Logo
>

Dolar AS Tenang, Rupiah Tertekan Permintaan Tinggi

Rupiah tertekan oleh lonjakan kebutuhan valas domestik dan sikap wait and see investor, sementara dolar AS bergerak stabil menunggu kepastian arah kebijakan The Fed dari data ketenagakerjaan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dolar AS Tenang, Rupiah Tertekan Permintaan Tinggi
Ilustrasi Mata Uang Dolar. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pergerakan rupiah dan dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 7 Januaro 2026, memperlihatkan kondisi tekanan domestic dan ketidakpastian global. Rupiah cenderung melemah pada penutupan perdagangan kemarin, sementara dolas AS relatif lebih tenang.

    Realisasi belanja pemerintah yang mulai berjalan, bersamaan dengan kewajiban pembayaran valas korporasi, menciptakan lonjakan permintaan dolar di pasar domestik. Permintaan valas datang dari sisi riil ekonomi, bukan semata aktivitas spekulatif. 

    IndoPremier Sekuritas mengonfirmasi bahwa permintaan dolar dari pelaku usaha dan importir masih tinggi, sehingga ruang penguatan rupiah menjadi terbatas meskipun tidak ada gejolak besar di pasar global.

    Faktor psikologis turut berperan. Ketidakpastian arah kebijakan fiskal dan keberlanjutan defisit anggaran membuat sebagian investor domestik memilih bersikap menunggu. Sikap ini mengurangi minat jangka pendek terhadap aset berdenominasi rupiah, sehingga setiap peningkatan permintaan dolar langsung terasa dampaknya pada nilai tukar. 

    Di saat yang sama, pergerakan dolar AS di pasar global justru menunjukkan karakter yang relatif tenang. Indeks dolar yang bertahan di kisaran 98,68 mencerminkan fase transisi, bukan fase dominasi. 

    Data pasar tenaga kerja Amerika Serikat memberikan sinyal yang beragam. Penurunan lowongan pekerjaan pada November menegaskan bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Ini yang menekan dolar, karena membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed.

    Namun narasi tersebut tidak berdiri sendiri. Aktivitas sektor jasa versi ISM yang menguat secara tak terduga menunjukkan bahwa ekonomi AS belum melambat secara merata. Sementara itu, laporan ADP yang mencatat pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta di bawah ekspektasi kembali menahan optimisme. 

    Kombinasi ini membuat pelaku pasar global ikut menahan diri. Dolar bergerak stabil karena pasar menunggu kepastian, terutama dari laporan nonfarm payrolls yang dianggap sebagai penentu arah kebijakan berikutnya.

    Kondisi global ini menjelaskan mengapa dolar masih mampu menguat tipis terhadap mata uang safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss. Penguatan tersebut bukan karena lonjakan sentimen risk-off, melainkan karena belum adanya alasan kuat untuk melepas dolar secara agresif. 

    Namun penguatan yang terbatas juga menunjukkan bahwa pasar belum yakin untuk kembali membangun posisi long dolar jangka panjang sebelum arah kebijakan The Fed lebih jelas.

    Di Eropa, pelemahan euro akibat inflasi Jerman yang melambat turut membantu dolar bertahan stabil. Berkurangnya spekulasi pengetatan kebijakan moneter Eropa membuat euro kehilangan katalis jangka pendek.

    Di kawasan Asia Pasifik, dinamika mata uang semakin menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih bersifat domestik ketimbang global. Yen Jepang relatif datar meski tensi geopolitik meningkat, sementara dolar Australia justru menguat kuat hingga level tertinggi sejak Oktober 2024, didorong prospek suku bunga dan sentimen risk-on 2026. 

    Ini menunjukkan bahwa pasar global tidak sedang dalam fase penghindaran risiko ekstrem yang biasanya menekan mata uang negara berkembang secara serempak.

    Dengan demikian, pelemahan rupiah terjadi di tengah lingkungan global yang sebenarnya relatif seimbang. Dolar AS tidak sedang berada dalam fase reli kuat, tetapi tetap cukup solid untuk menyerap permintaan domestik Indonesia yang meningkat. 

    Selama kebutuhan likuiditas valas di dalam negeri masih tinggi dan pasar global menunggu kepastian arah kebijakan The Fed, pergerakan rupiah cenderung tetap rentan terhadap tekanan jangka pendek, meski fondasi fundamentalnya belum menunjukkan retakan yang mengkhawatirkan.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79