KABARBURSA.COM — Reli saham-saham logistik belakangan membuat sektor ini kembali ramai di layar perdagangan. Di tengah indeks yang sensitif, sejumlah emiten transportasi dan pelayaran, seperti PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), dan PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG), mencatat pergerakan harga yang terlihat tidak selalu sejalan dengan headline kinerja keuangan. Bagi investor ritel, lonjakan dan stagnasi itu kerap terlihat janggal, padahal di situlah pasar sedang bekerja membaca risiko yang lebih dalam.
Logistik bukan bisnis etalase seperti ritel konsumer. Di balik angka penjualan dan laba, ada struktur kontrak, utilisasi aset, serta relasi pelanggan dan vendor yang menentukan apakah sebuah perusahaan bisa bertahan ketika satu simpul terganggu. Di sinilah pergerakan saham logistik kerap tidak bisa dibaca hanya dengan pendekatan “ramai order” atau “laba naik”.
“Bisnis logistik itu beda total dengan bisnis konsumer jualan Indomie dan kacang. Di konsumer, ribuan pembeli kecil bikin penjualan menyebar, jadi satu pelanggan hilang biasanya tidak bikin runtuh. Di logistik, yang diburu justru kebalikannya, kontrak besar, volume stabil, rute jelas, utilisasi aset tidak nganggur,” tulis founder Pintar Saham, Ngurah Warman, di platform Stockbit.
Pola itu menjelaskan mengapa pasar sering kali bersikap dingin terhadap emiten yang terlihat sibuk bekerja. Dalam logistik, stabilitas memang lahir dari kontrak besar dan pelanggan jangkar, tetapi justru dari sana pula risiko struktural bermula. Ketika satu pelanggan memegang porsi dominan, keseimbangan daya tawar perlahan bergeser dari emiten ke pihak pemberi kontrak.
“Makanya pola pelanggan di sektor ini sering sengaja dibuat terkonsentrasi, karena truk dan kapal itu mahal, parkir sehari saja rasanya seperti bakar uang. Tetapi konsentrasi yang sama juga jadi titik lemah, karena satu pelanggan jangkar bisa punya daya tawar untuk tekan tarif, tunda bayar, atau putus kontrak,” kata Ngurah.
Pasar, dalam kondisi seperti itu, tidak sedang menghukum kinerja. Pasar sedang menimbang seberapa rapuh arus kas jika satu keputusan bisnis berubah. Di fase volatil, ketergantungan sering kali lebih menakutkan daripada laba yang terlihat rapi di laporan keuangan.
Ketika Vendor dan Pelanggan Sama-Sama Mengunci Biaya
Risiko dalam bisnis logistik tidak berhenti di sisi pelanggan. Struktur biaya pun kerap terkunci pada vendor tertentu, mulai dari bahan bakar, perawatan, galangan, hingga asuransi. Dalam kondisi normal, hubungan ini terlihat efisien. Namun di mata pasar, konsentrasi biaya bisa menjadi tanda tanya yang sama besarnya dengan konsentrasi pendapatan.
“Di saat pasar saham lagi sensitif, investor sering lebih takut ke risiko ketergantungan dibanding terpukau oleh laba. Dan di logistik, risiko itu tidak cuma dari pelanggan, tapi juga dari vendor, karena bahan bakar, perawatan, asuransi, dan suku cadang bisa mengunci biaya,” tulis Ngurah.
Pada beberapa emiten, konsentrasi vendor bahkan melibatkan pihak berelasi. Kondisi ini membuat margin terlihat stabil, tetapi sekaligus memunculkan diskon kepercayaan dari pasar. Contoh yang sering disorot adalah ketika hampir setengah biaya pokok pendapatan bergantung pada satu entitas yang masih berada dalam lingkar relasi. “Pola pertama adalah biaya operasional terkunci ke satu vendor besar, yang bikin margin bisa kelihatan rapi tapi gampang jadi bahan curiga ketika transaksinya berelasi,” jelas Ngurah.
