KABARBURSA.COM – Harga emas dunia kembali bergerak naik pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat dan menutup pekan dengan penguatan yang cukup solid. Namun kali ini pergerakannya berbeda. Kenaikannya tidak hanya dipicu kepanikan perang atau lonjakan inflasi, tetapi juga ekspektasi meredanya tensi konflik Timur Tengah.
Di pasar spot, harga emas dunia naik 0,7 persen ke level USD4.719,68 per troy ounce. Sementara kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 0,4 persen di USD4.730,70 per ounce. Sepanjang pekan ini, harga emas global sudah naik sekitar 2,3 persen.
Kenaikan muncul saat pasar membaca peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Peluang itu menekan harga energi dan dolar AS, dua faktor yang selama ini menjadi penentu besar arah emas dunia.
Biasanya emas diburu ketika ketegangan geopolitik memanas. Namun kali ini emas justru bergerak seperti aset berisiko (risk asset), bukan sekadar tempat berlindung saat pasar panik.
Penurunan Suku Bunga dan Data Kinerja AS
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures David Meger, mengatakan penguatan emas saat ini lebih banyak dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve. Menurutnya, ketika harga energi turun dan ancaman inflasi mulai mereda, pasar mulai kembali membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter AS.
Hal itu benar terjadi. Pasar memang mulai mengurangi taruhan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga AS tahun ini turun menjadi sekitar 14 persen dari sebelumnya sekitar 22 persen.
Sentimen tersebut ikut diperkuat pelemahan indeks dolar AS sepanjang pekan ini. Karena, ketika dolar melemah, harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung meningkat.
Meski begitu, data tenaga kerja AS yang stabil dan tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar, sempat membuat harga emas bergerak lebih volatile. Sebab, suku bunga tinggi biasanya menjadi tekanan bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Namun pasar tampaknya lebih fokus pada arah geopolitik dan peluang penurunan tekanan inflasi global dibanding kekuatan data ekonomi jangka pendek.
Pasar Emas India Lesu
Di tengah penguatan emas global, kondisi pasar fisik di Asia justru mulai bervariasi, khususnya di India dan China.
Di India, permintaan emas terlihat mulai melemah meski musim pernikahan sedang berlangsung. Harga emas domestik yang sudah terlalu tinggi membuat banyak konsumen memilih menunda pembelian.
Harga emas di India kini diperdagangkan di kisaran 152.600 rupee per 10 gram atau setara sekitar USD1.614. Dalam satu tahun terakhir, harga emas di negara tersebut sudah melonjak sekitar 57 persen.
Lonjakan itu membuat pasar perhiasan India mulai kehilangan tenaga. Para dealer emas di India bahkan menawarkan diskon hingga USD15 per ounce dibanding harga resmi domestik. Padahal pekan sebelumnya diskon hanya sekitar USD5 per ounce.
Seorang pedagang emas di Hyderabad mengakui itu. Kenaikan harga yang terlalu tinggi mulai menghambat pembelian masyarakat.
Kondisi tersebut ikut tercermin dari data impor emas India. Impor emas April diperkirakan turun ke level sekitar 15 metrik ton, mendekati titik terendah dalam hampir 30 tahun terakhir. Penurunan itu juga dipicu tekanan pajak yang mulai membebani perbankan domestik India.
China Semakin Gencar Akumulasi
Berbeda dengan India, pasar China justru masih terlihat cukup kuat. Premi emas di China tetap bertahan di kisaran USD14 hingga USD20 per ounce di atas harga global. Angka itu relatif stabil dibanding pekan sebelumnya.
Stabilnya premi tersebut memperlihatkan investor China masih aktif memburu emas sebagai instrumen lindung nilai (safe haven), terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran inflasi global.
Peter Fung dari Wing Fung Precious Metals mengatakan, investor China masih melihat emas sebagai aset perlindungan yang penting di tengah ketidakpastian Timur Tengah dan arah ekonomi global.
Minat besar China terhadap emas juga terlihat dari langkah bank sentral negara tersebut. People’s Bank of China tercatat kembali menambah cadangan emas pada April 2026. Itu menjadi bulan ke-18 berturut-turut China melakukan akumulasi emas.
Pasar China sendiri sempat relatif sepi karena libur panjang pada 1–5 Mei. Namun permintaan investasi emas tetap bertahan meski harga global terus naik.
Pasar Asia Kasih Diskon Emas
Sementara itu, pasar emas di kawasan Asia lain bergerak lebih tenang. Di Hong Kong, emas diperdagangkan dari diskon USD0,50 hingga premium USD2 per ounce.
Di Jepang, emas dijual dengan diskon USD0,50 hingga USD5,50. Sedangkan di Singapura, harga emas bergerak dari diskon USD1 hingga premium USD3,50 per ounce.
Selain emas, logam mulia lain juga bergerak menguat sepanjang pekan. Harga perak spot melonjak 2,5 persen ke USD80,4 per ounce dan platinum naik 1,3 persen ke USD2.047,88. Sementara palladium justru turun tipis 0,5 persen ke USD1.487,71 per ounce.(*)