Logo
>

Emas Bersiap ke USD6.000, Seperti ini Analisisnya

Reli emas didorong tren teknikal yang sangat kuat, tensi geopolitik global, serta pembelian agresif bank sentral, meski indikator jangka pendek menunjukkan kondisi jenuh beli ekstrem.

Ditulis oleh Yunila Wati
Emas Bersiap ke USD6.000, Seperti ini Analisisnya
Emas sempat menyentuh harga tertinggi di USD5.092 dan secara teknikal dapat menembuas ke USD6.000, meski dengan jeda. Foto: Istimewa.

KABARBURSA.COM - Harga emas kembali menegaskan statusnya sebagai aset lindung nilai utama setelah menembus rekor baru di atas USD5.000 per ons. Pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026, emas spot sempat menyentuh level USD5.092,70 per ons, memperpanjang reli yang sudah berlangsung kuat sejak 2025. 

Sepanjang tahun ini saja, emas telah menguat lebih dari 17 persen usai melonjak tajam 64 persen pada 2025. Derasnya aliran dana ke aset yang dianggap paling aman di tengah ketidakpastian global memperlihatkan penguatan tersebut.

Analisis Teknikal 

Secara arah tren, pergerakan emas masih sangat kuat. Kekuatan tren ini dikonfirmasi oleh ADX di level 89,49, angka yang sangat jarang muncul. ADX setinggi ini menunjukkan tren yang ekstrem kuat, bukan pasar yang ragu atau sideways

Dalam konteks historis, ADX setinggi ini biasanya hanya muncul ketika pasar sedang berada dalam fase price discovery, seperti yang terjadi sekarang setelah emas menembus area psikologis USD5.000.

Namun, masalah utamanya bukan tren, melainkan kondisi jenuh beli. Hampir semua oscillator berada di zona overbought ekstrem. RSI 14 di 94,4, StochRSI di 100, Williams %R di -0,69, CCI di atas 200, hingga Ultimate Oscillator di atas 70. 

Ini bukan sekadar overbought biasa, melainkan overheated. Artinya, dalam jangka pendek, emas sangat rentan mengalami jeda, konsolidasi, atau koreksi teknikal.

ATR yang tinggi di 341 juga mempertegas bahwa volatilitas sedang ekstrem. Ini selaras dengan fase reli vertikal, di mana harga bisa bergerak sangat cepat ke atas, tetapi juga mudah mengalami retracement tajam tanpa mengubah tren utama.

Jika dikaitkan dengan level teknikal, pivot point klasik menempatkan resistance berlapis di kisaran 4.564, 4.742, hingga 4.927. Harga saat ini sudah bergerak jauh di atas pivot utama 4.379, yang berarti emas sudah memasuki zona extension, bukan lagi area breakout awal. 

Dalam kondisi seperti ini, kenaikan lanjutan biasanya tidak terjadi dalam satu tarikan napas, melainkan melalui pola naik–jeda–naik.

Ketegangan Geopolitik Belum Reda

Jika bicara soal ketegangan geopolitik, sentiment ini menjadi pemicu utama kenaikan harga emas. Hubungan Amerika Serikat dengan NATO yang memanas terkait isu Greenland, ketidakpastian kebijakan tarif, hingga munculnya keraguan pasar terhadap independensi Federal Reserve, menciptakan lanskap risiko yang sulit dipetakan. 

Dalam situasi seperti ini, emas kembali diposisikan sebagai jangkar stabilitas portofolio.

Sejumlah analis menilai reli ini masih memiliki ruang lanjutan. Survei tahunan London Bullion Market Association menunjukkan proyeksi harga emas dapat mencapai setinggi USD7.150 per ons, dengan rata-rata USD4.742 pada 2026. 

Goldman Sachs bahkan telah merevisi naik target harga emas untuk Desember 2026 menjadi USD5.400 per ons, dari sebelumnya USD4.900. Pandangan yang lebih agresif datang dari analis independen Ross Norman, yang memperkirakan emas berpotensi menyentuh USD6.400 per ons tahun ini, dengan rata-rata harga sekitar USD5.375. 

Menurutnya, ketidakpastian yang terus membayangi ekonomi global justru menjadi bahan bakar utama bagi emas.

“Ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian saat ini, dan itu sangat menguntungkan bagi emas,” ujar Norman.

Tekanan geopolitik diperkirakan belum mereda. Menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat, risiko politik dinilai akan semakin meningkat. Pada saat yang sama, valuasi pasar saham global yang sudah berada di level tinggi mendorong investor institusi melakukan diversifikasi portofolio. 

