KABARBURSA.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan strategi besar pemerintah dalam membangun ketahanan energi nasional, mulai dari mengaktifkan kembali sumur-sumur tua, mempercepat proyek migas yang mangkrak, hingga menghentikan impor tenaga surya.
Langkah-langkah yang dinilai mulai menunjukkan hasil, seiring pengakuan JP Morgan yang menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dari 52 negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia di tengah gejolak geopolitik global.
Bahlil mengatakan pencapaian tersebut bukan datang dari kondisi yang ideal. Menurut dia, Indonesia saat ini justru menghadapi tantangan besar karena telah bertransformasi dari negara eksportir minyak dan anggota OPEC menjadi negara importir energi.
Produksi minyak domestik saat ini hanya berada di kisaran 605 ribu barel per hari, sedangkan konsumsi nasional telah mencapai 1,6 juta barel per hari.
“Dalam kondisi ini kita harus memutar otak bagaimana caranya harus mencapai kemandirian energi,” kata Bahlil saat memberikan Aneka pada Forum Bisnis Himpunan Alumni IPB University, dikutip Senin 4 Mei 2026.
Di tengah ketimpangan itu, Bahlil menyebut tahun 2025 menjadi titik balik karena untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun produksi minyak nasional mampu melampaui target APBN.
Menurut dia, pencapaian ini lahir dari keberanian pemerintah mengambil keputusan-keputusan yang sebelumnya cenderung dihindari.
Salah satu langkah utama adalah mengaktifkan kembali sumur-sumur minyak tua yang selama ini dibiarkan tidak produktif, termasuk sumur peninggalan era kolonial Belanda yang sebenarnya masih menyimpan cadangan.
Pemerintah mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk menerapkan teknologi baru agar sumur-sumur tersebut dapat berproduksi kembali.
Dalam skema ini, negara menyediakan insentif dan membuka ruang keterlibatan masyarakat setempat agar pengelolaan sumur tua dapat dilakukan secara legal.
Selain itu, pemerintah juga menyoroti banyaknya wilayah kerja migas yang potensinya telah ditemukan dan rencana pengembangannya telah tersedia di atas kertas, namun bertahun-tahun belum dilaksanakan. Untuk proyek-proyek semacam ini, pemerintah mengambil pendekatan yang lebih tegas.
Bahlil mencontohkan Blok Abadi Masela yang selama hampir tiga dekade tidak bergerak. Menurutnya, proyek tersebut baru menunjukkan kemajuan setelah pemerintah memberikan batasan yang tegas kepada operator.
“Kalau kamu (INPEX) gak jalanin 6 bulan, saya cabut. Dan Alhamdulillah sekarang sudah tender Engineering, Procurement, and Construction (EPC)nya,” ujar Bahlil.
Dengan perkembangan itu, proyek senilai USD21 miliar di Maluku kini telah masuk tahap lelang konstruksi. Sementara di Kalimantan Timur, temuan baru di Blok Ganal juga diproyeksikan mulai berproduksi signifikan pada tahun 2029.
Di bidang bahan bakar minyak, Bahlil menyebut pencapaian paling nyata adalah penguatan impor sektor tenaga surya pada tahun 2026.
Menurutnya, hal ini menjadi tonggak baru karena untuk pertama kalinya Indonesia berhasil menghentikan impor tenaga surya.
Keberhasilan tersebut ditopang oleh kebijakan mandatori biodiesel yang dijalankan bertahap selama hampir satu dekade.
Saat ini, pencampuran tenaga surya dan minyak sawit telah mencapai 40 persen dan direncanakan naik menjadi 50 persen pada Juli mendatang.
Dengan skema itu, sebagian kebutuhan solar yang sebelumnya ditutup dari impor kini bisa digantikan oleh bahan bakar berbasis sawit yang diproduksi di dalam negeri.
Setelah solar, pemerintah juga menyiapkan langkah serupa untuk bensin. Bahlil mengatakan ia telah melakukan kunjungan ke Brasil untuk mempelajari implementasi campuran etanol pada bensin. Menurut dia, Indonesia memiliki bahan baku yang cukup melimpah, seperti singkong, jagung, dan tebu.
Pemerintah menargetkan kebijakan pencampuran etanol sebesar 20 persen pada bensin dapat mulai diterapkan pada tahun 2028. Jika target itu tercapai, impor bensin diperkirakan bisa berkurang signifikan.
“Kalau kita wajib 20 persen, berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter,” tegasnya.
Pada saat yang sama, pemerintah juga melakukan penyesuaian terhadap pasokan minyak mentah impor. Jika sebelumnya Indonesia banyak bergantung pada pasokan dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz, kini sumber impor mulai didiversifikasi dari Afrika, Amerika, hingga Rusia.
"Kalau bapak presiden berangkat untuk mencari minyak, itu bukan jalan-jalan. Kita jalan kerja memikirkan 280 juta nyawa yang ada di bangsa ini," ungkap Bahlil.
Menurut Bahlil, ketahanan energi tidak dibangun melalui satu kebijakan besar yang instan, melainkan melalui serangkaian langkah bertahap yang saling menopang.
Mulai dari optimalisasi sumur-sumur tua, percepatan pengembangan blok migas, pengurangan impor BBM, diversifikasi sumber energi, hingga penataan pasokan impor, semuanya diarahkan untuk memperkuat fondasi energi nasional dalam jangka panjang.
Dengan strategi itu, pemerintah ingin memastikan Indonesia tidak hanya bertahan di tengah tekanan geopolitik global, namun juga mampu bergerak menuju kemandirian energi yang lebih nyata. (*)