KABARBURSA.COM – Saham-saham Eropa mengawali perdagangan pasca-libur dengan mencetak rekor penutupan baru pada Senin, 29 Desember 2025, didorong oleh penguatan saham teknologi dan sektor berbasis konsumen.
Meski demikian, kenaikan indeks relatif terbatas karena tekanan dari saham pertahanan dan keuangan.
Seperti dilansir Reuters, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup naik tipis 0,09 persen ke level 589,25, mencatatkan rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah.
Di berbagai bursa regional, pergerakan juga cenderung terbatas. Indeks CAC 40 Prancis, DAX Jerman, dan IBEX Spanyol masing-masing ditutup sedikit lebih tinggi, sementara indeks FTSE London berakhir stagnan.
Saham teknologi, ritel, serta makanan dan minuman menjadi penopang utama indeks. Sebaliknya, sektor pertahanan dan dirgantara turun hampir 1 persen, seiring investor mencerna perkembangan terbaru terkait pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Ukraina.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy “semakin mendekati” kesepakatan. Namun, isu perbatasan yang belum terselesaikan tetap memicu kehati-hatian pasar. Saham Leonardo turun 2 persen, sementara Rheinmetall dan Hensoldt masing-masing melemah sekitar 1 persen.
Kewaspadaan pelaku pasar juga meningkat setelah Rusia menyatakan Ukraina berupaya melakukan serangan di dekat kediaman Presiden Vladimir Putin di wilayah Novgorod, Rusia. Moskow menyebut insiden tersebut berpotensi memaksa Rusia meninjau kembali sikapnya dalam negosiasi.
Tekanan juga datang dari sektor keuangan. Meski demikian, sektor ini tetap menjadi salah satu yang berkinerja terbaik sepanjang 2025 dengan kenaikan sekitar 65 persen. Analis menilai peningkatan aktivitas merger dan akuisisi, lingkungan regulasi yang lebih longgar, serta kondisi ekonomi yang relatif stabil menjadi faktor pendorong utama.
Menjelang akhir tahun, indeks Stoxx 600 berada di jalur untuk mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 2021. Penguatan tersebut ditopang oleh tren penurunan suku bunga, komitmen belanja fiskal Jerman, serta langkah investor yang mendiversifikasi portofolio dari saham teknologi Amerika Serikat yang dinilai mahal.
“2025 menjadi tahun dengan dua fase bagi investor saham. Secara keseluruhan pasar bertahan cukup baik, namun memasuki 2026, ketegangan global dan prospek ekonomi yang beragam berpotensi memicu volatilitas harga saham yang lebih tajam,” ujar Derren Nathan, Head of Equity Research di Hargreaves Lansdown.
Pada pekan perdagangan yang dipersingkat oleh libur ini, perhatian investor tertuju pada rilis risalah rapat terakhir Federal Reserve Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada Selasa. Bank sentral AS telah memangkas suku bunga awal bulan ini dan memproyeksikan hanya satu kali pemangkasan tambahan tahun depan, sementara pelaku pasar memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan dan mengantisipasi Ketua The Fed berikutnya akan bersikap lebih dovish.
Di antara saham individual, Ion Beam Applications melonjak 4,6 persen setelah perusahaan peralatan radiopharmaceutical tersebut mengumumkan keberhasilannya memenangkan kontrak sistem terapi proton ProteusPlus di Korea Selatan. (*)