilang, sering kali dengan cara yang tak terduga.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).