Sementara itu, ada pula emiten yang biaya vendornya terkonsentrasi pada pemasok bahan bakar atau asuransi besar. Secara operasional, ini masuk akal. Namun bagi investor, ketergantungan tetap berarti keterbatasan fleksibilitas ketika harga atau syarat berubah.
Di titik ini, pasar tidak sedang memvonis benar atau salah. Pasar sedang menyusun peta risiko siapa yang mengendalikan harga, siapa yang bisa menunda pembayaran, dan siapa yang bisa memutus kontrak tanpa banyak ruang negosiasi.
Dua Dunia Saham Logistik: Captive Market dan Diversifikasi
Jika ditarik lebih jauh, saham logistik di IHSG terlihat terbagi ke dalam dua dunia. Dunia pertama adalah emiten dengan captive market ekstrem, hidup dari satu atau dua pelanggan jangkar. Dunia kedua adalah emiten yang mencoba bertahan dengan diversifikasi pelanggan meski kompleksitas operasionalnya lebih tinggi.
Di kelompok pertama, stabilitas pendapatan datang dengan harga yang mahal, yakni ketergantungan. Ada emiten yang lebih dari 90 persen pendapatannya bergantung pada satu pelanggan. Ada pula yang nyaris seluruh bisnisnya bertumpu pada dua kontrak utama. Selama kontrak itu berjalan, bisnis tampak aman. Namun ketika satu simpul terganggu, dampaknya bersifat biner.
“Masuk ke kontribusi pelanggan, di sinilah sektor logistik IHSG kelihatan seperti dua dunia. Dunia pertama adalah captive market ekstrem, hidup dari satu sampai dua pelanggan jangkar, dan angka-angkanya tidak main-main,” kata Ngurah.
Pasar biasanya membaca struktur seperti ini dengan hati-hati. Bukan karena bisnisnya buruk, melainkan karena ruang manuvernya sempit. Satu perubahan strategi pelanggan bisa langsung tercermin pada utilisasi aset dan arus kas.
Sebaliknya, dunia kedua diisi oleh emiten yang pendapatannya lebih tersebar. Diversifikasi ini membuat valuasi cenderung lebih tahan banting, meski tidak selalu menghasilkan pertumbuhan paling cepat. Risiko kehilangan satu kontrak tidak otomatis mematikan bisnis.
“Dunia kedua adalah yang lebih mendekati open market, walau tetap ada konsentrasi yang wajar untuk bisnis aset berat,” katanya.
Namun diversifikasi bukan tanpa harga. Operasional menjadi lebih kompleks, efisiensi tidak selalu setinggi model captive, dan kebutuhan manajemen kontrak menjadi jauh lebih rumit. Pasar membaca ini sebagai trade-off antara stabilitas semu dan ketahanan jangka panjang.
Pada akhirnya, pergerakan saham logistik yang terlihat “aneh” sering kali bukan cerminan sepinya bisnis. Justru sebaliknya, pasar sedang menilai siapa yang terlalu dominan dalam rantai nilai, baik sebagai pelanggan maupun vendor. Dalam bisnis aset berat, ketergantungan adalah pedang bermata dua.
“Kalau harga saham logistik kelihatan aneh, sering bukan karena bisnis sepi, tapi karena pasar sedang menilai rantai ketergantungan siapa yang terlalu dominan,” kata Ngurah.
Di tengah reli selektif dan ekspektasi pertumbuhan, investor ritel perlu membaca lebih dari sekadar grafik harga dan headline laba. Struktur kontrak, komposisi pelanggan, dan peta vendor menjadi penentu bagaimana pasar memberi premi atau diskon pada sebuah emiten.
Saham logistik, pada akhirnya, bukan soal siapa yang paling sibuk mengangkut barang. Tapi soal siapa yang paling mampu bertahan ketika satu kontrak goyah dan siapa yang masih punya pilihan ketika negosiasi tidak lagi seimbang.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.