Logo
>

Dikebut Buat EV, tapi Nikel Indonesia Masih Lari ke Baja

Ekspor feronikel Indonesia ke China meningkat, tetapi serapan untuk baterai EV masih minim. Industri stainless steel tetap menjadi pasar utama nikel, sementara hilirisasi ke EV belum sesuai ekspektasi.

Ditulis oleh Dian Finka
Dikebut Buat EV, tapi Nikel Indonesia Masih Lari ke Baja
Seorang pekerja di pabrik pemurnian logam tengah melakukan pengecekan batang logam hasil produksi. Foto: Dok. Kementeriam ESDM.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pemerintah gencar mendorong hilirisasi nikel dengan harapan besar industri baterai kendaraan listrik (EV) bisa menjadi motor pertumbuhan sektor ini. Namun, di tengah narasi optimisme tersebut, masih ada pertanyaan besar, apakah nikel Indonesia benar-benar akan menjadi bahan baku utama baterai EV atau ini hanya sekadar hype yang belum terbukti di lapangan? 

    Menurut Analis Pasar Modal dari MikirDuit, Surya Rianto, kenyataan di industri saat ini tidak sejalan dengan ekspektasi yang dibangun. Mayoritas nikel Indonesia masih diarahkan untuk produksi setengah jadi seperti nickel pig iron (NPI) yang lebih banyak digunakan dalam pembuatan stainless steel di China. Sementara itu, porsi yang diserap oleh industri baterai EV masih sangat kecil. 

    “Hilirisasi nikel saat ini lebih ke produk setengah jadi seperti nickel pig iron untuk industri stainless steel di China. Porsi untuk EV Battery masih kecil banget,” ujar Surya kepada KabarBursa.com di Jakarta, Senin, 17 Maret 2025. 

    Menurut data terbaru dari Administrasi Umum Kepabeanan China (GACC) yang dirilis pada 20 Januari 2025, Indonesia memasok 8,67 juta ton feronikel ke China selama 2024, meningkat 9,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Sebagian besar feronikel yang diimpor China berbentuk NPI dari Indonesia, sementara sebagian kecil berbentuk FeNi (feronikel) yang merupakan paduan dengan kadar nikel lebih tinggi. Umumnya, FeNi mengandung lebih dari 20 persen nikel, sedangkan NPI berkadar tinggi hanya memiliki sekitar 12 persen nikel. Data GACC menggabungkan NPI dan FeNi dalam kategori FeNi.

    Meskipun ekspor FeNi Indonesia ke China mencapai rekor tertinggi, para analis mencatat pertumbuhan pada 2024 masih di bawah ekspektasi. Faktor utama yang menghambat adalah tertundanya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Indonesia yang membatasi produksi bijih nikel dan turunannya.

    Namun, pelonggaran aturan persetujuan RKAB oleh pemerintah Indonesia pada akhir tahun mendorong lonjakan ekspor feronikel ke China pada Desember 2024, mencapai 995.100 ton atau naik 12,73 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, 969.900 ton berasal dari Indonesia.

    Data Laporan Kinerja Ditjen Minerba Kementerian ESDM 2024 menunjukkan realisasi produksi nikel olahan, Feronikel dan NPI di Indonesia sepanjang 2024 hanya mencapai 63 persen dari target 70 persen. Angka ini mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang mencapai 84 persen pada 2023.

    Tabel menunjukkan target dan realisasi berbagai indikator kinerja sektor mineral pada tahun 2024, antara lain produksi nikel olahan, tingkat penggunaan produk dalam negeri, serta peningkatan nilai tambah dari bahan mentah (ore) ke produk hasil. Sumber: Kementerian ESDM.

    Data yang sama juga menunjukkan utilisasi fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia mengalami penurunan. Realisasi utilitas smelter nikel olahan turun dari 84 persen pada 2023 menjadi 63 persen pada 2024. Sementara itu, realisasi utilitas untuk produksi nikel matte juga mengalami penurunan dari 89 persen menjadi 78 persen dalam periode yang sama.

    Capaian utilisasi pengolahan nikel. Sumber: Kementerian ESDM.

    Penurunan utilisasi ini menandakan banyak smelter yang tidak beroperasi dengan kapasitas penuh. Ini bisa disebabkan oleh dua faktor utama, yakni permintaan global yang melemah dan pasar EV yang belum bisa menyerap produksi dalam jumlah besar.

    Meski demikian, peluang jangka panjang tetap terbuka lebar. Dengan infrastruktur smelter yang terus dikembangkan, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama dalam rantai pasok global jika permintaan baterai EV mengalami lonjakan di masa mendatang. 

    “Saat ini ekosistem EV Battery masih dalam tahap awal, dari pembangunan smelter hingga masuknya beberapa pabrik mobil listrik dari China. Jika ekonomi global membaik, penetrasi kendaraan listrik bisa meningkat dan membuka lebih banyak peluang,” jelas Surya Rianto. 

    Dampak terhadap Saham Emiten Nikel

    Jika permintaan nikel untuk baterai EV masih minim, bagaimana nasib saham-saham emiten nikel? Menurut Surya, saat ini pergerakan harga saham nikel lebih banyak dipengaruhi oleh industri baja dan stainless steel di China dibandingkan sektor kendaraan listrik. “Saham nikel lebih fokus pada pemulihan industri baja dan stainless steel di China ketimbang menunggu permintaan dari sektor EV, karena permintaan tinggi yang nyata masih berasal dari industri baja dan stainless steel,” katanya.

    Hal ini berarti, selama ekonomi China belum pulih dan industri stainless steel masih lesu, harga nikel berpotensi tetap berada di bawah tekanan. Di sisi lain, prospek nikel untuk baterai kendaraan listrik masih memerlukan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar berdampak signifikan pada pasar.  

    “Jika ekonomi China pulih, dan industri stainless steel bangkit lagi, penyerapan nikel bisa meningkat tajam. Sementara untuk EV, ini masih bicara dalam jangka panjang, sekitar 5-10 tahun lagi,” katanya.

    Dengan kata lain, meskipun Indonesia terus memacu hilirisasi nikel untuk baterai kendaraan listrik, kenyataan di lapangan masih menunjukkan bahwa sektor ini belum menjadi motor utama serapan nikel. Saat ini, industri stainless steel tetap menjadi faktor penentu utama harga dan permintaan nikel global. Namun, dalam jangka panjang, pergeseran ke kendaraan listrik masih memiliki potensi besar—tentu saja, jika pasar benar-benar berkembang seperti yang diharapkan.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Dian Finka

    Bergabung di Kabar Bursa sejak 2024, sering menulis pemberitaan mengenai isu-isu ekonomi.