Logo
>

Dua Perusahaan Mercusuar Siap IPO, 13 Sudah Masuk Pipeline

BEI membuka sinyal awal 2026 dengan rencana IPO dua emiten mercusuar dari sektor infrastruktur dan pertambangan, seiring target agresif 50 perusahaan melantai di bursa.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dua Perusahaan Mercusuar Siap IPO, 13 Sudah Masuk Pipeline
Ilustrasi.

KABARBURSA.COM – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2026 sepertinya akan meriah. Rencana masuknya dua perusahaan mercusuar dari sektor infrastruktur dan pertambangan pada awal 2026 memberi pesan bahwa bursa tengah menyiapkan amunisi besar untuk kuartal pertama. 

Dalam konteks pasar modal, istilah lighthouse bukan sekadar label ukuran, tetapi penanda emiten yang sejak hari pertama diproyeksikan membawa bobot likuiditas, kapitalisasi, dan perhatian investor dalam skala luas.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyampaikan, kedua calon emiten mercusuar tersebut bergerak di sektor infrastruktur dan mining. Keduanya langsung mengaktifkan memori pasar pada dua sektor yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional. 

Infrastruktur identik dengan proyek jangka panjang, belanja modal besar, dan keterlibatan negara. Sementara pertambangan, selalu berkelindan dengan siklus komoditas global, ekspor, serta arus devisa. 

Ketika dua sektor ini bersiap masuk bursa dengan status mercusuar, sentimen yang terbentuk bukan sekadar soal penambahan emiten, melainkan sinyal kepercayaan diri pasar terhadap arah ekonomi dan kebutuhan pendanaan skala besar di 2026.

Meski identitas perusahaan dan nilai penawarannya belum diungkap, fakta bahwa proses penjajakan sudah berjalan menunjukkan bahwa tahap awal sudah terlewati. Emiten lighthouse umumnya datang dengan struktur bisnis yang matang, tata kelola relatif siap, serta daya tarik likuiditas tinggi. 

Bagi investor institusi, tipe emiten seperti ini sering menjadi pintu masuk awal untuk membangun eksposur jangka Panjang. Sedangkan bagi investor ritel, kehadirannya kerap menjadi barometer sentimen pasar di awal tahun.

BEI Targetkan 50 IPO di 2026

Momentum ini juga selaras dengan target agresif BEI untuk 2026. Bursa mematok sasaran 50 perusahaan IPO, meningkat dibanding tahun sebelumnya, sebagai bagian dari strategi memperdalam pasar dan memperluas basis emiten. 

Kenaikan target ini mencerminkan dua hal. Pertama, meningkatnya minat korporasi untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang yang lebih fleksibel. Kedua, kepercayaan regulator dan pelaku pasar bahwa likuiditas domestik masih cukup kuat untuk menyerap penawaran saham baru dalam jumlah besar.

Data pipeline per 23 Oktober 2025 memberi gambaran konkret tentang kesiapan tersebut. Dari 13 perusahaan yang sudah masuk antrean IPO, komposisinya relatif seimbang, dengan dominasi perusahaan beraset menengah, disusul perusahaan beraset besar. 

Kehadiran lima perusahaan besar dalam pipeline menandakan bahwa minat emiten skala jumbo tidak lagi sporadis, tetapi mulai terstruktur. Fakta bahwa sebagian besar masih menggunakan laporan keuangan semester I 2025, menunjukkan proses finalisasi masih berlangsung, dan membuka peluang lonjakan realisasi IPO saat kalender berganti.

Fokus BEI terhadap lighthouse IPO mempertegas arah kebijakan tersebut. Dengan kriteria market cap minimal Rp3 triliun, free float setidaknya 15 persen, dan nilai IPO yang umumnya di atas Rp700 miliar, emiten mercusuar bukan hanya menambah jumlah pencatatan, tetapi langsung meningkatkan kedalaman pasar. 

Target enam emiten lighthouse pada 2026 menjadi ambisi tersendiri, karena setiap realisasi IPO jumbo berpotensi menarik dana besar, meningkatkan likuiditas harian, dan memberi bobot signifikan pada indeks.

Dari sisi sentimen, peluang IPO di 2026 terlihat cukup terbuka, terutama jika kondisi makro dan stabilitas pasar tetap terjaga. Kehadiran dua calon emiten mercusuar di awal tahun berpotensi menciptakan efek bola salju, di mana keberhasilan IPO awal dapat mendorong perusahaan lain mempercepat rencana melantai. 

Namun pasar juga akan mencermati kualitas fundamental, valuasi, serta struktur free float agar euforia tidak berujung pada tekanan pasca pencatatan.

Dengan demikian, isyarat yang dilepas BEI menjelang tutup 2025 bukan sekadar kabar administratif, melainkan bagian dari narasi besar bahwa 2026 disiapkan sebagai tahun ekspansi pasar modal. 

Infrastruktur dan pertambangan tinggal menunggu waktu untuk menyalakan mercusuarnya di lantai bursa, sementara investor mulai menyusun strategi, menghitung risiko, dan menanti apakah sinyal ini benar-benar berujung pada babak baru yang lebih dalam dan likuid bagi pasar saham Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79