Logo
>

Wall Street Pesta Lagi, Nvidia Bikin Nasdaq Terbang ke Rekor Baru

S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor tertinggi didorong ledakan saham AI, sementara data tenaga kerja AS yang kuat membuat pasar makin yakin The Fed belum buru-buru memangkas suku bunga.

Ditulis oleh Yunila Wati
Wall Street Pesta Lagi, Nvidia Bikin Nasdaq Terbang ke Rekor Baru
Euforia AI dorong Wall Street berpesta pora di akhir pekan. Indeks sektor teknologi naik 2,7 persen dan mencetak rekor baru lagi. (Foto: New York City)

KABARBURSA.COM – Wall Street kembali menutup perdagangan akhir pekan dengan pesta reli. S&P 500 dan Nasdaq kompak mencetak rekor tertinggi baru pada Jumat waktu setempat, atau Sabtu pagi, 9 Mei 2026.

Euforia kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi bahan bakar pasar. Sementara membaiknya data ketenagakerjaan Amerika Serikat membuat investor semakin percaya ekonomi Negeri Paman Sam itu masih sangat solid.

Nasdaq menjadi bintang utamanya. Indeks teknologi tersebut melesat 1,71 persen ke level 26.247,08 dan kembali mencatat rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. 

S&P 500 ikut menguat 0,84 persen ke posisi 7.398,93, dan juga menorehkan level tertinggi baru. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average bergerak jauh lebih terbatas dengan kenaikan tipis 0,02 persen ke 49.609,16.

Catatan ini memperlihatkan bahwa uang investor sedang mengalir deras ke saham-saham teknologi dan AI. 

Nama yang kembali memimpin reli adalah Nvidia. Saham perusahaan pembuat chip AI tersebut naik 1,8 persen dan kembali menjadi magnet utama pasar. 

Namun bukan hanya Nvidia yang bergerak liar. Saham Micron Technology dan Sandisk masing-masing melesat lebih dari 15 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan perangkat memori dan penyimpanan data seiring ekspansi besar-besaran pusat data AI global.

Reli itu ikut mendorong indeks semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index atau SOX melonjak tajam. Bahkan sepanjang kuartal kedua 2026, indeks chip tersebut sudah melesat sekitar 55 persen. 

Euforia AI juga tercermin dari kinerja sektor teknologi di S&P 500. Indeks sektor teknologi naik 2,7 persen dan menjadi motor utama penguatan pasar. Sebaliknya, sektor utilitas yang biasanya diburu saat pasar defensif justru turun 0,9 persen. 

Tingkat Pengangguran AS Bertahan di Level 4,3 Persen

Optimisme pasar semakin tebal setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih sangat tangguh. Jumlah tenaga kerja baru pada April tercatat lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar. Sementara, tingkat pengangguran bertahan di level 4,3 persen.

Data itu langsung memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve belum memiliki alasan untuk segera memangkas suku bunga. Pelaku pasar kini memperkirakan suku bunga acuan AS akan tetap berada di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen sampai akhir tahun.

Suku bunga tinggi biasanya menjadi tekanan bagi saham teknologi. Namun kali ini pasar justru membaca kondisi tersebut secara berbeda. Investor melihat ekonomi AS masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan laba perusahaan, terutama emiten teknologi berbasis AI yang sedang menikmati lonjakan permintaan.

Indeks S&P Bertumbuh 29 Persen YoY

Ekspektasi itu tercermin dari musim laporan keuangan kuartal pertama 2026. Data LSEG menunjukkan laba emiten S&P 500 diperkirakan tumbuh hampir 29 persen secara tahunan. Sebagian besar pertumbuhan tersebut datang dari perusahaan teknologi besar yang terkait AI.

Dari 440 emiten S&P 500 yang sudah merilis laporan keuangan, sekitar 83 persen berhasil melampaui ekspektasi analis. Persentase itu jauh di atas rata-rata historis jangka panjang yang berada di kisaran 67 persen.

Pasar bahkan mulai mengabaikan risiko geopolitik yang sebenarnya masih memanas, di mana ketegangan terbaru antara AS dan Iran kembali mendorong harga minyak dunia naik. Brent sempat menembus level USD100 per barel setelah harapan penyelesaian konflik memudar.

Saham Teknologi Berkinerja Buruk

Namun pasar saham AS tampak memilih fokus pada kekuatan laba korporasi dan momentum AI dibanding ancaman inflasi dari lonjakan minyak. Investor terlihat percaya dampak ekonomi AS dari konflik tersebut masih bisa dikendalikan untuk sementara waktu.

Meski demikian, tidak semua saham menikmati pesta reli Wall Street. Sejumlah emiten justru mengecewakan.

Saham Cloudflare anjlok 24 persen setelah perusahaan layanan cloud tersebut mengumumkan pemangkasan sekitar 20 persen tenaga kerja dan memberikan proyeksi pendapatan kuartal kedua di bawah ekspektasi pasar. 

CoreWeave juga jatuh 11,4 persen setelah menaikkan proyeksi belanja modal tahunan akibat kenaikan biaya komponen.

Sementara itu, Expedia turun 9 persen setelah menyebut konflik Timur Tengah mulai mengganggu permintaan perjalanan internasional. Trade Desk ikut melemah 1,8 persen karena proyeksi pendapatan kuartal kedua yang dinilai kurang memuaskan.

Meski indeks utama mencetak rekor, pergerakan saham sebenarnya tidak sepenuhnya merata. Di dalam S&P 500, jumlah saham yang turun bahkan lebih banyak dibanding yang naik dengan rasio sekitar 1,4 banding satu. 

Volume transaksi juga relatif tipis. Perdagangan di bursa AS tercatat sekitar 17,2 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir yang mencapai 17,6 miliar saham.

Namun secara keseluruhan, pasar tetap mempertahankan tren bullish yang sangat kuat. S&P 500 dan Nasdaq kini sudah mencatat enam pekan kenaikan beruntun, menjadi reli mingguan terpanjang sejak Oktober 2024. 

Sepanjang tahun berjalan 2026, S&P 500 sudah naik sekitar 8 persen, sementara Nasdaq melesat 13 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79