KABARBURSA.COM – Euforia pasar atas berakhirnya penutupan pemerintahan Amerika Serikat, serta aksi rotasi sektor yang menekan saham-saham teknologi besar, mendorong Wall Street ditutup beragam. Dow Jones Industrial Average menorehkan rekor penutupan tertinggi kedua berturut-turut, sementara Nasdaq tertekan aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi motor utama reli pasar.
Berbicara tentang penghentian government shutdown, memicu optimisme di pasar. RUU pendanaan sementara yang diajukan mengaktifkan kembali berbagai layanan publik penting seperti bantuan pangan, pembayaran gaji ratusan ribu pegawai federal, hingga pengoperasian sistem lalu lintas udara yang sempat lumpuh.
Meski begitu, pasar masih menunggu langkah akhir dari Presiden Donald Trump untuk menandatangani kesepakatan tersebut menjadi undang-undang.
Bagi investor, kabar ini menjadi sinyal perbaikan dari sisi sentimen. Senior Investment Director di U.S. Bank Wealth Management Bill Northey, menilai berakhirnya shutdown akan menghapus salah satu risiko besar yang membayangi ekonomi Amerika.
“Fungsi pemerintah dan sistem transportasi udara yang kembali normal sangat penting bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi riil,” ujarnya.
Goldman Sachs Dorong Performa Dow Jones
Dari sisi performa indeks, Dow Jones melonjak 0,68 persen ke 48.254,82, didorong oleh penguatan saham Goldman Sachs dan UnitedHealth Group. Dua saham itu masing-masing naik sekitar 3,5 persen.
Kinerja solid sektor keuangan dan kesehatan membuat Dow kembali mencatat rekor baru, dengan kenaikan tahunannya mencapai 13 persen. Walau begitu, kenaikan Dow masih tertinggal dari reli S&P 500 yang sudah naik hampir 17 persen sepanjang 2025.
Sebaliknya, Nasdaq tergelincir 0,26 persen ke 23.406,46 akibat tekanan di saham-saham teknologi utama. Tesla turun 2,1 persen, Palantir merosot 3,6 persen, dan Oracle jatuh 3,9 persen. Koreksi ini menandai terjadinya rotasi sektor yang mulai meninggalkan saham-saham dengan valuasi mahal, menuju sektor yang dinilai lebih defensif seperti keuangan dan kesehatan.
Analis Northwestern Mutual Matt Stucky menyebut, rotasi ini sebagai fase alami setelah periode panjang kepemimpinan Nasdaq-heavy stocks.
“Untuk melihat pasar yang benar-benar sehat, pertumbuhan laba juga harus menyebar ke sektor lain,” katanya.
Saham AMD justru menjadi bintang di sesi ini dengan lonjakan 9 persen setelah manajemen menargetkan pendapatan pusat data mencapai USD100 miliar. Namun euforia sektor semikonduktor sedikit tertahan oleh kabar penjualan saham Nvidia senilai USD5,8 miliar oleh SoftBank Group.
Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa euforia seputar kecerdasan buatan (AI) mungkin sudah mencapai puncaknya. Apalagi setelah beberapa CEO bank besar Wall Street dan investor ternama memperingatkan adanya potensi koreksi pada valuasi AI.
Laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan pekan depan kini menjadi ujian penting bagi keberlanjutan sentimen sektor teknologi.
Presiden Federal Reserve Atlanta Pensiun
Secara keseluruhan, S&P 500 naik tipis 0,06 persen ke 6.850,92, dengan enam dari sebelas sektor mencatat penguatan. Sektor kesehatan memimpin dengan kenaikan 1,36 persen, diikuti sektor keuangan yang naik 0,9 persen.
Volume perdagangan relatif tipis di 17,2 miliar saham, lebih rendah dibanding rata-rata 20,5 miliar dalam 20 sesi terakhir. Kondisi ini menandakan investor masih menahan diri menjelang kepastian kebijakan fiskal dan moneter.
Dari sisi makroekonomi, dampak penutupan pemerintahan masih terasa. Aktivitas ekonomi melemah dan ketiadaan data resmi membuat pelaku pasar bergantung pada indikator swasta seperti laporan ADP.
Dalam laporannya, ADP mencatat bahwa sektor swasta kehilangan rata-rata 11.250 pekerjaan per minggu selama empat pekan terakhir hingga 25 Oktober. Angka ini mengindikasikan pasar tenaga kerja yang terus melemah dan memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember, dengan probabilitas 65 persen menurut CME FedWatch.
Di tengah dinamika itu, pengumuman pensiunnya Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic, menambah lapisan ketidakpastian baru. Keputusan ini muncul di tengah spekulasi meningkatnya tekanan politik dari pemerintahan Trump untuk memperluas pengaruh terhadap The Fed.
Secara kritikal, performa Wall Street kali ini menggambarkan pasar yang tengah mencari keseimbangan baru. Sisi positif datang dari hilangnya risiko politik dan prospek pelonggaran moneter, sementara sisi negatif muncul dari tanda-tanda bahwa reli teknologi mulai kehilangan tenaga.
Dengan kapitalisasi besar seperti Nvidia dan Tesla yang mulai kehilangan momentum, investor kini mulai memutar arah menuju sektor-sektor siklikal dan defensif yang menawarkan kestabilan di tengah volatilitas.
Kondisi ini menjadikan pergerakan pasar saham Amerika Serikat berada di persimpangan. Di satu sisi, ekonomi yang pulih setelah shutdown berpotensi memicu optimisme baru. Namun di sisi lain, rotasi sektor dan kecemasan terhadap puncak hype AI bisa menahan reli lebih lanjut.
Untuk saat ini, Dow menjadi simbol kekuatan stabilitas ekonomi riil, sementara Nasdaq kembali menjadi cermin betapa cepatnya euforia bisa berubah arah di pasar yang sarat ekspektasi tinggi.(*)