Logo
>

BMRI Alihkan 485,33 Juta Saham ke BP BUMN: Sinyal Apa?

Pengalihan saham BMRI dari DAM ke BP BUMN bersifat administratif dan tidak mengubah kendali negara, sementara harga saham masih bergerak melemah dalam fase konsolidasi menunggu arah.

Ditulis oleh Yunila Wati
BMRI Alihkan 485,33 Juta Saham ke BP BUMN: Sinyal Apa?
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Foto: Dok Bank Mandiri.

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dialihkan Sebagian dari PT Danantara Asset Management (DAM) ke Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN). Secara teknis, Bank Mandiri mengalihkan sebanyak 485,33 juta saham Seri B atau setara 0,52 persen kepemilikan dari DAM kepada BP BUMN. 

Transaksi ini dilakukan pada 5 Januari 2026 dan dilaporkan secara resmi kepada Otoritas Jasa Keuangan pada 7 Januari 2026. Setelah pengalihan tersebut, BP BUMN kini tercatat memiliki 1 persen saham Bank Mandiri, terdiri dari satu saham Seri A Dwiwarna dan 485,33 juta saham Seri B. 

Sebelumnya, BP BUMN hanya memegang saham Seri A Dwiwarna tanpa kepemilikan saham Seri B.

Namun yang terpenting, perubahan ini tidak mengubah status negara sebagai pengendali akhir. Pemerintah tetap menjadi pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) Bank Mandiri, baik melalui kepemilikan langsung saham Seri A Dwiwarna maupun kepemilikan tidak langsung melalui DAM dan BP BUMN. 

Dengan kata lain, yang berpindah hanyalah “kantong administrasi” kepemilikan, bukan kontrol ekonomi atau pengaruh strategis atas perseroan.

Jika dilihat dari sisi angka, porsi saham Seri B milik DAM memang berkurang, dari sebelumnya 48,53 miliar lembar menjadi 48,05 miliar lembar. Namun DAM tetap memegang porsi mayoritas saham Seri B negara. 

Artinya, struktur kepemilikan negara secara agregat di Bank Mandiri tetap utuh, hanya mengalami redistribusi internal agar selaras dengan amanat Undang-Undang BUMN yang mengatur fungsi pengelolaan dan pengawasan aset negara.

Bagi pasar modal, implikasi langsung dari transaksi ini relatif netral. Tidak ada saham yang dilepas ke publik, tidak ada perubahan free float, dan tidak ada dilusi. Karena transaksi bersifat pengalihan antar-entitas negara, tidak muncul tekanan jual maupun tambahan pasokan saham di pasar. 

Ini menjelaskan mengapa aksi ini lebih dikategorikan sebagai corporate housekeeping ketimbang katalis harga saham.

Saham BMRI Terus Melemah

Jika dilihat pergerakan sahamnya, belum ada perubahan arah tren yang drastis. Harga BMRI pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026, berada level 4.830, turun 1,02 persen dari penutupan sebelumnya. 

Penurunan ini terjadi setelah saham dibuka di 4.890 dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 4.900 sebelum tekanan jual mendorongnya turun hingga 4.800.

Secara intraday, pergerakan BMRI cenderung berat di sisi atas. Upaya harga untuk bertahan di atas area 4.900 tidak mendapatkan dukungan lanjutan dari pembeli, sehingga tekanan jual bertahap muncul. 

Namun, penurunan juga tidak berlangsung agresif. Area 4.800 masih berfungsi sebagai penahan sementara, menandakan bahwa aksi jual lebih bersifat profit taking jangka pendek ketimbang distribusi besar-besaran.

Dari sisi aktivitas, volume transaksi sekitar 2,35 juta lot dengan nilai Rp136,8 miliar tergolong moderat untuk ukuran saham bank besar. Tidak terlihat lonjakan volume yang biasanya menyertai fase pelepasan posisi institusional. 

Ini memperkuat pembacaan bahwa pasar sedang menyesuaikan ekspektasi setelah reli sebelumnya, bukan bereaksi terhadap sentimen negatif fundamental.

Jika ditarik ke rentang waktu yang lebih panjang, tekanan jangka pendek ini kontras dengan kinerja tiga bulan terakhir yang masih mencatatkan kenaikan dua digit. Artinya, pelemahan harian dan mingguan lebih mencerminkan koreksi teknikal setelah kenaikan sebelumnya. 

Sementara itu, performa satu bulan dan year to date yang masih berada di zona merah menunjukkan bahwa BMRI belum sepenuhnya keluar dari fase sideways menengah.

Secara keseluruhan, pergerakan BMRI saat ini berada dalam fase menunggu arah. Pasar tampak berhati-hati, dengan pembeli dan penjual sama-sama belum agresif. Selama harga mampu bertahan di atas area 4.800 dan tidak disertai lonjakan volume jual, koreksi ini lebih tepat dibaca sebagai jeda konsolidasi sebelum menentukan langkah berikutnya, bukan awal dari tren penurunan yang lebih dalam.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79