Logo
>

Ekonom Senior Pelototi Spread Suku Bunga RI yang Terlalu Sempit

Likuiditas perbankan yang mengetat menjadi tantangan utama bagi kebijakan BI ke depan.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Ekonom Senior Pelototi Spread Suku Bunga RI yang Terlalu Sempit
Spread atau selisih suku bunga Indonesia terhadap suku bunga acuan Amerika Serikat (The Fed) masih relatif sempit sehingga Bank Indonesia (BI) perlu menyeimbangkan. (Foto: Dok. Kabarbrusa.com)

KABARBURSA.COM – Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Aviliani, menilai spread atau selisih suku bunga Indonesia terhadap suku bunga acuan Amerika Serikat (The Fed) masih relatif sempit sehingga Bank Indonesia (BI) perlu menyeimbangkan antara stabilitas moneter dan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kalau lihat spread-nya terhadap The Fed kan masih terlalu kecil,” kata Aviliani dalam acara di Four Seasons Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2026.

Menurut ekonom senior di Institute for Development of Economics dan Finance (Indef) ini, secara historis spread suku bunga Indonesia terhadap The Fed biasanya berada di kisaran 5 persen hingga 6 persen. Sementara saat ini, selisih tersebut dinilai masih berada di bawah kisaran tersebut.

Meski demikian, Aviliani menilai keputusan menaikkan atau menahan suku bunga tidak bisa hanya melihat faktor spread semata. Menurut dia, BI juga harus mempertimbangkan keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. “Ini kan masalahnya antara stabilitas dengan pertumbuhan,” ujarnya.

Selain itu, Aviliani menyoroti kenaikan biaya dana perbankan yang sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya suku bunga instrumen moneter dan potensi pengetatan likuiditas di sektor perbankan.

Ia mengatakan, rencana penarikan dana pemerintah dari sistem perbankan juga berpotensi mengurangi likuiditas sehingga mendorong kenaikan bunga dana meskipun BI tidak kembali menaikkan suku bunga acuannya.

“Nah kalau dana pemerintah ditarik, otomatis BI enggak naik pun bunga dana naik,” tutur Aviliani.

Menurut dia, dampak penarikan dana pemerintah tersebut cukup signifikan mengingat nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Sebagian dana tersebut juga telah disalurkan sehingga kondisi likuiditas perbankan diperkirakan akan menjadi perhatian pada laporan kinerja triwulanan berikutnya.

Di tengah kondisi tersebut, Aviliani memperkirakan biaya dana perbankan saat ini sudah berada pada level yang cukup tinggi. “Biaya dana sekarang sudah 6 persen lah,” katanya.

Meski mengakui ruang kenaikan suku bunga masih terbuka, Aviliani belum melihat urgensi bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan BI Rate dalam waktu dekat. Apalagi bank sentral baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

“Saya sih melihatnya belum tentu naik lagi, karena kemarin baru naik 25 basis poin,” ujar dia.

Pandangan yang lebih tegas disampaikan Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama BRI, Hery Gunardi. Saat ditanya mengenai peluang kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat, Hery mengaku belum melihat indikasi ke arah tersebut. “Kalau feeling saya sih enggak,” kata Hery.

Sebagai informasi, Bank Indonesia baru saja menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen. Sebelumnya Mei 2026 juga sudah dinaikkan 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. 

Kenaikan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena akan memengaruhi biaya pendanaan, suku bunga kredit, hingga likuiditas perbankan ke depan.

Melalui kondisi likuiditas yang mulai mengetat dan biaya dana yang terus meningkat, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia pada rapat mendatang diperkirakan masih akan menjadi salah satu fokus utama pelaku pasar dan industri perbankan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".