KABARBURSA.COM – Pasar minyak global belum benar-benar keluar dari zona panas. Citi melihat, harga minyak masih memiliki ruang kenaikan yang lebih tinggi jika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran berjalan alot.
Citi masih mempertahankan proyeksi harga Brent untuk periode nol hingga tiga bulan di level USD120 per barel. Bank tersebut memperkirakan Brent akan berada di rata-rata USD110 per barel pada kuartal II, lalu turun ke USD95 per barel pada kuartal III, dan menuju USD80 per barel pada kuartal IV.
Di sini, Citi masih menempatkan ketegangan geopolitik sebagai faktor utama yang mengangkat premi risiko minyak dalam jangka pendek. Skenario dasar mereka tetap mengarah pada meredanya gangguan di Selat Hormuz pada akhir Mei. Tetapi, sulitnya mencapai kesepakatan membuat risiko kenaikan harga dalam waktu dekat semakin besar.
Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif dalam cerita ini. Jalur tersebut merupakan nadi penting perdagangan minyak global, di mana setiap gangguan di kawasan itu langsung dibaca pasar sebagai ancaman pasokan.
Ketika pembicaraan diplomatik tersendat, harga minyak langsung mendapat bahan bakar baru untuk bergerak lebih tinggi.
Namun ada faktor lain yang membuat gerak minyak semakin licin. Penarikan persediaan, pelepasan cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve, penurunan impor China, pelemahan permintaan, hingga sinyal de-eskalasi yang muncul secara berkala ikut memainkan peran penting.
Permintaan China Bisa Jadi Penyelamat
Salah satu penahan terbesar datang dari China. Citi memperkirakan impor minyak China pada April dan Mei dapat turun sekitar 2,4 juta barel per hari menjadi sekitar 9,2 juta barel per hari, dari rata-rata 2025 sekitar 11,6 juta barel per hari.
Penurunan permintaan dari konsumen energi besar seperti China ini bisa membuat tekanan di pasar fisik minyak global tidak sepenuhnya meledak.
Meski begitu, Citi menilai pasar masih terlalu santai membaca risiko yang ada. Frasa under-pricing duration and tail risks menjadi sinyal bahwa harga saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kemungkinan konflik berlangsung lebih lama atau gangguan pasokan terjadi lebih ekstrem.
Aktivitas Rig AS Naik
Dari sisi pasokan Amerika Serikat, aktivitas pengeboran mulai menunjukkan kenaikan tipis. Baker Hughes melaporkan, jumlah rig minyak dan gas AS naik satu unit, menjadi 548 rig. Ini adalah kenaikan tiga pekan beruntun pertama sejak awal Februari.
Jumlah rig minyak naik dua unit menjadi 410 rig, tertinggi sejak pertengahan April. Sebaliknya, rig gas turun satu unit menjadi 129 rig, terendah sejak akhir April. Sementara, rig lain-lain tetap berjumlah sembilan unit.
Namun, kenaikan tersebut belum cukup mengubah gambaran besar. Total rig AS masih turun 30 unit atau sekitar 5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah rig juga terus menyusut, turun 20 persen pada 2023, 5 persen pada 2024, dan 7 persen pada 2025.
Produsen energi AS masih berhati-hati. Perusahaan memilih untuk lebih fokus menjaga arus kas, membayar utang, dan mengembalikan dana kepada pemegang saham, ketimbang agresif mengejar peningkatan produksi.
EIA bahkan memperkirakan produksi minyak mentah AS turun tipis dari rekor 13,6 juta barel per hari pada 2025 menjadi 13,5 juta barel per hari pada 2026. Ini menarik, karena harga WTI diperkirakan naik pada 2026 akibat perang Iran, tetapi output justru tidak langsung ikut melonjak.
Proyeksi Produksi Gas AS
Di pasar gas, arahnya berbeda. Produksi gas AS diproyeksikan naik dari rekor 107,7 miliar kaki kubik per hari pada 2025 menjadi 109,6 miliar kaki kubik per hari pada 2026. Harga gas Henry Hub juga diperkirakan naik sekitar 4 persen pada tahun depan.
Dengan kombinasi itu, pasar minyak global sedang bergerak dalam dua tarikan besar. Di satu sisi, konflik AS-Iran dan risiko Selat Hormuz menjaga harga tetap mahal. Di sisi lain, turunnya impor China, pelepasan cadangan strategis, dan sinyal de-eskalasi sesekali membuat lonjakan harga tidak sepenuhnya lepas kendali.
Untuk saat ini, minyak masih diperdagangkan dengan cerita utama yang sama: pasar menunggu apakah diplomasi AS-Iran mampu mendinginkan risiko pasokan, atau justru membuat Brent semakin dekat dengan skenario Citi di USD120 per barel.(*)