KABARBURSA.COM – Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menilai integrasi layanan klinik dan apotek desa ke dalam skema Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) sebagai langkah strategis untuk memperkuat pelayanan dasar masyarakat di tingkat akar rumput.
Menurut Netty, inisiatif tersebut tak hanya membuka akses kesehatan yang lebih merata, tetapi juga dapat mendorong kemandirian ekonomi desa jika dijalankan dengan pendekatan yang tepat.
“Ini inisiatif yang menarik dan strategis karena dapat menghadirkan layanan kesehatan yang mudah diakses sekaligus memberdayakan ekonomi desa melalui koperasi. Hal itu dapat terwujud jika dilakukan dengan perencanaan yang matang dan pelibatan multipihak,” ujar Netty dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat, 11 Juli 2025.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa aspek keselamatan dan mutu layanan kesehatan tidak boleh dikesampingkan. Netty menekankan perlunya kesiapan sumber daya manusia serta kepastian hukum yang mendasari pelaksanaan program ini.
“Pelayanan kesehatan menyangkut keselamatan jiwa, sehingga harus tetap berpegang pada standar medis dan etika profesi,” kata politikus Partai Keadilan Sejahtera ini.
Netty menegaskan semangat gotong royong dan ekonomi berbasis koperasi tidak cukup untuk menjamin keberhasilan program. Ia menggarisbawahi pentingnya jaminan mutu layanan, ketersediaan tenaga medis, dan kepatuhan terhadap regulasi farmasi maupun perizinan.
Netty pun mendorong Kementerian Kesehatan dan Kementerian Koperasi untuk segera menyusun petunjuk teknis (juknis) yang rinci dan aplikatif, agar tidak terjadi tumpang tindih pelaksanaan di lapangan.
“Harus ada SOP yang memastikan layanan kesehatan berjalan sesuai ketentuan, termasuk integrasi layanan dengan BPJS Kesehatan. Jangan sampai ada kebingungan peran atau kerancuan dalam distribusi obat dan penanganan pasien,” jelasnya.
Ia juga menyoroti persoalan distribusi tenaga kesehatan di desa yang dinilai masih menjadi tantangan klasik. Menurutnya, diperlukan insentif yang layak serta skema penugasan khusus guna menjamin kontinuitas layanan di daerah terpencil.
“Kalau ingin menjadikan desa sebagai sentra layanan kesehatan yang mandiri, maka penempatan nakes, pelatihan kader lokal, dan kolaborasi dengan institusi pendidikan kesehatan menjadi kunci,” katanya.
Mengenai pelaksanaan proyek percontohan Kopdes Merah Putih di 103 titik desa, Netty berharap inisiatif ini dapat menjadi model yang inklusif, terukur, dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya partisipasi warga desa sejak tahap perencanaan hingga pengawasan.
“Semangat koperasi itu adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Akuntabilitas dan partisipasi warga desa harus menjadi roh utama program ini,” katanya.(*)