KABARBURSA.COM – Indonesia di penghujung 2025. Di tengah gejolak geopolitik global, Gambaran makroekonomi Indonesia di sepanjang tahun menunjukkan kombinasi yang solid antara stabilitas dan ekspansi yang terjaga.
Pertumbuhan ekonomi mampu bertahan di kisaran 5 persen, dengan PDB kuartal III-2025 tumbuh 5,04 persen secara tahunan. Dengan PDB nominal mencapai sekitar USD1.396 miliar dan PDB berbasis paritas daya beli sebesar USD4,1 triliun pada 2024, posisi Indonesia sebagai ekonomi terbesar kedelapan dunia, semakin menguat.
Kenaikan PDB per kapita ke level Rp78,62 juta atau sekitar USD4.960, juga menandai pergeseran struktur ekonomi kea rah pendapatan menengah yang lebih mapan.
Stabilitas makro menjadi fondasi utama dari capaian tersebut. Inflasi terkendali di level 2,72 persen pada November 2025. Kondisi ini masih berada dalam sasaran bank sentral dan memberi ruang bagi daya belu rumah tangga untuk tetap terjaga.
Kinerja pasar keuangan memberi cerminan yang jelas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan dan menguat di level 8.644,26 pada akhir Desember 2025. Di saat yang bersamaan, nilai tukar rupiah pun stabil di kisaran Rp16.785 per dolar AS. Rupanya, kepercayaan pasar masih cukup kuat terhadap fundamental domestik.
Dari sisi aktivitas ekonomi riil, indikator-indikator utama memberikan sinyal ekspansi yang konsisten. PMI manufaktur berada di level 53,3 pada November 2025. Hal ini menandakan bahwa sektor industri masih berada dalam fase ekspansi yang sehat.
Optimisme konsumen juga terjaga, yang tercermin dari Indek Keyakinan Konsumen yang berada di level 124. Dorongan konsumsi semakin diperkuat oleh pertumbuhan Indeks Penjualan Riil, yang diperkirakan mencapai 5,9 persen secara tahunan.
Neraca Perdagangan Catatkan Surplus
Tidak hanya itu, kinerja eksternal Indonesia juga menunjukkan daya tahan yang kuat. Neraca perdagangan mencatat surplus selama 66 bulan berturut-turut, sejak Mei 2020. Nilai surplusnya mencapai USD35,88 miliar sepanjang Januari hingga Oktober 2025.
Surplus berkelanjutan ini berkonstribusi besar terhadap posisi cadangan devisa yang tetap tinggi di level USD150,1 miliar pada November 2025. Posisi ini memberikan bantalan yang kuat terhadap volatilitas pasar global.
Di sisi lain, realisasi investasi mencapai Rp1.434,3 triliun dalam sembilan bulan pertama 2025. Angka tersebut tumbuh 13,7 persen secara tahunan yang mengartikan minat investasi baik domestik maupun asing, masih terjaga.
Pertumbuhan kredit perbankan sebesar 7,36 persen secara tahunan turut memperlihatkan bahwa fungsi intermediasi berjalan, meski hati-hati. Yang menarik, kualitas pertumbuhan ekonomi juga menunjukkan perbaikan yang cukup merata.
Tingkat partisipasi angkatan kerja naik ke 70,59 persen dan penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,85 persen. Ada pemulihan pasar kerja yang berkelanjutan. Kondisi ini berpengaruh kuat pada tingkat kemiskinan yang turun ke 8,47 persen.
Sementara, tingkat kemiskinan ekstrem ikut tergerus ke 0,85 persen. Di sini, pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di angka makro, tetapi juga mulai dirasakan pada lapisan masyarakat bawah. Penurunan rasio gini ke 0,375 ikut memperkuat indikasi bahwa pemerataan pendaoatan mengalami perbaikan.
Program Stimulus Pemerintah jadi Penopang
Di balik capaian tersebut, peran kebijakan fiscal dan program stimulus 2025 menjadi penopang yang tidak bisa diabaikan. Pemerintah mengarahkan stimulus pada sektor riil dan penciptaan lapangan kerja melalu berbagai skema kredit program.
Tidak hanya itu, skema program magang, padat karya tunai, ikut menjalar ke ekonomi lokal. Penguatan daya beli melalui bantuan pangan, kartu sembago tambahan, serta skema bantuan sosial non-reguler membantu menjaga konsumsi rumah tangga di tengah tekanan biaya hidup.
Begitu pula dengan stimulus mobilitas dan pariwisata, seperti diskon transportasi dan tarif tol pada periode liburan, ikut menggerakkan sektor jasa yang memiliki efek pengganda tinggi.
Dukungan terhadap industri padat karya dan UMKM melalui insentif iuran jaminan sosial dan keringanan pajak, memperlihatkan upaya menjaga keberlanjutan usaha dan penyerapan tenaga kerja.
Sementara itu, Langkah deregulasi dan debottlenecking melalui PP 28/2025 memperkuat sinyal reformasi struktural. Tujuannya, mempercepat perizinan dan menurunkan biaya berusaha.
Jadi, secara keseluruhan, data 2025 menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak hanya tumbuh secara kuantitiatif, tetapi juga mulai memperbaiki kualitas pertumbuhannya. Dengan fondasi yang relatif kuat Indonesia memasuki 2026, meski tantangan global masih membayangi.(*)