Direktur Metals Focus Philip Newman, menilai kombinasi ketidakpastian politik dan kekhawatiran terhadap pasar saham akan memperkuat arus dana ke emas. Setelah menembus USD5.000 per ons, ia melihat peluang penguatan lanjutan masih terbuka.

Permintaan Bank Sentral Semakin Tinggi

Selain faktor geopolitik, pembelian bank sentral tetap menjadi pilar utama reli emas. Sepanjang 2025, aksi akumulasi emas oleh bank sentral menjadi salah satu penggerak harga, dan tren ini diperkirakan berlanjut. 

Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral dapat mencapai rata-rata 60 ton per bulan, seiring upaya bank sentral negara berkembang mendiversifikasi cadangan devisa mereka dari dolar AS ke emas.

Bank sentral Polandia, yang pada akhir 2025 memiliki sekitar 550 ton emas, berencana meningkatkan cadangannya menjadi 700 ton. Langkah ini memperkuat pandangan bahwa emas semakin dipilih sebagai alat lindung nilai strategis terhadap risiko mata uang. 

Di sisi lain, bank sentral China juga terus menambah kepemilikan bullion, memperpanjang tren pembelian selama 14 bulan berturut-turut hingga Desember lalu.

Arus dana ke instrumen investasi berbasis emas turut mempertebal fondasi reli. Exchange-traded funds berbasis emas kembali menjadi magnet bagi investor global, terutama di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga Amerika Serikat yang berlanjut. 

Manajer Portofolio Gabelli Gold Fund Chris Mancini, menilai bahwa semakin rendah suku bunga, semakin kecil biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Jika Federal Reserve melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter hingga 2026, permintaan emas diperkirakan akan terus meningkat.

Data World Gold Council menunjukkan bahwa sepanjang 2025, aliran dana ke ETF emas mencapai USD89 miliar dengan total volume sekitar 801 ton, level tertinggi sejak rekor tahun 2020. Arus ini sebagian besar berasal dari Amerika Utara, menandakan pergeseran preferensi investor global ke aset defensif.

Di sisi permintaan fisik, permintaan perhiasan memang sedikit tertekan akibat tingginya harga. Namun pelemahan tersebut diimbangi oleh permintaan kuat untuk emas batangan dan koin, khususnya di India. Permintaan serupa juga terlihat di Eropa, meski sebagian investor mulai melakukan aksi ambil untung setelah reli panjang.

Bagi investor ritel, emas tetap menawarkan daya tarik tersendiri karena kesederhanaannya. 

“Anda tidak perlu menganalisis neraca, menilai risiko kredit, atau khawatir tentang risiko negara dan kedaulatan,” ujar Frederic Panizzutti, analis Numismatica Genevensis. 

Dalam kondisi pasar yang sarat ketidakpastian, argumen ini semakin relevan.

Ke depan, sejumlah faktor memang berpotensi memicu koreksi harga emas, seperti meredanya ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, tekanan margin call di pasar saham, atau menurunnya kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve. 

Namun sebagian besar analis menilai bahwa jika koreksi terjadi, sifatnya cenderung sementara dan lebih dipandang sebagai peluang akumulasi.

Menurut Newman, penurunan harga emas yang signifikan dan berkelanjutan hanya akan terjadi jika latar belakang ekonomi dan geopolitik kembali stabil, sebuah skenario yang saat ini dinilai masih jauh dari kenyataan. 

Jadi, apakah emas sanggup menyentuh USD6.000?

Dari sudut pandang teknikal tren besar: iya, sanggup. Tidak ada satu pun indikator tren yang menunjukkan pelemahan struktural. Semua moving average masih mengarah naik, MACD positif dan melebar, ROC sangat tinggi, dan tidak ada divergensi bearish yang jelas.

Namun, dari sudut pandang timing: tidak langsung. Dengan RSI dan oscillator di level setinggi ini, emas hampir pasti butuh fase pendinginan—entah berupa konsolidasi di atas 5.000, atau koreksi terbatas yang justru berfungsi “membersihkan” overbought sebelum melanjutkan tren.

Dengan kata lain, USD6.000 lebih realistis dicapai sebagai hasil dari rangkaian leg naik, bukan lonjakan tunggal. Selama koreksi yang terjadi nanti tidak merusak struktur MA dan tidak menjatuhkan ADX secara drastis, koreksi justru akan memperkuat peluang emas untuk melanjutkan reli ke area psikologis berikutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79