Logo
>

Coinbase PHK 700 Karyawan, Efisiensi Berkedok AI di Tengah Pasar Kripto yang Lesu

Langkah efisiensi Coinbase terjadi saat volume transaksi kripto melemah, meski harga Bitcoin sempat menguat.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Coinbase PHK 700 Karyawan, Efisiensi Berkedok AI di Tengah Pasar Kripto yang Lesu
Coinbase PHK 700 karyawan di tengah pasar kripto melemah, efisiensi dipicu tekanan volume transaksi dan adopsi AI. Foto: Getty Images

KABARBURSA.COM — Perusahaan bursa kripto Coinbase kembali memangkas tenaga kerja di tengah kondisi pasar yang belum stabil. Sekitar 700 karyawan atau setara 14 persen dari total tenaga kerja global dipangkas sebagai bagian dari langkah restrukturisasi.

Langkah ini bukan sekadar efisiensi biasa. Di balik alasan penghematan biaya, perusahaan juga mulai menggeser arah bisnisnya untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kecerdasan buatan yang makin cepat.

Coinbase menyebut kondisi pasar kripto yang fluktuatif menjadi salah satu pemicu utama keputusan ini. Di saat yang sama, gelombang pemutusan hubungan kerja juga tengah terjadi di banyak perusahaan Amerika Serikat yang berupaya merampingkan operasi dan menyesuaikan diri dengan penggunaan teknologi AI.

Perusahaan menyatakan proses pengurangan karyawan ini akan selesai pada kuartal kedua 2026. Meski melakukan efisiensi, Coinbase tetap menegaskan posisi keuangannya masih kuat untuk jangka panjang.

“Perusahaan memiliki permodalan yang kuat dan berada dalam posisi untuk pertumbuhan jangka panjang, namun kondisi pasar saat ini mengharuskan kami merampingkan operasi agar dapat menjadi lebih efisien dan siap menghadapi siklus berikutnya,” tulis Coinbase dalam pernyataan resminya, dikutip dari Reuters, Selasa, 5 Mei 2026.

Di sisi lain, CEO Coinbase Brian Armstrong menyoroti perubahan besar yang dibawa oleh teknologi AI dalam operasional perusahaan. Menurutnya, kemajuan AI membuat banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga kini bisa disederhanakan.

“Alat-alat baru memungkinkan tim non-teknis untuk mengembangkan kode dan mengotomatisasi tugas yang sebelumnya membutuhkan jumlah tenaga kerja yang lebih besar,” ujar Armstrong.

Untuk menjalankan restrukturisasi ini, Coinbase memperkirakan akan mengeluarkan biaya sekitar USD50 juta hingga USD60 juta atau setara Rp845 miliar hingga Rp1,01 triliun. Biaya tersebut sebagian besar terkait pesangon karyawan dan kompensasi pemutusan hubungan kerja lainnya, yang akan dibukukan pada kuartal kedua 2026.

Perusahaan juga mengakui adanya potensi biaya tambahan jika terjadi kondisi tak terduga selama proses restrukturisasi berlangsung.

Fenomena pemangkasan tenaga kerja ini bukan pertama kali terjadi di Coinbase. Perusahaan sebelumnya juga telah melakukan langkah serupa saat pasar kripto mengalami penurunan, yang menunjukkan betapa sensitifnya sektor ini terhadap aktivitas perdagangan dan sentimen investor.

Di tengah kenaikan saham sekitar 4 persen pada perdagangan prapasar, keputusan ini mencerminkan dilema klasik industri teknologi. Di satu sisi, perusahaan berbicara tentang pertumbuhan jangka panjang, tetapi di sisi lain, efisiensi tetap dilakukan dengan mengorbankan tenaga kerja.

Pada akhirnya, langkah ini memperlihatkan bahwa di era AI, efisiensi bukan lagi sekadar strategi bisnis, melainkan kebutuhan yang mulai menggantikan peran manusia dalam banyak lini operasional.

Harga Naik, Aktivitas Sepi

Di balik langkah efisiensi Coinbase, kondisi pasar kripto sendiri belum sepenuhnya pulih. Harga Bitcoin memang sempat menguat ke kisaran USD80.000 hingga USD81.000 atau sekitar Rp1,35 miliar hingga Rp1,37 miliar, dengan kapitalisasi pasar mendekati USD1,6 triliun. Secara nominal, angka ini terlihat solid, apalagi sempat mencatat kenaikan lebih dari 5 persen dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, jika ditarik lebih dalam, reli tersebut belum mencerminkan kebangkitan yang utuh. Harga Bitcoin masih jauh dari puncaknya di atas USD100.000 pada 2025, menandakan pasar masih berada dalam fase pemulihan yang belum stabil.

Kondisi yang lebih krusial justru terlihat dari sisi aktivitas perdagangan. Volume transaksi di berbagai platform mengalami penurunan signifikan, terutama dari investor ritel. Di sejumlah platform, volume bahkan tercatat turun tajam secara tahunan, mencerminkan melemahnya partisipasi pasar.

Fenomena ini menciptakan anomali. Harga aset naik, tetapi aktivitas perdagangan justru menyusut. Bagi pelaku bursa seperti Coinbase, kondisi ini menjadi tekanan langsung karena sumber pendapatan utama berasal dari biaya transaksi, bukan dari kenaikan harga aset.

Dari sisi kinerja, Coinbase sebenarnya masih mencatatkan pendapatan sekitar USD6,9 miliar atau setara Rp116,6 triliun sepanjang 2025, dengan laba bersih mencapai USD1,3 miliar atau sekitar Rp21,97 triliun. Namun, tren terbaru menunjukkan perlambatan. Pendapatan kuartal keempat hanya mencapai USD1,78 miliar atau sekitar Rp30,08 triliun, di bawah ekspektasi pasar.

Lebih jauh, pendapatan dari transaksi justru tertekan. Segmen konsumen tercatat turun hingga 45 persen, sementara segmen institusi melemah sekitar 5 persen. Ini menjadi sinyal bahwa aktivitas trading, yang selama ini menjadi mesin utama pendapatan, mulai kehilangan tenaga.

Di tengah tekanan tersebut, perusahaan mulai menggeser arah bisnis. Pendapatan dari layanan berlangganan dan jasa lainnya tumbuh sekitar 13 persen, sementara pendapatan dari stablecoin melonjak hingga 61 persen. Pergeseran ini menunjukkan upaya Coinbase untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada volatilitas pasar.

Faktor lain yang ikut mempercepat perubahan ini adalah perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Penggunaan AI memungkinkan efisiensi operasional dengan kebutuhan tenaga kerja yang lebih kecil, sekaligus mempercepat otomatisasi proses yang sebelumnya bergantung pada sumber daya manusia.

Tren ini juga tidak terjadi secara terpisah. Di level industri, sejumlah perusahaan teknologi dan kripto mulai melakukan langkah serupa, menandakan bahwa efisiensi dan adaptasi teknologi menjadi bagian dari siklus baru.

Dalam konteks ini, langkah pemangkasan karyawan oleh Coinbase tidak hanya mencerminkan tekanan pasar, tetapi juga perubahan struktural dalam model bisnis industri kripto yang mulai bergeser dari sekadar platform perdagangan menuju layanan keuangan digital yang lebih luas.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).