Logo
>

Danantara Mulai Bicara Angka di Davos, Investasi hingga USD14 Miliar Tahun ini

Di sela World Economic Forum Davos, Danantara mengungkap rencana penempatan investasi hingga USD14 miliar pada 2026, bersumber dari dividen BUMN dan pasar keuangan.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Danantara Mulai Bicara Angka di Davos, Investasi hingga USD14 Miliar Tahun ini
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, berbicara dalam sesi diskusi di (WEF) 2026 di Davos, Swiss, membahas arah investasi Danantara dan strategi penempatan modal Indonesia di tengah dinamika ekonomi global. Foto: Tangkapan Layar YouTube World Economic Forum.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Di tengah riuh World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, pembicaraan soal Danantara Indonesia mulai bergeser dari simbol dan pidato politik ke hal yang lebih konkret: angka, sektor, dan sumber dana. Setelah Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Danantara sebagai instrumen strategis Indonesia di panggung global, kini giliran manajemennya membuka peta jalan investasi.

    Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, menyatakan sovereign wealth fund tersebut menargetkan penempatan investasi hingga USD14 miliar (sekitar Rp235,9 triliun) sepanjang tahun ini. Dana tersebut terutama berasal dari dividen bisnis-bisnis yang sudah dimiliki negara, bukan dari utang baru atau penyertaan modal tambahan.

    “Tahun lalu kami sudah berkomitmen sekitar USD8 miliar … tetapi total tahun ini menjadi USD14 miliar yang harus kami salurkan,” ujar Pandu dalam Reuters Global Markets Forum, di sela-sela WEF, Kamis, 22 Januari 2026.

    Pernyataan ini penting karena menandai pergeseran fase Danantara dari sekadar platform konsolidasi aset menjadi mesin alokasi modal aktif.

    Selain mengandalkan dividen, Pandu juga mengonfirmasi Danantara telah menerbitkan obligasi untuk membantu pendanaan. Dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan, Danantara berencana kembali ke pasar dengan penerbitan obligasi Patriot tahap kedua.

    Namun, ia memberi catatan penting, bahwa skala penerbitan berikutnya akan lebih kecil dan sepenuhnya bergantung pada minat investor.

    Langkah ini menunjukkan pendekatan yang relatif hati-hati. Alih-alih agresif mengejar utang murah, Danantara tampak ingin menjaga keseimbangan antara akses pasar global dan disiplin pembiayaan. Ini bisa dibaca sebagai sinyal yang biasanya dicari investor institusional.

    Sebagai pengingat, Danantara—singkatan dari Daya Anagata Nusantara—resmi diluncurkan pada Februari 2025 oleh Presiden Prabowo dengan modal awal USD20 miliar (sekitar Rp337 triliun). Dana awal ini ditujukan untuk memulai sekitar 20 proyek strategis, menjadi fondasi awal sebelum konsolidasi aset BUMN memperbesar skala kelolaan Danantara.

    Berdasarkan mandat resminya, Danantara ditugaskan untuk mengelola aset negara secara profesional dan transparan, sekaligus mendukung transformasi ekonomi Indonesia dan memperkuat daya saing nasional. Pandu juga memaparkan prioritas investasi Danantara untuk 12 hingga 24 bulan ke depan. Fokus utamanya mencakup:

    • Energi terbarukan dan transisi energi,
    • Infrastruktur digital,
    • Kesehatan, dan
    • Ketahanan pangan.

    Ia mengaitkan prioritas tersebut dengan tantangan demografi Indonesia yang kini populasinya hampir menyentuh 300 juta. Pernyataan ini menegaskan agenda Danantara tidak hanya berbasis return finansial, tetapi juga berangkat dari kebutuhan struktural domestik—narasi yang kerap digaungkan di Davos, tetapi kini dibawa Indonesia dengan contoh konkret.

    Dari sisi strategi penempatan dana, Danantara akan membagi portofolio ke pasar publik dan privat. Sekitar 50 persen investasi tahun ini diarahkan ke pasar publik, terutama di Indonesia. Sisanya akan dipertimbangkan ke berbagai kawasan, mulai dari China, India, Jepang, Korea Selatan, hingga Eropa.

    Strategi ini menunjukkan Danantara tidak sepenuhnya home bias, tetapi juga tidak melepas jangkar domestik. Ia mencoba berdiri di tengah: menjaga kepentingan nasional sambil membangun diversifikasi global.

    Mengejar Kredibilitas, Menutup “Defisit Kepercayaan”

    Di balik semua angka itu, Pandu mengakui ada tantangan non-finansial yang harus dibereskan lebih dulu. Ia menyebut Danantara tengah fokus membangun kredibilitas dan standar tata kelola, untuk mengurangi apa yang ia sebut sebagai “defisit kepercayaan” terhadap institusi besar Indonesia di mata global.

    Sebagai bagian dari upaya itu, Danantara telah mengantongi peringkat kredit BBB dari Fitch Ratings—setara dengan peringkat utang pemerintah Indonesia. Selain itu, Danantara juga telah membangun kemitraan dengan sovereign wealth fund lain dengan total nilai sekitar USD45 miliar (sekitar Rp758,3 triliun), termasuk kerja sama yang sebelumnya diumumkan dengan Qatar.

    Jika pidato Prabowo di Davos memberi pesan politik bahwa Indonesia ingin menjadi mitra setara, pernyataan Pandu Sjahrir memberi lapisan berikutnya. Pemerintah ingin bagaimana ambisi itu diterjemahkan ke dalam angka dan strategi investasi.

    Bagi investor global, inilah fase krusial Danantara. Bukan lagi soal seberapa besar aset yang diklaim, melainkan bagaimana USD14 miliar itu ditempatkan, dikelola, dan dipertanggungjawabkan. Dari sinilah reputasi Danantara akan dibentuk.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).