Logo
>

EIA Isyaratkan Produksi Minyak AS Masuk Fase Turun

Harga minyak yang rendah menekan aktivitas pengeboran, sementara EIA memproyeksikan output AS mulai menyusut sejak 2027 meski produksi masih bertahan di level tinggi pada 2026.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
EIA Isyaratkan Produksi Minyak AS Masuk Fase Turun
Deretan rig pengeboran ini membentuk apa yang dikenal sebagai pengembangan kubus di Cekungan Permian. Foto: Dok. ExxonMobil.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Harga minyak yang kepeleset ternyata bukan cuma soal angka di layar bursa. Di balik grafik yang turun itu, ada cerita panjang tentang rig yang berhenti berputar, sumur yang mulai menua, dan produksi yang pelan-pelan kehilangan napas. Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA memberi sinyal cukup jelas bahwa minyak murah akan menekan produksi secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

    Dalam proyeksinya, analis EIA memperkirakan harga minyak acuan West Texas Intermediate rata-rata hanya akan berada di kisaran 52 dolar Amerika Serikat per barel atau sekitar Rp873.600 pada 2026.

    Setahun setelahnya, harga itu diperkirakan turun lagi ke 50 dolar per barel atau sekitar Rp840.000. Angka tersebut terpaut jauh dari rerata 2025 yang masih berada di level 65 dolar per barel atau sekitar Rp1.092.000. Secara sederhana, itu berarti harga minyak kehilangan sekitar 20 persen dalam dua tahun.

    Turunnya harga ini bukan sekadar catatan statistik. EIA memperkirakan produksi minyak Amerika Serikat masih bisa bertahan di level rerata 2025 sepanjang 2026, sebelum akhirnya mulai benar-benar turun pada 2027. Tahun itu, produksi diperkirakan menyusut sekitar 340.000 barel per hari.

    Padahal, ironisnya, 2025 justru mencatat rekor produksi baru sebesar 13,6 juta barel per hari, sebuah angka yang juga diperkirakan bertahan pada 2026. Baru pada 2027, penurunan terasa lebih nyata, dengan produksi turun sekitar 2 persen menjadi 13,3 juta barel per hari.

    Cerita ini makin menarik ketika melihat kondisi di lapangan. Pada akhir 2025, jumlah rig pengeboran minyak mentah tercatat sudah 13 persen lebih sedikit dibanding awal tahun. Namun produksi tetap tinggi. Itu terjadi karena operator memeras efisiensi dari sumur-sumur yang sudah matang. Mesin dipaksa bekerja lebih cerdas, bukan lebih banyak. Tapi cara ini punya batas.

    Wilayah Permian Basin, yang selama bertahun-tahun menjadi mesin utama pertumbuhan produksi minyak Amerika Serikat, mulai kehilangan momentum. Para analis EIA menuliskan dengan nada dingin bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Permian adalah kontributor terbesar pertumbuhan produksi minyak mentah nasional.

    Namun pada 2026, mereka memperkirakan pertumbuhan produksi tahunan di Permian akan relatif datar. Harga minyak yang turun ikut menyeret jumlah rig ke bawah. Dengan rig yang makin sedikit, pertumbuhan produksi lebih banyak bergantung pada peningkatan efisiensi dari sumur-sumur yang menua.

    Dilansir dari laman Midland Reporter Telegram, Kamis, 15 Januari 2026, tim analis IEA menulis, “Pada tahun-tahun sebelumnya, Permian Basin merupakan kontributor terbesar terhadap pertumbuhan produksi minyak mentah Amerika Serikat secara keseluruhan. Namun pada 2026, kami memperkirakan pertumbuhan produksi tahunan di Permian Basin akan relatif tidak berubah. Penurunan harga minyak mentah telah berkontribusi pada turunnya jumlah rig. Dengan semakin sedikit rig yang mengebor di Permian, pertumbuhan produksi terutama berasal dari peningkatan efisiensi produksi dari sumur-sumur yang semakin matang.”

    Cerita makin suram ketika menengok wilayah di luar Permian. Di luar cekungan ini, penurunan produksi darat di wilayah Lower 48 lainnya diperkirakan terus berlanjut. Bahkan, menurut EIA, tekanan ini akan terasa lebih keras di kawasan minyak ketat di luar Permian.

    Mereka melanjutkan bahwa pada 2026, peningkatan produktivitas memang masih terjadi, tetapi akan tergerus oleh aktivitas pengeboran yang menurun, terutama menjelang akhir tahun. Dampak harga minyak yang rendah terhadap aktivitas pengeboran akan semakin terlihat ketika harga WTI turun di bawah 50 dolar per barel atau sekitar Rp840.000 pada kuartal keempat.

    Pada 2027, produksi Permian sendiri diperkirakan turun sekitar 1 persen secara tahunan, mencerminkan dampak penuh dari penurunan harga minyak terhadap aktivitas pengeboran.

    Mereka menuliskan, “Dinamika ini bahkan lebih terasa di wilayah minyak ketat di luar Permian. Pada 2026, kami memperkirakan peningkatan produktivitas akan berlanjut tetapi diimbangi oleh penurunan aktivitas rig, khususnya pada paruh akhir tahun. Dampak harga minyak mentah yang rendah terhadap aktivitas pengeboran akan semakin jelas ketika harga WTI turun di bawah 50 dolar per barel pada kuartal keempat. Pada 2027, kami memperkirakan produksi Permian akan turun 1 persen secara tahunan, mencerminkan dampak penuh dari penurunan harga minyak mentah terhadap aktivitas pengeboran.”

    Di sisi lain, cerita gas alam berjalan dengan nada yang sedikit berbeda. EIA memperkirakan harga spot gas alam di Henry Hub rata-rata sedikit di bawah 3,50 dolar Amerika Serikat per juta British thermal units atau sekitar Rp58.800 per MMBtu pada 2026, turun sekitar 2 persen dibanding 2025. Namun pada 2027, harga gas justru diperkirakan melonjak ke sekitar 4,60 dolar per MMBtu atau sekitar Rp77.280.

    Kenaikan harga gas ini bukan tanpa sebab. EIA menilai pertumbuhan permintaan gas alam akan melampaui pertumbuhan produksinya. Motor utamanya datang dari ekspor gas alam cair atau LNG yang terus melebar, serta konsumsi gas yang meningkat di sektor pembangkit listrik. Artinya, ketika minyak tergelincir dan membuat produsen menahan diri, gas justru mendapat panggungnya sendiri.

    Dari keseluruhan gambaran ini, EIA seolah sedang bercerita bahwa era minyak murah bukan hanya soal keuntungan di pompa bensin. Ia juga membawa konsekuensi struktural bagi industri. Rig berkurang, investasi ditahan, dan produksi pelan-pelan turun.

    Di tengah itu semua, gas alam muncul sebagai penyeimbang, didorong oleh permintaan global dan kebutuhan energi yang terus tumbuh. Sebuah peta energi yang makin terbelah, di mana harga menentukan arah, dan efisiensi menjadi satu-satunya tameng sementara.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).