KABARBURSA.COM – Ketakutan akan potensi perang besar dinilai telah mengubah cara investor global memandang risiko dan keputusan penempatan aset. Dalam situasi geopolitik yang terus memanas, logika investasi bergeser dari mengejar imbal hasil menuju upaya menjaga nilai aset.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan lonjakan harga emas sepanjang 2025 tidak lahir dari dorongan spekulatif semata, melainkan dari kekhawatiran yang semakin luas terhadap eskalasi konflik global. Ketegangan geopolitik membuat aset finansial dinilai semakin rentan.
“Arus dana masuk ke emas itu setelah itu setelah gejolak politik ya sehingga masyarakat ada ketakutan bahwa terjadi perang besar atau perang dunia ketiga, sehingga surat-surat berharga tidak berlaku, saham-saham tidak berlaku, sehingga mereka memindahkan dananya ke emas sebagai pelindung nilai,” ujar Ibrahim kepada KabarBursa.com, Selasa, 30 Desember 2025.
Menurut dia, rangkaian konflik yang terjadi di berbagai kawasan menjadi pemicu utama perubahan perilaku tersebut. Perang di Timur Tengah, konflik Rusia–Ukraina, hingga ketegangan di kawasan Asia Timur menciptakan persepsi bahwa risiko global tidak lagi bersifat lokal atau sementara.
“Geopolitik di Timur Tengah, kemudian di Eropa, antara Rusia dan Ukraina, kemungkinan akan terus terjadi,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan, ketegangan itu diperparah oleh keterlibatan banyak pihak dalam konflik bersenjata, yang membuat eskalasi berlangsung lebih lama dan sulit diprediksi. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mempertanyakan daya tahan instrumen keuangan konvensional.
“Ya karena perlombaan persenjataan di situ terjadi antara NATO, Amerika, dan Rusia,” ujarnya.
Dalam situasi seperti ini, emas kembali dipandang sebagai aset yang lebih “nyata” dibandingkan surat berharga atau instrumen pasar keuangan. Pergeseran tersebut menandai perubahan orientasi investor, dari sebelumnya berfokus pada imbal hasil menuju perlindungan nilai.
“Nah, ini yang sebenarnya membuat harga emas dunia melabung tinggi dari level terendah ke level tertinggi,” kata Ibrahim.
Ia menilai, selama ketegangan geopolitik global belum mereda, kecenderungan investor untuk menempatkan dana pada aset lindung nilai akan tetap berlanjut. Perubahan ini mencerminkan upaya pelaku pasar menjaga stabilitas kekayaan di tengah ketidakpastian yang semakin dalam.(*)