KABARBURSA.COM – Pergerakan Wall Street pada perdagangan Kamis pagi WIB, 4 Desember 2025, bergerak tipis-tipis saja. Tidak banyak sentimen yang mendorong pergerakan bursa saham AS ini untuk melesat lebih kuat.
Memang, indeks kompak bergerak naik. Dow Jones mencatat kenaikan paling kuat, yaitu 0,86 persen menuju 47.882,90. Sementara, indeks S&P 500 hanya bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,30 persen ke 6,849,72.
Pun dengan Nasdaq yang malu-malu naik sebesar 0,17 persen. Indeks lambat bergerak lantaran tertahan performa sektor teknologi yang melemah akibat tekanan pada Microsoft.
Isu yang menjadi pendorong pergerakan tipis ini masih sama, yaitu ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Sayangya, kejatuhan saham Microsoft lebih kuat, sehingga mampu menahan laju pergerakan saham.
Sentimen pasar sepanjang pergerakan bursa, sangat dipengaruhi oleh tumpukan data ekonomi yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan Amerika Serikat selama 43 hari. Shutdown government ini menjadi peristiwa terlama dalam sejarah.
Rilis data-data yang ditampilkan memberi pasar gambaran yang lebih utuh tentang kondisi fundamental. Diketahui, aktivitas sektor jasa AS yang dilaporkan Institute for Supply Management masih berada di area ekspansif, naik ke 52,6 dari sebelumnya 52,4. Meskipun komponen harga berbayar turun, tingkat inflasi jasa masih menunjukkan tekanan yang relevan bagi bank sentral.
Di saat yang hampir bersamaan, laporan ADP memperlihatkan kontraksi payroll sektor swasta sebesar 32.000 pada November. Angka ini berbanding terbalik dengan proyeksi kenaikan 10.000 pekerjaan.
Hal ini menjadi pemakluman, lantaran laporan ketenagakerjaan resmi yang tertunda akibat backlog data, membuat pasar semakin mengandalkan indikator sektor swasta untuk membaca arah moneter. Kombinasi inilah yang kemudian memperkuat prediksi perubahan sikap the Fed ke arah dovish.
Dari perspektif pelaku pasar, pernyataan Keith Buchanan dari Globalt Investments mendorong respons bagi the Fed untuk mengendurkan kebijakan lebih cepat. Probabilitas pemangkasan suku bunganya pun naik menjadi 89 persen, dari 87 persen sehari sebelumnya. Proyeksi ini diambil berdasarkan riset FedWatch Tool CME Group.
Microsoft Anjlok Hingga Tiga Persen
Di tengah dinamika tersebut, Microsoft menjadi pemberat utama Nasdaq dan sektor teknologi. Sahamnya jatuh hingga 3 persen setelah kabar bahwa perusahaan telah menurunkan target penjualan perangkat lunak kecerdasan buatan. Alasannya, tim penjualan gagal mencapai target.
Meskipun Microsoft membantah laporan tersebut dan sahamnya sempat bangkit dari titik terendah, penutupan di minus 2,5 persen masih memberikan tekanan besar. Sektor teknologi pun ditutup turun 0,4 persen. Begitu sensitifnya indeks berbasis teknologi ini terhadap performa satu emiten megakap.
Sebaliknya, sektor energi menjadi penopang utama pasar dengan lonjakan 1,8 persen, sejalan dengan kenaikan harga minyak. Dorongan ini memperkuat narasi bahwa rotasi sektor sedang terjadi, di mana investor mulai mencari peluang di sektor-sektor yang sensitif terhadap pemangkasan suku bunga dan perbaikan siklus ekonomi global.
Sentimen mengenai arah kebijakan moneter juga semakin panas. Muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump membatalkan wawancara dengan kandidat pemimpin the Fed. Lagi-lagi pasar menyimpulkan bahwa peluang Kevin Hassett—yang dikenal pro-pemangkasan suku bunga agresif—semakin besar untuk menggantikan Jerome Powell pada Mei mendatang.
Spekulasi pergantian kepemimpinan ini ikut menambah lapisan ketidakpastian, namun pasar justru melihatnya sebagai katalis positif untuk siklus pelonggaran moneter.
2026 Jadi Tahun Emas Small Caps
Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi kecil tampil impresif. Indeks Russell 2000 melompat 1,91 persen ke 2.512,137, melanjutkan reli 5,5 persen pekan sebelumnya. Dorongan ini menunjukkan meningkatnya selera risiko investor, khususnya karena saham small caps sangat sensitif terhadap ekspektasi pemangkasan suku bunga dan perbaikan prospek ekonomi domestik.
Jill Carey Hall dari BofA Securities menilai bahwa 2026 berpotensi menjadi tahun emas bagi small caps didukung pertumbuhan laba dan potensi siklus belanja modal.
Pergerakan saham individual juga mencerminkan peningkatan momentum risk-on. Marvell Technology melejit 7,9 persen usai mengumumkan akuisisi Celestial AI senilai USD3,25 miliar. Langkah ini menjadi ekspansi yang memperoleh respons pasar sangat positif.
Microchip Technology bahkan naik 12,2 persen setelah mengerek proyeksi kinerja kuartalannya. Dari sektor ritel, American Eagle Outfitters melesat 15,1 persen berkat prospek penjualan yang lebih optimistis menjelang musim belanja akhir tahun.
S&P 500 Cetak Rekor Tertinggi
Keseimbangan pasar hari itu menunjukkan dominasi saham menguat dibandingkan yang melemah dengan rasio hampir 3 banding 1 baik di NYSE maupun Nasdaq. S&P 500 mencetak 27 rekor tertinggi baru dalam 52 pekan, sementara Nasdaq membukukan 108 rekor baru.
Meskipun demikian, volume perdagangan 15,44 miliar lembar berada di bawah rata-rata 20 hari, menandakan bahwa sebagian investor tetap berhati-hati menunggu data PCE yang akan menjadi petunjuk utama bagi the Fed.
Secara keseluruhan, performa Wall Street mencerminkan pasar yang bergerak dalam dua arus besar. Di satu sisi, ekspektasi pemangkasan suku bunga menciptakan optimisme dan mendorong sektor-sektor sensitif terhadap siklus moneter.
Di sisi lain, tekanan pada megatech seperti Microsoft menunjukkan bahwa reli berbasis teknologi masih rentan terhadap risiko idiosinkratik. Kombinasi data ekonomi, spekulasi pergantian pimpinan the Fed, dan dinamika sektor individu membuat pasar bergerak penuh nuansa, namun dengan arah yang cenderung konstruktif menjelang keputusan the Fed pekan depan.
Jika tren data tenaga kerja dan inflasi PCE mendukung, peluang pemangkasan suku bunga semakin menguat, dan momentum penguatan Wall Street berpotensi berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.(*)