KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) optimistis laju inflasi ke depan akan tetap terjaga dalam koridor sasaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen. Artinya, tekanan harga diproyeksikan berada pada rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen sepanjang 2026 dan 2027.
Stabilitas tersebut bukan tanpa dasar. Sepanjang 2025, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) terbukti mampu dipertahankan sesuai target yang telah ditetapkan.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa inflasi yang tetap terjaga merupakan buah dari konsistensi arah kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral. Seperti dalam keterangan di Jakarta, Selasa 6 Desember 2026.
Tak hanya itu. Kendali inflasi juga diperkuat oleh sinergi yang solid antara BI dan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID). Upaya ini berjalan seiring dengan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin 5 Desember 2025 menunjukkan, inflasi IHK pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,64 persen secara bulanan (month to month/mtm). Dengan capaian tersebut, inflasi tahunan sepanjang 2025 berada di level 2,92 persen (year on year/yoy).
Secara bulanan, tekanan inflasi Desember 2025 meningkat dibandingkan November 2025 yang hanya mencatatkan inflasi 0,17 persen (mtm).
Peningkatan tersebut terutama bersumber dari kelompok harga bergejolak (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered prices). Sementara itu, inflasi inti menunjukkan pergerakan yang relatif stabil.
Inflasi inti tercatat sebesar 0,20 persen (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,17 persen (mtm). Kenaikan ini terutama dipicu oleh pergerakan harga komoditas emas perhiasan dan minyak goreng.
Di sisi lain, inflasi kelompok volatile food melonjak signifikan menjadi 2,74 persen (mtm), dari posisi 0,02 persen (mtm) pada bulan sebelumnya. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah. Faktor cuaca yang mengganggu pasokan, tingginya biaya input peternakan, serta lonjakan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru (HBKN Nataru) menjadi pemicunya.
Inflasi administered prices juga mencatatkan kenaikan. Secara bulanan, kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,37 persen (mtm), meningkat dari 0,24 persen (mtm) pada November 2025.
Tekanan harga administered prices terutama berasal dari komoditas bensin, tarif angkutan udara, serta tarif angkutan antarkota. Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode HBKN Nataru turut memperkuat tren tersebut.
Secara tahunan, inflasi IHK 2025 tetap berada dalam rentang sasaran. Kondisi ini ditopang oleh terjaganya seluruh komponen inflasi utama.
Inflasi inti tercatat rendah di level 2,38 persen (yoy). Capaian ini sejalan dengan konsistensi kebijakan suku bunga dalam menjangkar ekspektasi inflasi, kapasitas ekonomi domestik yang masih longgar, terkendalinya imported inflation melalui stabilisasi nilai tukar rupiah, serta kontribusi positif dari percepatan digitalisasi.
Inflasi volatile food secara tahunan juga relatif terkendali pada level 6,21 persen (yoy). Hal ini didukung oleh upaya berkelanjutan dalam menjaga ketersediaan pasokan pangan, sinergi erat BI dengan TPIP-TPID, serta penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional di berbagai wilayah.
Sementara itu, inflasi kelompok administered prices tercatat sebesar 1,93 persen (yoy), sejalan dengan minimnya kebijakan penyesuaian harga yang diatur pemerintah sepanjang tahun.(*)