Logo
>

Bursa Asia Kompak Naik Tiga Persen

Bursa Asia reli di awal pekan 2026 dengan likuiditas kuat. Investor mengabaikan risiko geopolitik dan kembali fokus pada tema AI, komoditas, serta pemulihan siklus industri global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Bursa Asia Kompak Naik Tiga Persen
Ilustrasi. Foto: AI untuk KabarBursa.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Penutupan perdagangan Asia pada Senin, 5 Januari 2026, sangat solid. Hampir semua saham naik hingga 3 persen. Sepertinya pasar tidak terlalu terpengaruh dengan kabar dramatis dari Amerika Latin.

    Di Indonesia, sentimen global itu langsung tercermin pada lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan. IHSG menutup hari dengan penguatan tajam 1,27 persen ke level 8.859, naik 111 poin hanya dalam satu sesi. 

    Kenaikan ini terjadi dengan likuiditas yang kuat, ditandai volume transaksi 686,4 juta lot dan nilai transaksi Rp29,71 triliun. Artinya, reli tidak berdiri di atas likuiditas tipis, melainkan didukung partisipasi pasar yang luas di awal pekan perdana 2026.

    Kepemimpinan penguatan di pasar domestik datang dari saham-saham LQ45 berbasis komoditas dan energi, seperti BUMI, MDKA, INCO, ANTM, hingga AMMN. Ini sejalan dengan pola rotasi global yang terlihat hari ini, di mana investor mulai kembali ke saham-saham berbasis siklus dan material. 

    Menariknya, saham-saham defensif konsumsi dan telekomunikasi seperti TLKM juga ikut menguat, memberi sinyal bahwa penguatan IHSG bersifat cukup merata, bukan hanya spekulatif.

    Sebaliknya, tekanan terlihat di sektor teknologi dan media. Saham-saham seperti EMTK, GOTO, MTEL, dan DIVA berada di jajaran top losers. Ini mencerminkan rotasi yang jelas dari sektor growth domestik ke sektor yang lebih terkait dengan komoditas dan industri dasar. 

    Penguatan sektor basic industry sebesar 2,62 persen menegaskan arah ini, dengan INKP dan TKIM kembali menjadi penopang utama, didukung ekspektasi pemulihan siklus global dan permintaan industri.

    Di tingkat regional, Asia menunjukkan reli yang bahkan lebih agresif. Nikkei 225 melonjak hampir 3 persen mendekati rekor tertinggi, didorong kombinasi data manufaktur Jepang yang kembali stabil dan optimisme awal tahun. 

    Jepang menjadi cermin bagaimana pasar merespons fundamental domestik yang membaik, bukan terjebak pada gejolak geopolitik eksternal. Kenaikan Topix memperkuat gambaran bahwa reli bersifat luas, tidak hanya terpusat pada saham-saham besar tertentu.

    Korea Selatan dan Taiwan bahkan mencetak rekor baru. Kospi naik lebih dari 3 persen, sementara Taiex menguat lebih dari 2,5 persen ke atas level 30.000. Di sinilah narasi AI menjadi sangat dominan. Investor global semakin yakin bahwa lonjakan belanja AI, khususnya dari Amerika Serikat, akan terus mengalir ke Asia Utara melalui rantai pasok semikonduktor. 

    Taiwan, dengan TSMC sebagai pemain kunci, dan Korea Selatan sebagai basis manufaktur teknologi, menjadi penerima manfaat langsung. Penilaian Goldman Sachs bahwa sebagian besar dolar investasi AI AS berakhir di Asia kini benar-benar tercermin di harga saham.

    Sementara itu, pasar Tiongkok bergerak lebih moderat. Shanghai Composite dan CSI300 tetap menguat, tetapi tanpa euforia seperti Jepang dan Korea. Ini menunjukkan pasar China masih dibayangi pendekatan yang lebih hati-hati, baik terhadap kebijakan domestik maupun pemulihan ekonomi yang berjalan bertahap. 

    Hang Seng nyaris stagnan, mencerminkan kehati-hatian investor global terhadap aset Hong Kong meski kawasan lain sedang reli.

    Menariknya, di tengah lonjakan saham energi domestik, harga minyak global justru melemah. Pasar menilai aksi militer AS di Venezuela tidak akan mengganggu pasokan energi global secara signifikan. 

    Pandangan ini memperlihatkan kedewasaan pasar: risiko geopolitik dipilah antara dampak politik jangka panjang dan dampak ekonomi jangka pendek. Untuk saat ini, pasar memilih percaya bahwa suplai energi global tetap aman.

    Pergerakan mata uang Asia juga menguatkan narasi risk-on yang selektif. Yen Jepang melemah tipis, rupiah terdepresiasi ringan ke 16.740 per dolar AS, sementara yuan justru menguat. Ini menunjukkan arus modal belum sepenuhnya defensif ke dolar AS, melainkan masih mencari peluang di pasar saham Asia, meski dengan kehati-hatian terhadap mata uang negara berkembang.

    Secara keseluruhan, penutupan bursa Asia hari ini menggambarkan pasar yang optimistis tetapi rasional. Investor tidak mengabaikan risiko geopolitik, namun memilih untuk menempatkannya sebagai latar belakang, bukan faktor penentu utama. 

    Fokus utama tetap pada tema struktural, terutama AI, pemulihan industri, dan siklus komoditas. Dengan IHSG ikut mencetak reli kuat, Asia menutup hari pertama pekan penuh 2026 dengan pesan yang tegas: sentimen global sedang condong ke peluang pertumbuhan, bukan ketakutan.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79