KABARBURSA.COM – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terpantau masih berlanjut di tengah ketidakpastian global yang kian memanas. Berdasarkan data terbaru pada Jumat, 24 April 2026, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.229 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menunjukkan pelemahan dibandingkan posisi beberapa hari sebelumnya yang sempat menyentuh kisaran Rp17.140 per dolar Amerika Serikat.
Pergerakan grafik dalam satu bulan terakhir memperlihatkan tren penguatan dolar AS yang cukup konsisten, sehingga memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas fundamental ekonomi domestik dalam menopang mata uang garuda.
Merespons kondisi tersebut, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, memberikan analisis mendalam mengenai anomali yang terjadi.
Meskipun Bank Indonesia (BI) menyatakan rupiah saat ini dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai fundamentalnya, namun fakta di pasar menunjukkan hal yang berbeda.
Menurut Achmad, kondisi fundamental yang baik seperti pertumbuhan ekonomi di level 5 persen dan inflasi yang terkendali ternyata tidak serta merta menjadi jaminan instan bagi penguatan rupiah di hadapan pasar global.
"Ketika Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa rupiah telah undervalued dibandingkan fundamental, pernyataan itu perlu dibaca sebagai diagnosis, bukan jaminan bahwa rupiah akan segera menguat," ungkap Achmad dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com pada Jumat, 24 April 2026.
Ia menilai bahwa nilai tukar bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari kepercayaan dan ekspektasi pasar. Achmad mengibaratkan ekonomi Indonesia seperti sebuah rumah dengan pondasi yang kokoh, namun lingkungan sekitarnya sedang dilanda cuaca buruk dan ketidakpastian.
Dalam konteks global, konflik di lran yang memicu lonjakan harga minyak serta kenaikan yield obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang membuat investor lebih memilih memegang dolar. Kondisi ini menyebabkan terjadinya capital outflow yang cukup signifikan, di mana data mencatat modal asing keluar mencapai Rp28 triliun pada kuartal I 2026.
Meskipun cadangan devisa Indonesia per akhir Maret 2026 masih terjaga di angka USD148,2 miliar, Achmad menekankan bahwa instrumen tersebut bukanlah sihir yang bisa membalikkan keadaan dalam sekejap. Intervensi yang dilakukan BI di pasar domestik maupun luar negeri merupakan strategi bertahan di tengah badai, namun tantangan struktural tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.
"Rupiah memang bisa saja undervalued, tetapi undervalued bukan berarti segera pulih. Pasar bisa salah harga dalam waktu lama, apalagi bila tekanan eksternal terus berulang," jelasnya.
Lebih lanjut, Achmad menyoroti ketergantungan struktural Indonesia terhadap dolar AS, mulai dari impor energi hingga volatilitas harga komoditas. Ia berpendapat bahwa untuk memperkuat rupiah secara berkelanjutan, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi moneter.
Diperlukan penguatan pada sisi ekspor bernilai tambah tinggi dan substitusi impor energi yang lebih nyata agar Indonesia tidak terus menerus menjadi sasaran empuk sentimen pasar keuangan global.
BI sendiri telah mematok target pertumbuhan ekonomi antara 4,9 hingga 5,7 persen untuk tahun 2026 dengan tingkat inflasi di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
Namun, Achmad mengingatkan bahwa pasar tidak memberikan penghargaan atas target semata, melainkan pada konsistensi kebijakan. Selama risiko geopolitik masih tinggi dan imbal hasil dolar tetap menarik, rupiah diprediksi masih akan berada dalam tekanan meskipun secara teori sudah tergolong murah.
"Rupiah saat ini sedang dihargai bukan semata oleh nilai ekonominya, tetapi oleh tingkat kecemasan dunia," pungkas Achmad. (*)