KABARBURSA.COM— Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bencana alam yang terjadi di sejumlah provinsi di Sumatera pada akhir 2025 berdampak pada perlambatan ekonomi daerah, meski tidak sampai mengguncang pertumbuhan ekonomi nasional.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan konsumsi rumah tangga di wilayah terdampak bencana tercatat mengalami kontraksi atau melambat pada kuartal IV 2025.
“Untuk wilayah bencana memang pertumbuhan konsumsi rumah tangganya secara year on year mengalami kontraksi atau melambat. Dampaknya akan terlihat di rilis masing-masing BPS provinsi,” ujar Amalia dalam konferensi pers, Kamis, 5 Februari 2026.
Meski demikian, Amalia menegaskan dampak bencana bersifat lokal karena hanya terjadi di beberapa provinsi, bukan di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, tekanan ekonomi daerah tersebut tidak signifikan mempengaruhi kinerja ekonomi nasional yang masih tumbuh 5,39 persen pada kuartal IV 2025.
Menurut Amalia, tingkat dampak bencana berbeda di tiap wilayah. Di Sumatera, misalnya, Aceh mengalami tekanan lebih besar dibanding Sumatera Barat yang relatif lebih ringan.
“Ada yang parah sekali seperti di Aceh, ada juga yang relatif tidak separah Aceh. Itu nanti tercermin dalam PDB provinsi,” jelasnya.
Selain Sumatera, BPS juga menyoroti perlambatan ekonomi di Papua Tengah yang menjadi wilayah dengan pertumbuhan terendah pada 2025. Penyebab utamanya berasal dari sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan produksi.
“Di Papua Tengah terjadi perlambatan karena produksi pertambangan terganggu, misalnya akibat insiden luapan lumpur material basah dan kejadian lain yang menghambat proses produksi,” kata Amalia.
Kondisi ini berdampak pada kinerja ekonomi regional, meskipun secara nasional sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian tetap mampu menjadi penopang utama pertumbuhan.
Amalia menjelaskan, setiap gangguan aktivitas ekonomi di daerah, baik akibat bencana alam maupun hambatan produksi, akan tercatat dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
“Begitu aktivitas ekonomi melambat di sektor riil, itu langsung tercermin dalam data pertumbuhan ekonomi kami,” ujarnya. (Nade) (*)