KABARBURSA.COM – Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun mulai menunjukkan penurunan, meski masih dalam ruang yang terbatas. Setelah sempat menyentuh kisaran 6,9 persen—level tertinggi dalam setahun terakhir—yield kini bergerak turun ke sekitar 6,81 persen.
Penurunan ini menunjukkan adanya perubahan sentimen yang mulai mereda, terutama dari sisi domestik. Data pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen menjadi salah satu pemicu utama, menandai laju ekspansi tercepat sejak akhir 2022.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kombinasi konsumsi rumah tangga yang tetap solid, peningkatan belanja pemerintah, serta investasi tetap yang masih terjaga. Struktur ini memberi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik masih berada dalam jalur yang stabil.
Di saat yang sama, tekanan inflasi juga menunjukkan pelonggaran. Inflasi tahunan April tercatat 2,42 persen, turun ke level terendah dalam delapan bulan dan masih berada dalam rentang target Bank Indonesia di kisaran 1,5–3,5 persen.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inflasi yang terkendali menciptakan ruang stabilitas bagi pasar obligasi. Dalam kondisi ini, tekanan terhadap yield cenderung mereda karena ekspektasi terhadap kebijakan moneter menjadi lebih terukur.
Namun, penurunan yield yang terjadi belum menunjukkan perubahan arah yang signifikan. Pergerakan masih tertahan dalam kisaran tinggi, mencerminkan bahwa tekanan eksternal dan faktor risiko domestik belum sepenuhnya hilang.
Dari sisi fiskal, ruang pemerintah dinilai semakin terbatas. Kebutuhan pembiayaan untuk berbagai program prioritas berpotensi meningkatkan tekanan terhadap penerbitan utang, yang pada akhirnya dapat menahan penurunan yield lebih dalam.
Selain itu, risiko inflasi dari sisi biaya masih membayangi. Kenaikan harga energi global serta pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi mendorong tekanan harga, yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap inflasi ke depan.
Faktor global juga menjadi penahan utama. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun masih berada di kisaran 4,44 persen, mencerminkan biaya dana global yang tetap tinggi.
Kondisi ini membuat selisih imbal hasil (yield spread) antara Indonesia dan Amerika Serikat tetap menjadi perhatian investor. Ketika yield global tinggi, ruang penurunan yield domestik cenderung terbatas karena investor tetap mempertimbangkan risiko relatif.
Dalam konteks ini, penurunan yield SUN ke level 6,81 persen lebih mencerminkan fase stabilisasi dibandingkan perubahan tren. Sentimen domestik yang membaik mulai memberikan bantalan, namun belum cukup kuat untuk mendorong penurunan yang lebih dalam.(*)