KABARBURSA.COM – Kebutuhan akan emas ternyata masih tinggi. Fungsi emas saat ini bukan sekadar instrument lindung nilai jangka pendek, tetapi menjadi aset strategis jangka panjang. Tren bullish perdagangan emas masih kuat meskipun volatilitas selalu membayangi.
China, sebagai konsumen emas terbesar di dunia, membeberkan catatan. Cadangan emas Negeri Tirai Bambu ini per akhir Desember 2025 mencapai mencapai 74,15 juta ons, naik 30.000 ons dari bulan sebelumnya.
Ini menjadi bulan ke-14 berturut-turut People’s Bank of China (PBOC) terus menambah emas ke neracanya.
Pesan yang ingin disampaikan Beijing sangat jelas, emas kini menjadi komponen inti dalam arsitektur cadangan devisa mereka. Tetapi, dalam konteks geopolitik yang semakin terfragmentasi, ketergantungan pada dolar AS dinilai semakin berisiko.
Orient Golden Credit Rating Wang Qing, menyebut langkah ini sebagai bagian dari optimalisasi struktur cadangan internasional. Sementara China Minsheng Bank Wen Bin, menegaskan bahwa tren de-dollarization global memperkuat posisi emas sebagai aset moneter alternatif. Dengan kata lain, permintaan emas saat ini bukan hanya soal spekulasi, tetapi soal kebijakan negara.
Kenaikan harga emas juga mencerminkan dinamika makro yang mendukung. Pada Desember lalu, The Fed memangkas suku bunga sesuai ekspektasi, sehingga memperlemah opportunity cost memegang emas.
Pada saat yang sama, konflik Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, serta meningkatnya ketegangan AS-Venezuela, menciptakan lapisan baru permintaan safe haven. Tak heran jika harga spot emas London melonjak 2,36 persen sepanjang Desember, dan bahkan menyentuh rekor intraday di USD4.550,52 per ons pada 29 Desember.
Tren Besar Masih Muncul di Awal Tahun
Memasuki awal 2026, tren ini belum patah. Harga sempat kembali menembus USD4.500 secara intraday, sebelum stabil di sekitar USD4.477 per ons. Volatilitas meningkat, tetapi arah besar tetap naik.
Ming Ming dari CITIC Securities bahkan menyebut probabilitas emas untuk terus naik sangat tinggi. Alasannya bukan hanya soal konflik geopolitik, melainkan kombinasi kebijakan moneter longgar dan kebijakan fiskal ekspansif AS. Ditambah lagi kebijakan pemerintahan Donald Trump yang dinilai meningkatkan tekanan stagflasi.
Namun menariknya, analis CITIC juga mengingatkan bahwa sebagian faktor pendorong emas pada 2025 kemungkinan tidak akan sekuat itu pada 2026. Tapi ini bukan berarti emas kehilangan tenaga.
Justru, konflik geopolitik global yang tidak kunjung membaik, ditambah pembelian agresif bank sentral, akan tetap menjadi penopang utama harga. Permintaan struktural ini berbeda dengan spekulasi jangka pendek. Bank sentral tidak membeli emas untuk trading, tetapi untuk menata ulang fondasi sistem moneter mereka.
Kenaikan harga yang begitu cepat juga membawa konsekuensi baru di sektor perbankan. Beberapa bank besar di China mulai memperketat persyaratan risiko bagi produk investasi emas.
ICBC, misalnya, kini mewajibkan nasabah ritel menjalani asesmen toleransi risiko sebelum bisa berinvestasi dalam produk emas terakumulasi. Ini mengindikasikan satu hal penting, regulator dan bank melihat emas bukan lagi sebagai aset “tenang”, melainkan instrumen dengan volatilitas tinggi yang harus diperlakukan layaknya aset berisiko.
Pasar Logam Bergerak Agresif
Sementara itu, pasar logam secara keseluruhan juga sedang memasuki fase yang sangat agresif. Harga tembaga di LME menembus rekor USD13.000 per ton, didorong oleh kombinasi pasokan yang mengetat, tarif AS, dan risiko kekurangan pasokan.
Lonjakan ini memicu kembali spekulasi merger raksasa antara Rio Tinto dan Glencore, yang jika terjadi akan menciptakan grup tambang terbesar dunia dengan valuasi lebih dari USD263 miliar. Ini menandakan bahwa pasar komoditas tidak hanya naik karena permintaan, tetapi juga karena perubahan struktur industri.
Perak pun ikut mencuri perhatian. Dalam sepekan, harganya melonjak sekitar 6 persen. Tidak seperti emas yang dominan sebagai safe haven, perak mendapatkan dorongan ganda: sebagai aset lindung nilai sekaligus bahan baku penting untuk elektrifikasi dan energi terbarukan.
Ini menjadikan perak sebagai hybrid asset yang sangat sensitif terhadap arah kebijakan energi global.
Jika dirangkum, emas saat ini berada dalam rezim baru. Ini bukan lagi sekadar aset lindung nilai saat krisis, melainkan bagian dari strategi moneter negara-negara besar. Ketika bank sentral membeli emas, mereka tidak sedang mencari return, melainkan stabilitas sistemik.
Itu sebabnya tren naik emas hari ini jauh lebih tahan banting dibandingkan reli spekulatif di masa lalu.
Ke depan, arah emas tampaknya akan tetap bullish, meski dengan volatilitas tinggi. Harga bisa terkoreksi dalam jangka pendek, tetapi fondasi utamanya—geopolitik, de-dolarisasi, kebijakan moneter longgar, dan pembelian bank sentral—masih sangat solid.
Dalam konteks ini, emas bukan hanya mencerminkan ketakutan pasar, melainkan juga pergeseran kekuatan global. Dan selama pergeseran itu belum selesai, reli emas belum punya alasan kuat untuk benar-benar berhenti.(*)