Logo
>

China Tantang Dominasi AI AS, Berjudi pada Inovasi di Tengah Keterbatasan Chip

Startup AI China mencuri perhatian pasar global, meski masih dibayangi keterbatasan mesin pembuat chip dan kesenjangan investasi komputasi.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
China Tantang Dominasi AI AS, Berjudi pada Inovasi di Tengah Keterbatasan Chip
China menantang dominasi AI Amerika Serikat dengan inovasi dan pengambilan risiko tinggi, meski terkendala mesin chip dan infrastruktur komputasi. Foto: Digital Watch Observatory

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Langit persaingan kecerdasan buatan global makin mendung, tapi di Beijing justru terasa seperti pagi yang sibuk. Di tengah pembatasan teknologi dari Amerika Serikat, para peneliti AI terkemuka China melihat satu celah yang terus melebar. Bukan pada alat, melainkan pada keberanian mengambil risiko dan naluri berinovasi. Mereka meyakini, kesenjangan teknologi dengan AS masih bisa dikejar, bahkan dipersempit, meski satu batu sandungan besar masih menghadang, mesin pembuat chip paling canggih.

    Optimisme itu terasa kuat pekan ini ketika dua perusahaan rintisan yang dijuluki macan AI China, MiniMax dan Zhipu AI, mencatatkan debut yang solid di Bursa Saham Hong Kong. Kehadiran mereka di lantai bursa menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap sektor AI domestik tengah naik kelas. Beijing sendiri sedang mendorong gelombang pencatatan saham perusahaan AI dan chip, sebagai bagian dari upaya membangun alternatif teknologi dalam negeri di tengah tekanan pembatasan dari Barat.

    Di tengah suasana itu, suara dari seorang peneliti yang pernah berada di jantung pengembangan AI global ikut mencuri perhatian. Yao Shunyu, mantan peneliti senior di OpenAI yang kini ditunjuk Tencent sebagai kepala ilmuwan AI sejak Desember lalu, menyampaikan pandangan yang berani. Ia melihat peluang nyata bagi perusahaan China untuk memimpin dunia AI dalam waktu relatif singkat, meski hambatan teknis masih nyata.

    “Ada kemungkinan besar sebuah perusahaan China akan menjadi perusahaan AI terkemuka di dunia dalam tiga hingga lima tahun ke depan,” ujar Yao dalam sebuah konferensi AI di Beijing. Namun ia tak menutup mata pada tantangan utama yang membelit. “Saat ini, kami memiliki keunggulan signifikan dalam hal listrik dan infrastruktur. Hambatan utama adalah kapasitas produksi, termasuk mesin litografi, dan ekosistem perangkat lunak,” katanya, dikutip dari Reuters, Minggu, 11 Januari 2026.

    Pernyataan itu menyentuh titik krusial dalam peta persaingan teknologi global. Mesin litografi ultraviolet ekstrem merupakan jantung produksi chip semikonduktor tercanggih. China memang dilaporkan telah menyelesaikan prototipe mesin semacam itu, yang secara teori mampu menyaingi buatan Barat. Namun prototipe tersebut belum menghasilkan chip yang benar-benar berfungsi, dan menurut sumber yang memahami persoalan ini, realisasi chip siap pakai baru mungkin tercapai sekitar 2030.

    Di sisi lain, kesenjangan investasi juga menjadi sorotan dalam diskusi para pelaku industri. Amerika Serikat masih unggul jauh dalam hal daya komputasi, terutama karena investasi masif dalam infrastruktur teknologi. Fakta ini diakui terbuka oleh para insinyur dan pemimpin teknis China yang hadir di forum tersebut.

    “Infrastruktur komputer AS kemungkinan satu hingga dua kali lipat lebih besar daripada milik kita. Tetapi saya melihat bahwa, baik itu OpenAI atau platform lain, mereka berinvestasi besar-besaran dalam penelitian generasi berikutnya,” kata Lin Junyang, pemimpin teknis Alibaba, dalam diskusi panel di AGI-Next Frontier Summit yang digelar oleh Laboratorium Utama Model Dasar Beijing di Universitas Tsinghua.

    Lin menggambarkan posisi China yang harus bermain dengan sumber daya lebih terbatas. “Di sisi lain, kami relatif kekurangan dana; pengiriman saja kemungkinan besar menghabiskan sebagian besar infrastruktur komputer kami,” ujarnya. Namun keterbatasan itu justru melahirkan pendekatan yang berbeda. Tekanan sumber daya memaksa para peneliti China berpikir lebih efisien dan kreatif.

    Menurut Lin, kondisi ini mendorong inovasi melalui perancangan bersama antara algoritma dan perangkat keras. Pendekatan itu memungkinkan perusahaan AI menjalankan model besar dengan perangkat keras yang lebih kecil dan lebih murah. Dalam bahasa lain, keterbatasan dipaksa menjadi keunggulan.

    Nada serupa disampaikan oleh Tang Jie, pendiri Zhipu AI, perusahaan yang baru saja menghimpun dana HK$4,35 miliar melalui penawaran umum perdana sahamnya. Tang melihat perubahan budaya di kalangan pengusaha AI muda China sebagai sinyal positif bagi masa depan sektor ini.

    “Saya pikir jika kita dapat memperbaiki lingkungan ini, memberikan lebih banyak waktu bagi individu-individu cerdas dan berani mengambil risiko ini untuk terlibat dalam upaya-upaya inovatif… ini adalah sesuatu yang dapat dibantu oleh pemerintah dan negara kita,” kata Tang.

    Ucapannya menyinggung satu karakter yang selama ini identik dengan Silicon Valley, keberanian mengambil risiko tinggi, yang kini mulai tumbuh di ekosistem teknologi China.

    Di balik semua optimisme itu, realitas persaingan global tetap keras. Amerika Serikat masih unggul dalam investasi, kapasitas komputasi, dan rantai pasok chip canggih. Namun China menunjukkan bahwa jalan menuju kepemimpinan teknologi tidak selalu lurus. Ia bisa berliku, dipenuhi keterbatasan, tetapi justru di sanalah inovasi menemukan momentumnya.

    Dalam lanskap AI global yang terus bergerak, Beijing tampaknya sedang menyiapkan strategi jangka panjang. Bukan sekadar mengejar ketertinggalan, melainkan membangun jalur sendiri, dengan risiko tinggi, sumber daya terbatas, dan ambisi besar untuk menutup jarak dengan raksasa teknologi dunia.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).